Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #45

Bara Meminta Restu

Sinar matahari sore menyusup lembut melalui celah-celah dedaunan pohon mangga yang rindang di halaman belakang rumah Pak Abidin. Suasana terasa begitu tenang, hanya ditemani oleh suara angin sepoi-sepoi yang menggerakkan dedaunan dan gemercik air dari kolam ikan kecil di sudut halaman. Di atas meja kayu jati berpelitur gelap, sepoci teh chamomile hangat dan beberapa piring kecil berisi jajanan pasar tertata rapi. Varisha duduk gelisah di kursi rotan, sementara ayahnya, Pak Abidin, tampak membaca sebuah koran sore dengan kacamata baca yang bertengger di ujung hidungnya. Pukul empat sore lewat sepuluh menit, bel pintu rumah berbunyi nyaring, menandakan kedatangan tamu yang sudah dinanti-nantikan sejak tadi.

"Biar aku yang buka pintunya, Ayah," kata Varisha cepat, berdiri dari tempat duduknya dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya.

"Silakan, Nak. Jangan biarkan tamu kita menunggu terlalu lama di depan pintu," jawab Pak Abidin tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran koran.

Varisha melangkah tergesa-gesa menuju pintu depan rumahnya. Ketika pintu terbuka, sosok Bara berdiri dengan tenang mengenakan kemeja koko abu-abu terang dan peci hitam yang membuatnya tampak sangat bersahaja. Di tangan kanannya, pemuda itu membawa sebuah parsel buah segar yang ditutup rapi dengan pita kain.

"Assalamualaikum, Varisha," sapa Bara ramah dengan senyuman tulus yang selalu berhasil menenangkan kekalutan di hati Varisha.

"Wa'alaikumussalam, Bara. Silakan masuk, Ayah sudah menunggu di halaman belakang," jawab Varisha tersenyum lebar, merasa lega melihat kehadiran pemuda itu tepat waktu.

"Alhamdulillah. Mari, kita temui Pak Abidin sekarang," balas Bara sambil melangkah masuk dengan sopan, menanggalkan sepatunya di teras rumah dengan rapi tanpa diminta.

❖ ❖ ❖

Bara dan Varisha berjalan berdampingan menuju halaman belakang tempat Pak Abidin duduk menanti. Setiap langkah kaki Bara terasa penuh perhitungan, mencerminkan ketenangan batin yang luar biasa. Di balik kedatangannya sore ini, Bara memiliki tujuan yang sangat besar dan sakral: ia ingin menunjukkan keseriusannya, integritas moralnya, serta rasa hormatnya yang mendalam kepada ayah Varisha, meskipun ia belum secara blak-blakan melamar perempuan itu pada pertemuan pertama ini.

"Selamat sore, Pak Abidin," sapa Bara dengan penuh takzim begitu mereka tiba di hadapan orang tua tersebut. Bara langsung membungkukkan sedikit badannya dan menyalami tangan Pak Abidin dengan gerakan yang sangat santun.

Pak Abidin melipat korannya, meletakkan kacamata di atas meja, lalu menyambut uluran tangan Bara dengan senyuman hangat. "Sore juga, Nak Bara. Silakan duduk. Varisha, tolong tuangkan teh untuk tamu kita."

"Baik, Ayah," jawab Varisha patuh, lalu segera menuangkan teh hangat ke dalam cangkir keramik untuk Bara.

"Terima kasih banyak, Varisha," ucap Bara lirih sembari menerima cangkir tersebut dengan kedua tangan. Ia lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan hati-hati. "Dan ini, Pak, ada sedikit buah segar untuk keluarga di rumah."

"Wah, repot-repot sekali kamu membawakan buah, Bara. Terima kasih banyak ya," ujar Pak Abidin mengapresiasi pemberian tersebut. "Bagaimana kabar pekerjaanmu di yayasan amal? Saya dengar minggu lalu sempat ada kendala perizinan gedung ya?"

Mendengar pertanyaan langsung dari calon mertua potensialnya itu, Bara tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia menatap lurus ke mata Pak Abidin dengan kejujuran yang terpancar nyata.

"Alhamdulillah, semua kendala sudah teratasi dengan baik, Pak. Memang sempat ada ujian kecil ketika izin dicabut secara mendadak, tapi kami memilih mencari lokasi alternatif yang bersih dan halal daripada harus berkompromi dengan cara-cara yang tidak benar," tutur Bara tenang, menjelaskan prinsip hidupnya secara tersirat di hadapan Pak Abidin.

❖ ❖ ❖

Pak Abidin mendengarkan penjelasan Bara dengan seksama. Kerutan di dahi pria paruh baya itu perlahan mengendur, digantikan oleh sorot mata penuh penghargaan. Sebagai seorang ayah yang telah makan asam garam kehidupan, Pak Abidin sangat menghargai kejujuran dan keteguhan prinsip moral pada anak muda zaman sekarang.

"Keputusan yang berani di tengah dunia kerja yang serba instan saat ini," komentar Pak Abidin pelan sambil menyeruput teh hangatnya. "Banyak anak muda seusiamu yang memilih jalan pintas demi kelancaran urusan. Kenapa kamu tidak mengambil jalan pintas itu, Bara?"

Varisha yang duduk di samping ayahnya menahan napas sejenak, merasa penasaran bagaimana Bara akan merespons pertanyaan filosofis yang cukup menguji mental tersebut.

Bara tersenyum tipis, merapikan duduknya agar tampak lebih sopan di hadapan orang tua Varisha. "Bagi saya, Pak, apa yang kita masukkan ke dalam hidup kita—baik itu rezeki, jabatan, maupun hasil kerja—akan membentuk karakter dan kelangsungan keturunan kita kelak. Kalau fondasinya tidak jujur dan tidak berkah, bangunan di atasnya akan mudah runtuh ketika diterpa badai."

Kalimat itu meluncur begitu natural dari bibir Bara, tanpa ada kesan menggurui atau mencari-cari muka. Transisi dari obrolan basa-basi sore hari kini berubah menjadi sebuah dialog batin yang sangat mendalam, menguji kualitas kepribadian Bara di hadapan seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya.

Lihat selengkapnya