Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Panen Raya Gambir

Fajar Agustus 2026 menyingsing di atas perbukitan Desa Wanasari dengan sapuan warna jingga keemasan yang menembus sela-sela kabut tipis. Udara pagi terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang, namun geliat aktivitas di kampung agraris ini sudah mulai berdenyut sejak ayam jantan pertama berkokok. Di halaman-halaman rumah warga, suara gesekan bilah bambu dan derit wadah penampungan getah berpadu menciptakan simfoni pedesaan yang khas.

Musim panen raya gambir yang telah dinanti-nantikan selama berbulan-bulan akhirnya tiba di ambang pintu. Hamparan tanaman gambir di sepanjang lereng bukit tampak menghijau subur, siap dipetik daun mudanya oleh tangan-tangan cekatan para buruh tani lokal. Suasana pagi itu dipenuhi oleh aroma tanah basah yang bercampur dengan bau khas dedaunan segar, menandakan dimulainya babak kerja paling krusial dalam siklus agraris tahunan masyarakat Wanasari.

Bara berdiri di beranda rumah singgah sambil mengenakan jaket kain tebal dan sepatu bot karetnya. Sebagai asisten pengelola administrasi perkebunan yang baru, ia merasakan degup jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Tanggung jawab besar kini berada di pundaknya untuk memastikan seluruh proses logistik dan pendataan panen raya berjalan tanpa celah.

"Pagi sekali kamu sudah siap, Bara," sapa Mang Oleh yang keluar dari dapur sambil membawa cangkir tanah liat berisi kopi hitam panas.

Bara menoleh dan tersenyum ramah. "Iya, Mang. Hari ini hari pertama persiapan panen raya. Saya ingin memastikan semua daftar kelompok tani dan alat-alat penimbangan sudah siap di gudang utama."

"Bagus kalau begitu etos kerjamu. Panen raya kali ini adalah penentuan hajat hidup seluruh warga dusun, jadi ketelitianmu sangat diandalkan," timpal Mang Oleh serius sambil menyerahkan cangkir cadangan kepada Bara.

❖ ❖ ❖

Bara meneguk kopi hitam hangat itu perlahan, meredakan dingin yang merayap di tenggorokannya. Di dalam saku jaketnya, ia menyimpan buku catatan harian serta daftar distribusi logistik yang harus divalidasi hari ini sebelum matahari meninggi. Target utamanya jelas: memastikan seluruh kelompok tani di empat sektor lereng bukit mendapatkan pasokan karung penampung dan alat pemeras yang layak.

"Apakah logistik dari kecamatan sudah tiba semalam, Mang?" tanya Bara sambil memeriksa kembali pulpen dan lembar catatan di tangannya.

"Sudah, diantar dua truk bak terbuka tepat tengah malam tadi. Sekarang semuanya sudah menumpuk rapi di gudang pusat," jawab Mang Oleh mantap. "Tugasmu sekarang adalah memimpin apel singkat bersama para ketua kelompok tani dan membagikan jatah alat kerja secara adil."

Bara mengangguk paham. Pengalamannya bekerja di lingkungan korporasi besar di ibu kota memberinya bekal manajerial yang baik, namun menghadapi dinamika warga desa membutuhkan pendekatan yang jauh lebih humanis dan sabar. Tidak boleh ada kecemburuan sosial atau selisih data sekecil apa pun yang bisa memicu perpecahan di antara kelompok tani.

"Baik, Mang. Saya akan langsung turun ke gudang utama sekarang untuk menemui Pak Abidin dan para ketua kelompok tani," ujar Bara berpamitan.

"Hati-hati di jalan setapak, Bar. Lumpur sisa hujan kemarin sore masih cukup licin di tikungan bawah," pesan Mang Oleh sebelum Bara melangkah meninggalkan halaman rumah singgah.

Langkah kaki Bara membawa menuruni jalan setapak berpasir halus menuju kompleks gudang perkebunan yang sudah dipadati oleh puluhan warga. Suara gelak tawa dan obrolan antarpetani menyambut kedatangannya, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan penuh semangat gotong royong.

❖ ❖ ❖

Setibanya di halaman gudang utama, Bara langsung disambut oleh Pak Abidin yang berdiri di atas bale-bale bambu sambil memegang pengeras suara portabel sederhana. Di sekelilingnya, para ketua kelompok tani dari berbagai dusun tampak duduk melingkar di atas bangku kayu, menunggu instruksi resmi pembukaan persiapan panen raya.

"Nah, itu dia asisten muda kita sudah datang," seru Pak Abidin menggunakan pengeras suara, membuat puluhan pasang mata langsung tertuju kepada Bara.

Bara mempercepat langkahnya, sedikit tersenyum kikuk menyambut perhatian dadakan dari para sesepuh desa tersebut. Ia berjalan mendekati panggung kecil tempat Pak Abidin berdiri, lalu mengangguk hormat kepada seluruh warga yang hadir.

"Selamat pagi, bapak-bapak sekalian. Mari kita mulai rapat koordinasi singkat ini agar pembagian tugas panen raya hari ini berjalan lancar," ucap Bara dengan suara tegas namun tetap santun.

Suasana di sekitar gudang seketika menjadi tenang. Para petani mendengarkan dengan seksama setiap patah kata yang diucapkan oleh pemuda kota yang kini telah menjadi bagian penting dari denyut nadi perkebunan mereka.

"Silakan, Bara, jelaskan rincian distribusi alat dan jadwal penimbangan untuk minggu pertama panen ini," perintah Pak Abidin sambil menyerahkan mikrofon kepada Bara.

Bara menarik napas dalam-dalam, menenangkan sisa groginya, lalu membuka buku catatan besar di atas meja kayu. Ia tahu, momen ini adalah ujian nyata atas kapasitas kepemimpinannya di hadapan ratusan buruh tani Wanasari.

❖ ❖ ❖

Baru saja Bara membacakan alokasi jatah karung untuk kelompok tani wilayah barat, seorang pria berbadan tegap dengan parang terselip di pinggangnya tiba-tiba berdiri dari barisan belakang. Pria itu adalah Pak Jaka, ketua kelompok tani sektor utara yang dikenal vokal dan sering tidak sejalan dengan kebijakan pengurus lama.

Lihat selengkapnya