Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Kekaguman Varisha

Langit sore di kota metropolitan perlahan berubah warna menjadi gradasi jingga kemerahan, menyaput gedung-gedung tinggi yang menjulang angkuh di pusat kota. Di sebuah sudut kafe semi-outdoor yang dikelilingi tanaman rambat hijau, Varisha duduk gelisah di kursi kayu minimalis. Jarum jam dinding menunjuk tepat pukul empat lewat lima belas menit sore. Suara deru kendaraan yang padat merayap di jalan raya menciptakan simfoni perkotaan yang bising, namun gagal mengalihkan perhatian Varisha dari pintu masuk kafe tersebut.

"Mana dia? Biasanya Bara tidak pernah terlambat kalau buat janji penting seperti ini," gumam Varisha pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca secara berirama.

Di hadapannya, secangkir cappuccino hangat yang upanya perlahan mulai memudar mengepulkan aroma kopi bercampur susu yang khas. Varisha menghela napas panjang, merapikan helai demi helai jilbab pashmina berwarna pastel yang dikenakannya. Sebagai seorang perempuan yang hidup di tengah lingkaran sosial modern, Varisha terbiasa dengan ketepatan waktu dan dinamika pergaulan yang serba cepat. Namun, pertemuannya dengan Bara akhir-akhir ini sering kali membawanya pada ritme kehidupan yang sama sekali berbeda—ritme yang berakar kuat pada prinsip dan keyakinan spiritual yang mendalam.

Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu muncul dari balik pintu kaca. Bara berjalan tenang dengan mengenakan kemeja koko putih polos berlengan panjang yang dilipat rapi hingga siku, dipadukan dengan celana bahan gelap. Wajahnya bersih, memancarkan keteduhan yang selalu berhasil membuat Varisha merasa sejuk di tengah kepenatan hari itu.

"Maaf, Varisha. Saya terjebak macet lumayan panjang tadi di dekat persimpangan masjid raya," ucap Bara lembut sambil menarik kursi di hadapan Varisha sebelum duduk.

"Tidak apa-apa, Bara. Aku juga baru sampai beberapa menit yang lalu kok," jawab Varisha tersenyum, berusaha menutupi rasa penasarannya yang sejak tadi membuncah.

"Alhamdulillah kalau begitu. Mari kita pesan sesuatu dulu sebelum kita membahas proyek galeri seni amal yang kemarin sempat kita bicarakan," kata Bara seraya memanggil pelayan kafe dengan lambaian tangan sopan tanpa suara.

"Silakan, Bara. Kamu pesan apa saja yang kamu suka," balas Varisha, matanya diam-diam mengamati setiap gerak-gerik pria di depannya itu.

❖ ❖ ❖

Bara membuka buku menu kecil di atas meja, meliriknya sekilas sebelum memesan segelas air mineral hangat dan seporsi kecil kue pisang tradisional. Varisha yang sejak tadi memperhatikannya tidak bisa menahan diri untuk tidak bersuara.

"Bara, aku penasaran. Kamu tidak pernah memesan kopi atau minuman berkafein tinggi saat kita bertemu di kafe seperti ini. Padahal hampir semua orang seusia kita kecanduan kopi," tanya Varisha langsung pada inti rasa penasarannya.

Bara tersenyum tipis, menutup buku menu itu dan meletakkannya kembali ke tepi meja. Pandangannya beralih menatap Varisha dengan tatapan yang tenang dan penuh pertimbangan.

"Bukannya tidak boleh, Varisha. Hanya saja, saya berusaha menjaga tubuh agar tetap dalam kondisi terbaik untuk beribadah. Terlalu banyak kafein terkadang membuat ritme tidur saya berantakan, dan itu berimbas pada kualitas bangun malam saya," jawab Bara tenang.

Varisha mengerjap, terpaku sejenak mendengarkan jawaban tersebut. "Bangun malam? Maksudmu tahajud?"

"Iya, betul. Menjaga rutinitas itu butuh kedisiplinan fisik dan mental. Makanan dan minuman yang kita masukkan ke dalam tubuh sangat memengaruhi tingkat kekhusyukan kita saat berdiri di sepertiga malam terakhir," jelas Bara tanpa sedikit pun nada menggurui.

Mendengar itu, ada gelombang kekaguman yang tiba-tiba bergemuruh di dalam dada Varisha. Di era di mana anak-anak muda berlomba-lomba menghabiskan malam di tempat hiburan atau bekerja lembur demi ambisi duniawi, Bara justru dengan konsisten menjaga ritme hidupnya demi hubungannya dengan Sang Pencipta. Tujuan hidup Bara terlihat begitu tertata, bukan sekadar mencari kesuksesan material, melainkan mencari keridaan yang abadi.

"Kamu benar-benar konsisten ya, Bara. Prinsip agamamu itu... selalu tercermin dalam setiap hal kecil yang kamu lakukan," puji Varisha jujur, matanya berbinar menatap lurus ke arah Bara.

"Prinsip itu bukan untuk dipamerkan, Varisha. Itu adalah kompas hidup. Kalau kita tidak punya pegangan yang kuat, arus dunia ini akan dengan mudah menyeret kita ke arah yang salah," balas Bara merendah, tepat saat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.

❖ ❖ ❖

Suasana kafe mendadak berubah agak senyap ketika alunan musik instrumental akustik berganti dengan lagu bertema romantis yang diputar pelan dari pengeras suara ruangan. Pelayan meletakkan segelas air hangat dan kue pesanan Bara dengan hati-hati, lalu berlalu pergi setelah mengucapkan terima kasih.

Varisha menyesap cappuccino-nya yang kini nyaris mendingin. Pikirannya melayang jauh membandingkan gaya hidup Bara dengan lingkungan pergaulannya sehari-hari. Sebagai seorang kurator seni yang sering bergaul dengan para seniman bohemian, kebebasan tanpa batas adalah hal yang biasa ia temui. Namun, kedisiplinan spiritual yang ditunjukkan Bara memberikan perspektif baru yang menyegarkan sekaligus menampar nuraninya secara halus.

"Silakan dinikmati, Varisha," ucap Bara mempersilakan sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas kecilnya.

"Terima kasih, Bara," balas Varisha sambil meletakkan cangkirnya di atas piring kecil. "Ngomong-ngomong, aku sering mikir... bagaimana kamu bisa sekuat itu memegang prinsip di tengah lingkungan kerja kita yang serba fleksibel dan kadang mengabaikan batas-batas agama?"

Lihat selengkapnya