Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Apresiasi Sang Master

Matahari pagi di pesisir utara perlahan-lahan merayap naik, memantulkan kilau keemasan di atas permukaan air laut yang tenang bergelombang kecil. Udara pagi itu terasa sejuk, membawa aroma khas garam laut yang bercampur dengan wangi serbuk kayu jati segar yang baru diserut. Di galangan kapal tradisional milik Pak Abidin, kesibukan harian telah dimulai sejak azan subuh berkumandang dari surau tua di ujung kampung. Suara hantaman palu besar pada pasak kayu, deru gergaji tangan, dan sesekali gelak tawa para buruh berpadu menciptakan simfoni kehidupan nelayan yang keras namun penuh gairah.

Bara berdiri seorang diri di hadapan sebuah lambung perahu besar berukuran sepuluh meter yang hampir rampung sepenuhnya. Pakaian kerjanya tampak sederhana—kaus oblong abu-abu yang dipenuhi noda serbuk kayu dan celana kain tebal yang berdebu. Tangannya yang dulu mulus kini dipenuhi kapalan tebal di setiap ruas jarinya, menjadi saksi bisu atas kerja keras dan cucuran keringat yang telah ia curahkan selama berbulan-bulan di tempat tersebut. Ia memegang sebatang amplas halus, dengan teliti meratakan permukaan papan kayu di bagian buritan perahu agar terasa licin dan sempurna tanpa ada cacat sedikit pun.

"Heh, Anak Kota! Jangan terlalu teliti begitu, perahu itu bukan mau dibawa ke kontes kecantikan di istana," seru Dadang, buruh senior bertubuh gempal, sambil tertawa renyah berjalan mendekat membawa seember cairan pelapis anti-bocor. "Kalau terlalu lama di bagian itu, bagian haluan bisa terbengkalai."

Bara mendongakkan kepala, balas tersenyum tipis menyambut candaan rekan kerjanya itu. "Biar saja, Mang. Kalau dasarnya tidak rapi, nanti perahunya gampang bocor saat dihantam ombak besar di tengah laut."

Bara memang tidak sedang main-main dengan pekerjaannya. Sejak ia kembali dari kunjungan singkatnya ke ibu kota untuk menengok sang ibu yang sempat sakit, tekadnya di galangan kapal itu semakin bulat. Ia tidak ingin lagi dianggap sebagai anak manja yang hanya bisa berlari dari masalah. Target utamanya hari ini sangat jelas: ia ingin merampungkan seluruh detail akhir dari lambung perahu pesanan nelayan lokal tersebut sebelum matahari terbenam, sekaligus membuktikan kepada Pak Abidin bahwa ia mampu bekerja secara profesional layaknya tukang kayu berpengalaman.

Di balik kesibukannya, ada sebuah harapan kecil yang tersimpan rapat di dalam dadanya. Selama berminggu-minggu bekerja di bawah pengawasan ketat sang master perahu, Pak Abidin dikenal sebagai sosok yang sangat pelit memberikan pujian. Pria tua itu tidak pernah segan-segan membentak atau menyuruh membongkar ulang pekerjaan buruhnya jika ditemukan kesalahan sekecil apa pun. Bara sangat mendambakan sebuah pengakuan—bukan sekadar gaji harian, melainkan sebuah apresiasi tulus dari Pak Abidin yang menunjukkan bahwa jerih payah, keringat, dan air matanya selama merantau benar-benar dihargai secara nyata.

"Bar, dipanggil Ki Abidin ke ruangannya sekarang," panggil seorang buruh muda bernama Rian yang berlari kecil menghampiri sudut tempat Bara bekerja.

Jantung Bara berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia meletakkan amplas di tangannya, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu mengangguk mantap. "Baik, aku ke sana sekarang."

Langkahnya terasa mantap namun dipenuhi rasa penasaran. Ia menyusuri jalan setapak berpasir menuju kantor kecil Pak Abidin yang terletak di dekat pintu masuk galangan. Bangunan kayu sederhana itu selalu menjadi tempat paling sakral di kawasan tersebut, tempat di mana cetak biru rancangan perahu disimpan dan keputusan-keputusan besar diambil.

Sesampainya di depan pintu kantor yang terbuka separuh, Bara mengetuk kusen kayu pelan.

"Masuk," suara berat dan serak Pak Abidin terdengar dari dalam.

Bara mendorong pintu, melangkah masuk ke ruangan yang dipenuhi aroma khas kertas cetak biru dan tembakau linting. Pak Abidin tampak duduk di kursi kayunya yang sudah usang, mengenakan topi jerami kesayangannya sambil merapikan beberapa dokumen pencatatan kayu. Di atas meja di hadapannya terbentang sebuah sketsa kasar rancangan lambung perahu terbaru yang baru saja diselesaikan oleh Bara kemarin sore.

"Ada apa, Ki?" tanya Bara sopan sambil berdiri tegak di hadapan meja kerja sang master.

Pak Abidin tidak langsung menjawab. Pria tua itu mengangkat wajahnya, menatap Bara tajam melalui kacamata baca berbingkai kawat yang melorot di hidungnya. Tatapan itu selalu berhasil membuat siapa pun merasa diuji, seolah sedang dibedah hingga ke akar-akar niat hatinya.

"Duduklah, Bar. Tidak usah tegang begitu," ujar Pak Abidin dengan nada datar namun tidak seketus biasanya.

Bara menarik kursi kayu kecil di dekat meja, lalu duduk dengan tenang. Ia menatap sketsa rancangan di atas meja yang ternyata adalah hasil coretan evaluasi pekerjaannya sendiri.

Lihat selengkapnya