Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Kepulangan Sang Santri

Matahari siang mendesak turun tepat di atas pucuk-pucuk pohon kelapa, memancarkan terik menyengat yang membuat jalanan tanah berbatu di Desa Cibalik tampak bergetar oleh uap panas. Namun, di bawah naungan rindangnya pohon bambu di samping balai desa, suasana terasa jauh lebih teduh. Angin pegunungan berhembus pelan, membawa aroma khas jerami kering dan bunga kopi yang mulai mekar.

Hari itu adalah hari Jumat yang istimewa bagi warga dusun. Setelah salat Jumat berjemaah di masjid tua kampung, warga tidak langsung bubar kembali ke ladang. Mereka berkerumun di halaman balai desa, menyambut sebuah momen penting yang sudah dinanti-nantikan selama bertahun-tahun: kepulangan Varisha, putri tunggal Pak Abidin, sesepuh sekaligus guru mengaji paling disegani di wilayah tersebut. Varisha baru saja menyelesaikan masa pendidikannya selama enam tahun di sebuah pesantren besar di Jawa Timur.

Bara berdiri di antara kerumunan warga, mengenakan kemeja koko putih sederhana berlengan panjang dan peci hitam pinjaman dari Mang Karta. Sejak ancaman malam itu dari sang ayah, Bara memilih untuk membaur semakin erat dengan kehidupan warga dusun, mencari ketenangan sekaligus kekuatan spiritual dari kesederhanaan orang-orang di sekitarnya. Di sampingnya, Rinjani tampak berdiri dengan senyum cerah, merapikan selendang kain yang melingkar di bahunya.

"Sebentar lagi mobil pick-up bak terbuka yang menjemput Varisha dari terminal kabupaten akan sampai, Bara," bisik Rinjani antusias, menyenggol lengan Bara pelan. "Kamu pasti belum pernah kenal perempuan seperti Varisha. Dia tidak cuma cerdas, tapi hafal Al-Qur'an dan sangat lembut tutur katanya."

Bara menoleh, tersenyum kecil menanggapi antusiasme Rinjani. "Aku tidak sabar ingin melihat sambutan warga. Kelihatan sekali betapa dihormatinya keluarga Pak Abidin di desa ini."

"Tentu saja," timpal Mang Karta yang berdiri di sisi lain mereka sambil melinting rokok tembakau. "Pak Abidin adalah tiang moral desa kita. Dan Varisha adalah kebanggaan seluruh dusun. Kepulangannya selalu membawa berkah dan keteduhan tersendiri."

Tidak lama kemudian, suara deru mesin mobil pick-up tua terdengar memasuki halaman balai desa. Kendaraan berdebu itu melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan teras utama. Suasana seketika menjadi riuh oleh ucapan syukur dan senyum sumringah para warga yang merangsek maju untuk memberikan sambutan hangat.

❖ ❖ ❖

Pintu mobil pick-up terbuka. Pak Abidin, seorang pria paruh baya berwajah teduh mengenakan jubah putih sederhana dan kopiah putih, turun lebih dulu dengan senyum terkembang lebar. Ia langsung disambut oleh jabat tangan hangat dari para tetua desa. Sesaat kemudian, sesosok wanita muda turun dari bagian belakang kabin mobil.

Varisha melangkah anggun menyentuh tanah desa halamannya. Ia mengenakan gamis panjang berwarna hijau lumut lembut dan jilbab panjang senada yang menjuntai rapi menutupi dadanya. Wajahnya bersih, memancarkan ketenangan batin yang luar biasa, tanpa polesan riasan berlebihan namun dihiasi sorot mata yang tajam, cerdas, dan penuh kasih. Di tangannya, ia menenteng sebuah tas koper kain usang berisi tumpukan kitab-kitab tebal.

Tujuan utama kepulangan Varisha bukan sekadar melepas rindu kepada ayahnya, melainkan mengabdikan seluruh ilmu agama yang telah ia peroleh di pesantren untuk membangun generasi muda Desa Cibalik agar lebih berpendidikan dan berakhlak mulia. Ia ingin menghidupkan kembali madrasah sore yang sempat vakum serta membimbing anak-anak dusun mendalami ilmu agama dengan cara yang ramah dan menyenangkan.

"Selamat datang kembali di Cibalik, Neng Varisha!" sambut Rinjani riang, langsung menerobos kerumunan dan memeluk erat tubuh Varisha begitu gadis itu menginjakkan kakinya di teras balai desa.

Varisha membalas pelukan itu dengan hangat, tawa kecilnya terdengar merdu di antara riuhnya suara warga. "Terima kasih, Rinjani. Rasanya luar biasa bisa kembali mencium bau tanah kelahiran setelah sekian tahun di rantau."

Bara yang berdiri beberapa langkah di belakang Rinjani hanya mengamati interaksi penuh kehangatan itu dalam diam. Ada rasa takjub yang menyelinap di dalam hatinya. Di tengah dunia metropolitan yang serba cepat, kompetitif, dan penuh kepalsuan materialistis tempat ia dibesarkan, keberadaan sosok seperti Varisha tampak begitu asing namun sangat menenangkan—sebuah lambang kemurnian jiwa yang tidak tersentuh oleh ambisi duniawi.

"Mari, Nak Varisha, masuk dulu ke dalam balai. Ibu-ibu sudah menyiapkan jamuan teh hangat dan rebusan umbi di dalam," ajak Pak Kuwu ramah sambil membukakan pintu balai desa.

Varisha mengangguk sopan, membungkuk sedikit memberikan hormat kepada para sesepuh desa sebelum melangkah masuk. Namun, sesaat sebelum ia melewati ambang pintu, pandangan matanya sempat beradu pandang dengan Bara yang berdiri tenang di barisan belakang kerumunan.

❖ ❖ ❖

Pertemuan pandangan sekilas itu berlangsung hanya beberapa detik, namun meninggalkan kesan yang mendalam bagi keduanya. Varisha melihat sorot mata seorang pria muda dengan pancaran ketegasan dan luka batin yang tersimpan rapi, sementara Bara melihat kedalaman jiwa yang jernih di mata sang santri baru.

Sore harinya, setelah suasana balai desa mulai lengang dan para warga kembali ke rumah masing-masing, Rinjani mengajak Bara untuk mampir sejenak ke surau kecil di samping rumah Pak Abidin, tempat di mana Varisha biasa merapikan barang-barangnya sekaligus memulai persiapan mengajar anak-anak dusun.

"Bara, temani aku mengantar rantang kue ketan buatan ibu ke rumah Pak Abidin ya," ajak Rinjani ketika mereka berjalan menyusuri jalan setapak kampung.

"Tentu, Rinjani. Lagipula aku juga ingin menyerahkan beberapa buku catatan lamaku untuk anak-anak madrasah nanti," jawab Bara santai, membawa setumpuk buku di tangannya.

Setibanya di halaman rumah panggung Pak Abidin yang asri, terdengar suara merdu seseorang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan tajwid yang sangat indah dan syahdu. Suara itu milik Varisha, yang sedang duduk seorang diri di serai belakang rumah sambil merapikan kitab-kitab di atas meja kayu.

Rinjani mengetuk pintu kayu pelan sambil tersenyum. "Assalamualaikum, Varisha."

Varisha menghentikan bacaannya, menoleh ke arah pintu, lalu berdiri menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah. "Waalaikumussalam warahmatullah. Eh, Rinjani! Silakan masuk."

Pandangan Varisha beralih sejenak ke arah Bara yang berdiri di belakang Rinjani membawa setumpuk buku. Ada kilatan pengenalan di mata Varisha.

Lihat selengkapnya