Matahari sore di akhir Agustus 2026 mulai merosot turun di balik punggung perbukitan Desa Wanasari, memancarkan bias cahaya keemasan yang hangat dan lembut ke atas jalan-jalan setapak berpasir halus. Udara sore hari membawa kesejukan yang sangat menyegarkan setelah seharian penuh dihantam terik matahari dan kesibukan urusan panen raya gambir di ladang. Di beranda-beranda rumah warga, aroma kayu bakar mulai mengepul dari dapur-dapur tradisional, berpadu harmonis dengan suara kokokan ayam penutup senja dan desir angin lembah yang menyapa pucuk-pucuk pohon pinus.
Bara berjalan seorang diri menyusuri jalan dusun utama setelah merampungkan seluruh laporan inventaris logistik di gudang perkebunan. Langkah kakinya terasa sedikit ringan meskipun otot-otot tubuhnya masih menyimpan sisa kelelahan akibat insiden longsor kecil di jalur utara siang tadi. Ia sengaja mengambil jalan memutar melewati kawasan balai dusun tua, menikmati kesunyian sore yang perlahan-lahan merayap menggantikan keriuhan aktivitas warga.
Di halaman samping balai dusun yang dinaungi oleh pohon besar berdaun rindang, tampak seorang gadis muda berpakaian gamis sederhana berwarna hijau lumut dengan selendang rajutan senada sedang merapikan beberapa keranjang bibit bunga pot. Gerakannya begitu tenang dan anggun, seolah tidak terusik oleh hiruk-pikuk dunia luar yang bising.
Bara memperlambat langkah kakinya tanpa sadar, terpesona oleh pemandangan yang begitu damai di hadapannya. Ia belum pernah melihat gadis itu sebelumnya di dusun ini, mengingat sebagian besar warga perempuan biasanya sibuk di dapur pada jam-jam menjelang magrib.
"Permisi, apakah bibit bunga itu perlu bantuan untuk dipindahkan ke tempat teduh?" sapa Bara ramah sambil mendekati pagar kayu rendah di tepi halaman.
Gadis itu mendongak perlahan, memperlihatkan wajah yang tenang dengan sorot mata jernih yang memancarkan ketulusan mendalam. Senyum tipis terukir di bibirnya, membuat suasana sore itu terasa semakin hangat bagi Bara.
❖ ❖ ❖
Varisha—nama yang kemudian diketahui Bara dari sapaan singkat saat itu—berdiri sambil menyeka telapak tangannya pada sehelai kain lap kecil yang ia bawa. "Ah, tidak perlu repot-repot, Mas. Bibit-bibit bunga ini sudah cukup aman di sini sebelum malam turun," jawabnya dengan suara lembut namun terdengar sangat jelas di antara desir angin sore.
Bara terpaku sejenak, merasakan debar jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada keanggunan dan kesopanan yang terpancar dari cara bertutur kata gadis tersebut, kontras dengan kepribadian orang-orang kota yang sering kali terburu-buru dan penuh kepalsuan. Tujuan awal Bara yang tadinya hanya ingin berjalan santai pulang ke pemondokan mendadak bergeser menjadi keinginan kuat untuk mengenali lebih dekat sosok asing yang misterius ini.
"Maaf kalau saya mengganggu pekerjaanmu, Mbak. Saya Bara, asisten pengelola perkebunan yang baru bertugas di dusun ini beberapa minggu terakhir," ucap Bara memperkenalkan diri sambil merapatkan kedua tangannya di depan dada secara sopan.
Varisha mengangguk pelan, tampak tidak terlalu terkejut mendengar perkenalan tersebut. "Saya sudah sering mendengar cerita tentang asisten baru dari kota yang membantu Pak Abidin merapikan pembukuan gudang. Nama saya Varisha."
"Varisha," ulang Bara dalam hati, menikmati pelafalan nama tersebut yang terasa begitu asing namun menenangkan di telinganya. "Jadi, kamu juga tinggal di sekitar dusun ini? Kenapa saya baru melihatmu hari ini?"
"Saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah pengolahan kerajinan bambu di ujung lereng barat, membantu ibu merawat tanaman obat keluarga," jelas Varisha sambil merapikan sisa pot bunga di atas meja kayu.
Bara mengangguk paham. Perbincangan singkat di bawah naungan pohon rindang itu mengalir begitu natural tanpa ada kecanggungan sama sekali. Di tengah misi pencarian rahasia masa lalu mendiang ayahnya yang menegangkan, kehadiran Varisha memberikan ketenangan batin yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
❖ ❖ ❖
Matahari perlahan tenggelam semakin rendah, meninggalkan sisa cahaya kemerahan di cakrawala barat Desa Wanasari. Suara azan magrib mulai berkumandang sayup-sayup dari surau kecil di ujung dusun, menandakan waktu pertemuan singkat mereka harus segera diakhiri.
"Sepertinya sudah waktunya saya kembali ke pemondokan sebelum malam benar-benar gelap," kata Bara dengan nada sedikit menyesal karena obrolan mereka harus usai begitu cepat.
Varisha mengangguk sambil merapikan selendangnya yang sedikit bergeser tertiup angin senja. "Silakan, Mas Bara. Hati-hati di jalan setapak bawah, penerangan di sana masih agak kurang menjelang malam."
"Terima kasih atas waktunya, Varisha. Semoga kita bisa ngobrol lagi lain waktu," balas Bara tersenyum tulus sebelum membalikkan badan melangkah pergi meninggalkan halaman balai dusun.
Namun, di balik langkah kakinya yang perlahan menjauh, pikiran Bara sepenuhnya tertuju pada sosok gadis tersebut. Ada sesuatu dari diri Varisha yang mengingatkannya pada lembaran-lembaran catatan harian mendiang ayahnya—sebuah rahasia terselubung yang tampaknya juga diketahui oleh keluarga gadis itu.