Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Benang Merah Arsitektur

Matahari baru saja naik sepenggalah di atas cakrawala Lembah Selatan, menyisakan embun pagi yang berkilauan di ujung-ujung daun gambir. Udara pegunungan terasa begitu segar, bercampur dengan aroma tanah basah yang baru disiram gerimis semalam. Di blok perkebunan bagian utara, tanah liatnya terkenal sangat lengket dan licin jika tersiram air hujan. Di tempat inilah kesibukan harian para buruh tani mulai berdetak sejak fajar menyingsing, membawa keranjang rotan dan sabit tajam untuk memangkas tunas-tunas tua.

Bara berjalan menyusuri jalan setapak sambil mengenakan kemeja flanel usang dan sepatu bot lapangan yang sudah dipenuhi noda tanah merah. Tangannya memegang peta kontur revisi yang ia diskusikan bersama Varisha malam sebelumnya. Sebagai pria yang telah menghabiskan berbulan-bulan menempa diri di tanah ini, setiap jengkal kontur lereng bukit sudah dihafalnya di luar kepala. Namun, ketenangan pagi itu mendadak terusik oleh suara seruan tertahan dari arah lereng bawah, dekat saluran irigasi baru.

"Aduh...!" suara seorang perempuan terdengar memekik kecil, disusul suara benda jatuh dan cipratan air lumpur.

Bara menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia menoleh ke arah sumber suara, menyipitkan mata menembus rimbunnya barisan pohon gambir dan tanaman perdu. Di sana, di tengah kubangan jalur irigasi yang licin, tampak sosok Varisha sedang berjuang berdiri. Kemeja putih bersih yang dikenakannya kini ternoda bercak cokelat lumpur di bagian lengan dan lutut, sementara sepatu pantofel kantoran miliknya terperosok dalam ke dalam endapan tanah basah.

Varisha mengibas-ibaskan tangannya dengan ekspresi frustrasi, berusaha menarik salah satu kakinya yang tersangkut di dalam lumpur liat. "Sial... kenapa jalur ini tidak ada papan peringatannya sama sekali!" gerutunya setengah berbisik, wajahnya memerah karena menahan malu dan lelah.

Bara menarik napas panjang, tersenyum tipis melihat pemandangan tersebut, lalu segera mempercepat langkahnya menuruni lereng menuju tempat Varisha terjebak.

❖ ❖ ❖

Varisha datang ke area perkebunan utara pagi itu dengan satu tujuan spesifik: ia ingin memotret langsung kondisi drainase bambu dan sistem terasering yang dirancang oleh Bara, guna melengkapi laporan teknis peninjauan lapangan yang harus diserahkannya kepada perusahaan di kota. Sebagai arsitek junior yang perfeksionis, ia tidak ingin laporannya hanya berdasarkan asumsi data di atas kertas. Ia ingin membuktikan sendiri apakah teori tata ruang ramah lingkungan yang digagas Bara benar-benar bekerja secara efektif di lapangan.

Namun, ambisinya itu harus dibayar mahal dengan harga diri profesionalnya. Tanpa alas kaki yang memadai dan tanpa memahami karakter tanah liat Lembah Selatan, Varisha nekat menuruni lereng curam tanpa berpegangan pada tiang penyangga bambu yang telah disediakan para petani. Akibatnya fatal; ia terpeleset sejauh tiga meter dan jatuh tepat di tengah kubangan saluran air yang basah.

"Sudah kuduga, sepatu pantofelmu itu hobi sekali mencari masalah di tempat seperti ini," suara bariton yang tenang tiba-tiba memecah keheningan lereng.

Varisha mendongak dengan cepat. Ia melihat Bara sudah berdiri di tepi kubangan, melipat kedua tangannya di dada sambil menatapnya dengan senyuman geli yang tertahan.

"Bara?" seru Varisha, setengah kesal dan setengah lega melihat kehadiran pria itu. "Alih-alih berdiri di atas sana dan menertawakanku, lebih baik kamu turun dan tolong tarik aku keluar dari lumpur ini! Kakiku benar-benar tersangkut."

Bara tidak langsung mengulurkan tangan. Ia berjongkok di tepi jalur irigasi, mengamati posisi kaki Varisha yang terbenam di dalam endapan tanah liat basah. "Jangan ditarik paksa begitu. Kalau kamu tarik asal-asalan, sepatumu akan tertinggal di dalam lumpur, dan kamu justru bisa keseleo."

"Lalu aku harus bagaimana? Duduk manis di sini sampai sore?" balas Varisha ketus, wajahnya tampak semakin memerah karena menahan emosi.

"Dengarkan instruksiku," jawab Bara sabar. "Jangan bergerak secara tiba-tiba. Tumpu berat badanmu ke kaki sebelah kanan yang masih berada di atas batu karang, lalu perlahan lepaskan pijakan kaki kirimu dari isapan lumpur."

Varisha menuruti instruksi tersebut dengan hati-hati. Ia memindahkan tumpuannya, menarik kaki kirinya perlahan-lahan hingga akhirnya terlepas dari cengkeraman lumpur dengan suara plop yang cukup nyaring.

❖ ❖ ❖

Setelah berhasil membebaskan kakinya, Varisha berusaha melangkah maju untuk meraih tepian tanah yang kering. Namun, karena permukaannya yang sangat licin akibat sisa gerimis, keseimbangannya kembali goyah. Tubuhnya terayun ke depan dan hampir terjungkal untuk kedua kalinya ke dalam genangan air.

Sebelum Varisha sempat membentur tanah, Bara bergerak secepat kilat. Ia melompat turun ke dalam kubangan, merentangkan kedua tangannya dan menangkap pinggang Varisha dengan sigap, menarik tubuh perempuan itu ke dalam dekapannya untuk mengamankan keseimbangannya.

Untuk sepersekian detik, waktu di lereng perkebunan itu seolah berhenti. Varisha terpaku dalam dekapan Bara, merasakan kehangatan tubuh pria itu yang kontras dengan dinginnya udara pagi lembah. Aroma khas getah gambir, kayu manis, dan sabun mandi herbal tercium samar di indra penciumannya. Jantung Varisha berdegup kencang secara tiba-tiba, membuat napasnya tertahan di tenggorokan.

Bara menatap wajah Varisha dari jarak yang sangat dekat. Ia melihat kilat keterkejutan bercampur rasa salah tingkah di mata jernih perempuan kota tersebut.

"Sudah kubilang, medan di sini tidak bisa diajak kompromi hanya dengan mengandalkan tekad nekat," bisik Bara lembut tepat di dekat telinga Varisha, suaranya terdengar begitu menenangkan di tengah situasi yang canggung itu.

Varisha mengerjap beberapa kali, lalu buru-buru menegakkan tubuhnya, melepaskan diri dari dekapan Bara dengan pipi yang merona merah padam. "A... aku bisa menjaga keseimbanganku sendiri. Terima kasih," ujarnya terbata-bata, berusaha menutupi rasa salah tingkahnya dengan merapikan kemeja putihnya yang kotor oleh noda lumpur.

Bara tersenyum simpul, tidak ingin memperpanjang rasa malu perempuan itu. Ia membungkuk sebentar untuk mengambil sepatu pantofel Varisha yang tertinggal di dalam lumpur, lalu membersihkannya sebisanya menggunakan sehelai daun lebar.

"Sepatu kantormu ini sepertinya harus pensiun dini selama berada di Lembah Selatan," kata Bara menyerahkan sepatu tersebut kepada Varisha dengan nada bercanda.

Lihat selengkapnya