Matahari sore di Lembah Selatan menggantung rendah, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah daun pohon gambir yang rimbun. Udara di sekitar kompleks pengolahan pascapanen terasa hangat dan lembap, bercampur dengan aroma khas getah daun yang direbus di dalam kuali-kuali tembaga raksasa. Di dekat gudang penyimpanan kayu bakar, kepulan asap putih tipis membubung perlahan ke langit sore, menciptakan suasana yang tenang sekaligus sibuk bagi para pekerja yang lalu-lalang memindahkan keranjang rotan penuh daun segar.
Bara berdiri di ambang pintu gudang pengolahan, mengenakan kemeja flanel lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana lapangan yang kotor oleh noda tanah merah. Tangannya memegang seikat catatan hasil sortir daun gambir untuk diserahkan kepada Pak Abidin. Transformasi fisik dan mental yang ia jalani selama berbulan-bulan di desa ini telah membentuknya menjadi sosok pria yang tenang, penuh perhitungan, dan memiliki ketahanan fisik yang luar biasa.
Namun, ketenangan sore itu mendadak terusik ketika suara langkah kaki asing terdengar mendekati area gudang. Di tengah deru mesin pengering tradisional dan suara gelak tawa para buruh tani, muncul sosok seorang perempuan berambut sebahu yang mengenakan kemeja putih rapi dan celana bahan kain krem—pakaian yang terlihat sangat kontras di tengah lingkungan perkebunan yang kotor dan berdebu.
Perempuan itu tampak sedang memegang selembar peta wilayah perkebunan sambil mengernyitkan dahi, berusaha menghindari genangan air sisa cucian daun gambir di dekat saluran drainase. Ia terlihat kebingungan mencari arah, seolah tersesat di labirin hijau Lembah Selatan.
"Maaf, permisi," suara lembut namun tegas memecah keheningan di antara tumpukan karung goni. "Apakah benar ini jalur akses menuju pondok utama Pak Abidin?"
Bara menoleh perlahan, menurunkan lembar catatan di tangannya, lalu menatap lurus ke arah perempuan asing tersebut. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang karena kehadiran sosok berpenampilan kota di tempat terpencil itu.
❖ ❖ ❖
Varisha—perempuan kota yang baru saja menginjakkan kakinya di Lembah Selatan—mengibas-ibas tangannya untuk menghalau debu halus yang beterbangan. Ia adalah seorang arsitek muda lulusan universitas ternama yang diutus oleh perusahaan mitra untuk meninjau langsung kondisi proyek tata ruang perkebunan gambir yang sempat bermasalah. Tujuannya hari ini sangat jelas: ia harus segera menemui pemilik perkebunan, Pak Abidin, guna menyerahkan revisi draf tata letak bangunan pengolahan sebelum batas waktu pengiriman laporan mingguan habis.
Namun, kenyataan di lapangan tidak seindah rencana di atas kertas. Sejak turun dari mobil sewaan di ujung desa tadi pagi, Varisha harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang berlumpur karena sopir lokal menolak mengantar kendaraannya masuk lebih dalam ke area perkebunan yang curam. Sepatu pantofel miliknya kini dipenuhi noda tanah liat, dan baterai ponselnya mati total akibat tidak mendapat sinyal seluler di tengah lembah terpencil ini.
"Kamu mencari pondok utama?" tanya Bara dengan suara bariton yang tenang, melangkah mendekat dari ambang pintu gudang sambil menyeka keringat di pelipisnya.
Varisha mendongak, menatap pria berpenampilan buruh tani di hadapannya dengan sebelah alis terangkat. Ia sempat mengira pria itu adalah salah satu pekerja kasar biasa, namun sorot mata Bara yang tajam dan cara berdirinya yang tegak menyiratkan ketenangan yang tidak lazim dimiliki oleh buruh lokal pada umumnya.
"Ya, benar," jawab Varisha dengan nada sedikit defensif, berusaha menjaga jarak dari cipratan air gambir. "Aku harus menyerahkan dokumen penting ini kepada Pak Abidin secepatnya. Tapi sepertinya aku tersesat di tempat antah berantah ini dan tidak ada satu pun orang yang bisa berbahasa formal di sekitar sini."
Bara tersenyum tipis mendengar keluhan Varisha. Ia melipat catatan di tangannya, lalu menyelipkannya ke dalam saku kemeja flanelnya. "Tempat ini memang bukan kota metropolitan yang dilengkapi penunjuk arah digital di setiap sudut jalan, Nona. Tapi orang-orang di sini tidak seburuk yang kamu bayangkan."
"Bukannya buruk, tapi komunikasi di sini sangat sulit," sangkal Varisha sedikit ketus, menunjukkan layar ponselnya yang mati total. "Ponsel mati, petanya tidak akurat, dan sepatuku sudah hancur total karena jalanan berlumpur ini."
"Kalau kamu terus berjalan lurus melewati gudang pengolahan ini dan mendaki jalan setapak berbatu di sebelah kiri, kamu akan sampai di pondok utama dalam waktu sepuluh menit," jelas Bara sabar, menunjuk arah yang dimaksud dengan gerakan tangan yang tegas. "Tapi dengan sepatu pantofel seperti itu, aku sarankan kamu berjalan lebih hati-hati agar tidak terpeleset di kubangan lumpur."
❖ ❖ ❖
Varisha menatap sekilas ke arah sepatu pantofelnya yang sudah kotor, lalu menghela napas panjang tanda frustrasi. Ia merasa terjebak dalam situasi yang sangat menyebalkan di hari pertama penugasannya. "Terima kasih atas informasinya," kata Varisha singkat, lalu berbalik badan hendak melanjutkan perjalanan seorang diri.
Namun, baru dua langkah ia berjalan di atas permukaan tanah yang basah dan licin akibat tumpahan air sisa rebusan gambir, tumit sepatunya tergelincir di atas batu kerikil tertutup lumut.
"Aduh!" pekik Varisha tertahan, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan nyaris terjungkal ke belakang menghantam tumpukan keranjang rotan.
Sebelum tubuhnya menyentuh tanah, sebuah tangan yang kokoh dan berurat mencengkeram lengan kanannya dengan cepat, menariknya kembali ke posisi seimbang. Bau khas getah gambir, kayu bakar, dan keringat segar langsung tercium samar ketika Varisha terdorong pelan membentur dada bidang Bara.
Bara menahan tubuh Varisha dengan sigap, memastikan perempuan itu berdiri dengan aman di atas tanah yang rata. "Sudah kubilang, jalur ini tidak ramah untuk sepatu kantoran," ucap Bara tenang, melepaskan cengkeramannya begitu Varisha berhasil berdiri tegak.
Varisha merapikan kemeja putihnya dengan tangan sedikit bergetar, wajahnya merona merah karena malu sekaligus kaget atas kejadian barusan. "Aku... aku bisa berjalan sendiri. Terima kasih," ujarnya dengan suara yang sedikit melunak, menatap wajah Bara dari jarak dekat. Untuk pertama kalinya, ia menyadari garis rahang pria di hadapannya yang tegas dan sorot mata yang memancarkan kedewasaan luar biasa.
"Sama-sama," jawab Bara singkat. Ia melihat map dokumen di tangan Varisha mulai basah terkena cipratan air gerimis sore yang mulai turun rintik-rintik. "Dokumenmu bisa rusak kalau terkena air hujan lembah. Musim hujan di sini datangnya cepat dan deras."
Varisha dengan panik melindungi map kertasnya menggunakan kedua tangan. "Astaga! Dokumen ini berisi revisi desain arsitektur yang harus disetujui hari ini juga!"
Bara mengamati map tersebut, lalu melirik ke arah langit mendung yang semakin gelap. "Kalau kamu memaksakan diri berjalan sendiri ke pondok utama dalam kondisi hujan seperti ini, bukan cuma dokumenmu yang hancur, kamu juga bisa tersesat di tengah hutan gambir saat malam turun."
"Lalu aku harus bagaimana? Berdiam diri di sini sampai pagi?" tanya Varisha frustrasi, menatap rintikan hujan yang mulai turun lebih lebat.
❖ ❖ ❖