Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Meniti Jembatan Hati

Matahari baru saja naik sepenggalah, menyiramkan cahaya keemasan di atas permadani laut yang tenang di utara. Di galangan kapal milik Pak Abidin, kesibukan sudah mencapai puncaknya. Suara gesekan amplas kayu jati yang beradu dengan tekstur kasar kayu ulin menghasilkan melodi monoton namun menenangkan. Bara berdiri di sudut dermaga, memegang sebuah penggaris siku dan pensil tukang, mengukur presisi lengkungan haluan perahu pesanan nelayan. Rambutnya kini sedikit memanjang, seringkali terselip di balik telinga karena keringat yang mengalir deras, namun pandangannya tetap tajam, mencerminkan kedewasaan yang tumbuh dari ketekunan.

Beberapa ratus meter dari galangan, sebuah rumah kayu bergaya kolonial yang baru direnovasi berdiri angkuh menghadap pantai. Itu adalah kediaman sementara keluarga Varisha selama menghabiskan masa liburan panjang di pesisir ini. Di sana, Varisha sering terlihat berdiri di balkon, menatap ke arah galangan dengan binokular kecil di tangannya. Ia tidak lagi sekadar gadis kota yang modis, melainkan seseorang yang mulai belajar memaknai ketenangan hidup di desa, meski hatinya masih sering gelisah menanti kehadiran sosok pemuda yang bekerja di balik debu serbuk kayu tersebut.

Bagi Bara, waktu terasa bergerak melambat setiap kali ia menyadari bahwa gadis itu mungkin sedang mengamatinya. Keinginan untuk meninggalkan pekerjaannya barang sejenak dan berjalan menyeberangi pasir pantai menuju rumah itu muncul seperti pasang air laut—datang tiba-tiba dan sulit dibendung. Namun, setiap kali dorongan itu muncul, ia akan menarik napas panjang, mencium aroma damar yang tajam, dan memaksakan fokusnya kembali pada serat-serat kayu yang sedang dikerjakannya. Ia tahu, dalam posisi hidupnya yang sekarang, menuruti gejolak hati tanpa perhitungan matang adalah cara tercepat untuk menghancurkan kedamaian yang baru saja ia bangun dengan susah payah.

"Bar, kayu untuk bagian lunas ini sudah siap dipasang. Jangan terlalu lama melamun, nanti bagian tengahnya tidak simetris," tegur Pak Abidin dari balik tumpukan kayu, suaranya berat namun terselip perhatian.

Bara tersenyum, mengangguk cepat. "Siap, Ki. Saya sedang memastikan hitungan kemiringannya agar tidak meleset sedikit pun."

Tujuan Bara saat ini sangat sederhana namun terasa sangat berat untuk dijalani: menahan diri. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan perasaan personalnya kepada Varisha mengganggu integritas kerjanya. Setelah insiden kembalinya ia dari kota untuk menengok ayahnya yang sakit, Bara merasa bahwa prioritas utamanya adalah membangun kembali jati dirinya sebagai seorang pengrajin yang mandiri dan memiliki martabat. Ia tidak ingin dikenal sebagai pria yang hanya menghabiskan waktu untuk mengejar cinta anak seorang konglomerat, terutama ketika status sosial mereka masih terpaut sangat jauh.

"Bara, apakah kau akan pergi ke kedai kopi malam ini?" tanya Mang Dadang yang sedang mengaso sejenak sembari menyulut rokok klobotnya.

Bara menggeleng pelan, fokusnya tetap tertuju pada baut kapal. "Tidak, Mang. Saya ingin menyelesaikan detail finishing bagian kabin malam ini. Masih banyak yang harus dipastikan agar perahu ini layak melaut minggu depan."

"Padahal nona dari rumah besar itu sering menanyakan keberadaanmu lewat penjaga galangan," sambung Mang Dadang dengan nada menggoda.

Bara menghentikan aktivitasnya sejenak, menghela napas panjang. "Biarkan saja, Mang. Pekerjaan ini adalah tanggung jawab yang tidak bisa saya gadaikan hanya untuk obrolan ringan. Lagipula, dia memiliki dunianya sendiri, dan saya punya tanggung jawab yang harus saya selesaikan di sini."

Tujuannya bukanlah membenci atau menghindari Varisha secara kasar, melainkan mendisiplinkan hatinya agar tidak menjadi budak perasaan. Ia menyadari bahwa kedekatan yang intens dengan Varisha akan membuka celah bagi keluarga besar Adiwangsa untuk kembali mencampuri hidupnya. Bara ingin membuktikan bahwa ia bisa meraih kesuksesan dengan tangannya sendiri, tanpa bayang-bayang kekayaan orang tua maupun koneksi sosial yang dibawa oleh hubungan dengan Varisha. Ini adalah bentuk ujian kesabaran yang sesungguhnya—mengelola rasa rindu tanpa harus menjadikannya sebagai beban yang melemahkan tekad.

Hari-hari berikutnya berlalu dalam repetisi yang ketat. Bara menjadi sosok yang paling jarang terlihat meninggalkan galangan setelah matahari terbenam. Jika biasanya ia menyempatkan diri duduk di warung kopi untuk berbincang dengan warga desa atau belajar agama dengan Farhan, kini ia sering ditemukan terkunci di dalam bengkel kerja, sibuk mengasah perkakas atau membuat sketsa rancangan perahu baru. Kedisiplinan ini mulai disadari oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk Farhan.

Suatu sore, Farhan datang membawa beberapa kitab kecil sebagai bahan diskusi mereka. Ia menemukan Bara sedang duduk bersila, membersihkan pahat-pahatnya dengan minyak kayu putih.

"Kamu sepertinya sedang menghindari sesuatu, Bara. Atau mungkin, menghindari seseorang?" tanya Farhan dengan nada tenang, duduk di samping Bara tanpa merasa terganggu dengan serbuk kayu yang bertebaran.

Bara tidak langsung menjawab. Ia mengelap mata pahatnya hingga berkilau, lalu menatap Farhan dengan tatapan yang sedikit lelah. "Apakah terlihat sebegitu jelasnya?"

"Kesabaran bukan berarti mematikan perasaan, Bara. Tapi mengelola perasaan agar tidak menjadi tuan bagi akalmu," jawab Farhan dengan nada bijak. "Apa yang membuatmu merasa perlu menjaga jarak? Bukankah berbagi kebaikan dengan siapa pun, termasuk dengannya, adalah sesuatu yang baik?"

"Masalahnya bukan tentang berbagi kebaikan, Farhan. Masalahnya adalah tentang batasan," sahut Bara. "Aku merasa jika aku terlalu sering menemuinya, aku akan mulai berharap pada hal-hal yang sebenarnya belum bisa aku berikan. Aku tidak ingin dia terjebak dalam masalah keluargaku yang rumit. Aku ingin ketika aku berdiri di depannya suatu saat nanti, aku berdiri dengan kakiku sendiri, bukan sebagai pelarian yang sedang mencari perlindungan."

Farhan mengangguk mengerti, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka. "Kamu belajar tentang iffah atau menjaga kehormatan diri dengan sangat baik. Namun, jangan sampai kejaranmu akan martabat membuatmu kehilangan empati. Mengunjunginya bukan berarti menyerahkan harga dirimu."

Lihat selengkapnya