Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Pesona di Balik Serbuk Kayu

Matahari baru saja melewati puncak langit, memancarkan terik hangat yang menyengat di atas kawasan pesisir utara. Udara siang itu terasa lembap dan padat, membawa aroma khas garam laut yang bercampur pekat dengan wangi serbuk kayu jati segar serta bau damar cair yang sedang dipanaskan di sudut galangan kapal tradisional milik Pak Abidin. Di tengah riuhnya suara hantaman palu besar pada pasak kayu dan deru mesin gergaji portabel, suasana di area kerja tampak begitu dinamis. Para buruh senior hilir mudik membawa balok-balok kayu berat, sementara keringat mengucur deras membasahi dahi mereka yang terpapar terik matahari tanpa ampun.

Di dekat lambung perahu pesanan nelayan yang hampir rampung sepenuhnya, seorang pemuda berdiri tegak dengan penuh konsentrasi. Bara—nama yang kini sudah melekat kuat di antara para pekerja pesisir itu—tampak sangat fokus memegang pahat tajam di tangan kanannya. Pakaian kerjanya sangat sederhana, hanya mengenakan kaus oblong putih polos yang sudah basah kuyup oleh keringat hingga menempel sempurna di kulit tubuhnya, serta celana kain tebal berdebu serbuk kayu.

Hilang sudah sosok pemuda kota yang rapuh dan tertekan beberapa bulan lalu. Tubuhnya kini jauh lebih padat dan berbinar, dengan otot-otot lengan yang menonjol tegas dan bidang dada yang bidang akibat tempaan kerja keras harian. Kulitnya yang dulu putih bersih kini berubah menjadi kecokelatan eksotis karena terbakar sengatan matahari pesisir. Setiap gerakan tangannya memahat kayu memancarkan aura ketenangan, kekuatan maskulin, dan kedewasaan luar biasa yang terpancar dari dalam dirinya.

Di antara kerumunan orang yang lalu-lalang di dekat jalan setapak galangan, sesosok gadis berpenampilan modis namun tampak kikuk berdiri terpaku. Namanya Varisha, putri bungsu dari seorang rekan bisnis terpandang ayah Bara di ibu kota, yang kebetulan sedang berlibur bersama keluarganya di kota pesisir tersebut dan memutuskan mendarat ke galangan atas rasa penasaran yang mendalam.

Varisha menatap lurus ke arah Bara tanpa berkedip. Matanya membelalak lebar, seolah tidak percaya dengan pemandangan luar biasa yang sedang disaksikan oleh kedua bola matanya sendiri. Ia mengenal Bara bertahun-tahun lalu sebagai pemuda kantoran yang kaku, pendiam, selalu mengenakan kemeja berkerah rapi, dan tampak begitu rapuh di balik meja kerja ber-AC di gedung pencakar langit ibu kota. Namun pria di hadapannya sekarang benar-benar jauh berbeda.

"Varisha, hei! Jangan melamun di tengah jalan berdebu ini, nanti sepatumu kotor terkena serbuk kayu," tegur sang ibu sambil merapikan payung kecil untuk melindungi putrinya dari terik matahari.

Varisha seperti tidak mendengarkan teguran ibunya. Tujuan awalnya datang ke tempat terpencil itu hanyalah untuk membuktikan kebenaran gosip keluarga tentang anak sulung keluarga Adiwangsa yang kabur menjadi kuli. Namun kini, tujuan itu buyar seketika, tergantikan oleh gelombang pesona visual yang menghantam batinnya telak tanpa persiapan.

Di seberang sana, Bara sama sekali tidak menyadari kehadiran gadis dari masa lalunya tersebut. Fokusnya sepenuhnya tercurah pada detail sambungan papan buritan perahu yang sedang ia kerjakan. Ia mengangkat palu kayu, mengetuk pahatnya dengan ritme teratur dan penuh perhitungan presisi. Setiap otot di punggung dan lengannya berkontraksi sempurna di balik kaus putih yang basah, menciptakan siluet tubuh atletis yang sangat memukau siapa pun yang memandangnya.

"Wah, luar biasa sekali pemuda itu," gumam Varisha pelan tanpa sadar, suaranya hampir tenggelam oleh deru suara gergaji mesin di dekatnya.

"Siapa yang kau maksud, Risha?" tanya sang ibu keheranan sambil mengikuti arah pandangan putrinya. Begitu melihat sosok Bara yang berkeringat deras sedang bekerja, sang ibu langsung mengernyitkan dahi. "Astaga, anak itu... Bukankah dia Bara? Kenapa dia jadi bertubuh seperti pekerja kasar begitu? Sungguh memalukan keluarga terpandang."

Varisha menggeleng pelan, manik matanya tidak lepas sedikit pun dari sosok Bara. Ada daya tarik yang begitu kuat dan memesona yang terpancar dari keringat, kerja keras, dan ketenangan jiwa pemuda itu—sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia temukan pada pria-pria manja di lingkaran sosialita ibu kota yang hanya bisa meminta fasilitas pada orang tua mereka.

"Ibu tidak mengerti," bisik Varisha lirih, napasnya terasa sedikit tercekat di tenggorokan. "Dia... dia terlihat jauh lebih hidup daripada saat kita melihatnya di pesta-pesta bisnis dulu."

Mang Dadang, buruh senior galangan yang kebetulan sedang melintas membawa seember paku kapal, menyadari kehadiran dua tamu asing berpenampilan rapi di dekat area kerja mereka. Ia menghentikan langkahnya sejenak, lalu melirik ke arah Varisha dan ibunya dengan tatapan menyelidik sebelum menghampiri mereka.

"Maaf, Nyonya dan Nona. Area ini khusus untuk pekerja galangan. Kalau mau jalan-jalan melihat perahu, silakan ambil jalur pinggir sebelah sana agar tidak terkena serpihan kayu tajam," ujar Mang Dadang ramah namun tegas dengan logat pesisirnya yang kental.

Varisha mengerjap kaget, tersadar dari lamunannya. Ia menatap Mang Dadang, lalu melirik kembali ke arah Bara yang masih sibuk memahat tanpa menyadari kehadiran mereka. "Ah, maafkan kami, Pak. Kami hanya... kebetulan lewat dan ingin melihat proses pembuatan perahu tradisional ini."

Mang Dadang tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Oh, silakan saja. Asal jangan mengganggu konsentrasi para tukang. Khususnya anak muda di sana tuh, si Bara. Lagi semangat-semangatnya dia menyelesaikan bagian buritan."

"Bara?" panggil Varisha pura-pura bertanya untuk memastikan. "Apakah pemuda itu benar-benar bernama Bara?"

"Betul sekali, Nona. Meskipun badannya sekarang penuh kapalan dan keringat, jangan salah, dia itu salah satu tukang paling diandalkan oleh Ki Abidin di galangan ini," jawab Mang Dadang dengan nada bangga. "Kerjanya teliti, tidak banyak mengeluh, dan tenaganya luar biasa kuat kalau sudah mengangkat kayu gelondongan."

Mendengar pujian itu, jantung Varisha berdegup semakin kencang. Bayangan Bara sebagai pria lemah yang dulu sering disembunyikan dalam bayang-bayang keluarga kini lenyap sepenuhnya, berganti dengan kekaguman mendalam yang kian membara di dalam hatinya.

Lihat selengkapnya