Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #38

Bayangan di Balik Daun Gambir

Matahari sore di Lembah Selatan mulai merosot turun di balik punggung bukit, menyisakan bias cahaya jingga keemasan yang memantul di atas hamparan daun-daun gambir yang basah karena sisa gerimis siang tadi. Udara di kompleks perkebunan terasa sejuk, membawa aroma getah tumbuhan yang khas berpadu dengan wangi tanah basah sehabis hujan. Di dekat pondok pengolahan utama, kesibukan para buruh tani perlahan mereda seiring dengan berakhirnya jam kerja harian mereka.

Pak Abidin, pemilik perkebunan yang disegani warga, berdiri di teras rumah panggungnya sambil menyesap kopi hitam dari cangkir tanah liat. Sorot matanya yang tajam dan sarat pengalaman mengawasi setiap sudut halaman. Namun, sore itu perhatiannya tidak tertuju pada tumpukan keranjang rotan atau hasil sadap getah yang melimpah, melainkan pada dua sosok muda yang berdiri tidak jauh dari pohon asam rindang di tepi halaman.

Di bawah naungan pohon tersebut, Bara dan Kinara—putri bungsu Pak Abidin yang baru saja kembali dari kota untuk menyelesaikan penelitian botani—tampak sedang asyik memeriksa beberapa lembar sketsa tata ruang dan sampel daun gambir. Mereka berbicara dengan nada suara yang pelan namun diwarnai gelak tawa kecil yang terdengar sangat akrab.

Pak Abidin menyipitkan matanya, mengamati gerak-gerik kedua anak muda itu dengan saksama. Garis-garis keriput di wajah lelaki tua itu mengetat perlahan, membentuk sebuah senyuman misterius di balik kepulan tipis asap rokok lintingan tembakaunya. Sebagai seorang ayah yang sangat melindungi putrinya, ia tahu betul bagaimana cara Kinara memandang seseorang yang menarik perhatiannya.

"Hmm... rupanya si anak kota ini tidak hanya pandai mencangkul tanah dan mengatur saluran air," gumam Pak Abidin pelan pada dirinya sendiri, sementara pandangannya terus terkunci pada Bara yang tengah menyerahkan sehelai daun gambir kepada Kinara dengan sentuhan tangan yang begitu hati-hati.

❖ ❖ ❖

Tujuan Pak Abidin sore itu sederhana namun penuh perhitungan: ia ingin memastikan bahwa kehadiran Bara—pemuda kota berlatar belakang keluarga ambisius yang sempat kabur dari rumah—tidak membawa pengaruh buruk bagi masa depan putrinya. Kinara adalah kebanggaan keluarga; ia baru saja menyelesaikan pendidikan tinggi di kota besar dan memiliki masa depan cerah sebagai peneliti botani. Pak Abidin tidak ingin konsentrasi putrinya terpecah oleh hubungan romantis yang rumit, terutama dengan seorang pemuda yang status sosialnya masih diselimuti teka-teki masa lalu.

Di sisi lain, Bara dan Kinara sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata tajam dari teras rumah panggung sedang mengawasi setiap gerak gerik mereka. Di bawah pohon asam, Kinara tengah menunjukkan hasil catatan lapangannya kepada Bara.

"Kalau pola penanaman gambir ini disesuaikan dengan kontur terasering yang kamu rancang, Bara, hasilnya pasti jauh lebih tahan terhadap erosi musim hujan," kata Kinara antusias, menatap lurus ke mata Bara dengan binar kagum di wajahnya.

Bara tersenyum tipis, merapikan helai rambut Kinara yang sedikit tertiup angin sore. "Teori botanimu memang luar biasa, Kinara. Tapi tanpa bantuan alam dan kesabaran para petani di sini, rancangan itu hanya akan menjadi garis-garis mati di atas kertas."

"Kamu selalu merendah," protes Kinara sambil tersenyum manis, memukul pelan lengan baju flanel Bara dengan gulungan kertas catatannya. "Padahal semua buruh di kebun ini sekarang memujimu sebagai arsitek muda paling berbakat yang pernah menginjakkan kaki di lembah ini."

Interaksi yang begitu natural dan penuh kehangatan itu berlangsung tanpa sekat. Bara, yang tadinya dikenal sebagai pemuda dingin dan penuh amarah pada keluarganya di kota, kini menjelma menjadi sosok pria yang hangat, sabar, dan penuh perhatian di dekat Kinara. Kedekatan terselubung yang telah terjalin selama beberapa minggu terakhir ini tumbuh begitu cepat, seiring dengan seringnya mereka berdiskusi mengenai proyek revitalisasi perkebunan gambir.

Namun, di balik keintiman tersebut, ada rasa cemas yang diam-diam menyelinap di benak Bara. Ia tahu betul siapa dirinya—seorang pemuda yang dalam waktu dekat harus kembali ke kota untuk menyelesaikan urusan keluarganya. Ia tidak ingin kehadiran Kinara menjadi beban emosional tambahan di tengah rumitnya konflik batin yang belum sepenuhnya usai.

❖ ❖ ❖

Pak Abidin yang mengamati dari kejauhan perlahan meletakkan cangkir kopinya di atas meja kayu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah turun dari teras rumah panggung, menuruni anak tangga kayu satu per satu dengan langkah yang masih tegap dan berwibawa. Suara derit sandal kayunya di atas tanah halaman membuat Bara dan Kinara tersadar dari percakapan mereka.

Kedua anak muda itu menoleh secara bersamaan. Begitu melihat sosok Pak Abidin berjalan mendekat dengan wajah datarnya, Kinara dengan cepat menarik sedikit jarak dari sisi Bara, merapikan lembar catatan di tangannya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Sore, Pak," sapa Kinara sedikit salah tingkah, mencoba bersikap senormal mungkin di hadapan sang ayah. "Kami sedang mendiskusikan sampel daun gambir untuk laporan penelitian tata ruang kebun utara."

Pak Abidin berhenti tepat di hadapan mereka berdua. Ia melirik sekilas ke arah tumpukan kertas sketsa di tangan Bara, lalu mengalihkan pandangannya menatap tajam ke dalam mata putrinya. "Penelitian botani kok pulangnya sampai sore begini? Apakah daun-daun gambir itu baru mau bicara kalau didekati pas matahari mau terbenam?" tanyanya dengan nada setengah berkelakar namun sarat akan selidik.

Kinara tersenyum canggung, menghindari tatapan langsung ayahnya. "Bukan begitu, Pa. Tadi kami sempat membahas kendala drainase di lereng timur sebelum mencocokkannya dengan sampel tanaman."

Bara berdiri tegak, menunjukkan sikap hormat yang sepantasnya kepada pemilik perkebunan yang juga telah menjadi guru kehidupannya selama di desa. "Maaf kalau kami terlalu lama berdiskusi di luar, Pak Abidin. Ide-ide Kinara sangat membantu penyempurnaan desain terasering yang sedang kuuji."

Pak Abidin mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada. "Pekerjaan di kebun ini memang butuh banyak kepala dan tangan, Bara. Tapi jangan sampai pekerjaan kantor membuat kalian lupa waktu. Sebentar lagi malam, embun lembah tidak baik untuk kesehatan kalau terlalu lama di luar."

"Baik, Pak. Saya mau pamit membereskan alat-alat dulu ke gudang," pamit Bara sopan, lalu segera berbalik menjauh untuk memberi ruang bagi ayah dan anak itu berbicara berdua.

❖ ❖ ❖

Setelah Bara agak menjauh, Pak Abidin menoleh menatap putrinya dengan tatapan menyelidik yang tidak bisa disembunyikan lagi. "Kinara," panggil pria tua itu dengan suara berat namun penuh kelembutan kebapakan. "Sejak kapan kamu jadi begitu rajin mendampingi buruh tani baru itu memeriksa kebun?"

Kinara merona merah, berusaha membela diri. "Bara bukan sekadar buruh tani biasa, Pa. Dia mahasiswa arsitektur cerdas yang kebetulan sedang belajar memahami alam. Pengetahuannya tentang tata ruang sangat membantu penelitian botanikaku."

Lihat selengkapnya