Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #46

Ujian di Serambi Surau

Matahari pagi di Desa Cibalik merayap naik perlahan, membiaskan cahaya keemasan di antara celah-celah dedaunan mahoni yang basah oleh sisa embun malam. Udara pegunungan masih menyisakan hawa dingin yang menusuk kulit, membuat setiap embusan napas mengepulkan uap tipis di udara. Di serambi depan rumah panggung Pak Abidin, suasana terasa sangat tenang dan sakral. Bunyi gesekan bilik bambu dan suara kokok ayam jantan di kejauhan berpadu dengan ritme ketukan kayu ringan dari arah dalam surau kecil.

Hari itu, tepat di minggu ketiga kepulangan Bara ke desa setelah sempat kembali sejenak ke kota, Pak Abidin mengundang pemuda itu duduk berdua di serambi rumah. Tidak ada lagi ketegangan urusan korporasi atau ancaman penggusuran dari asisten perusahaan. Yang ada hanyalah hamparan hijau perkebunan kopi dan deretan kitab kuning tebal yang tersusun rapi di atas meja kayu beralaskan taplak kain putih bersih.

Bara duduk bersila di atas tikar pandan, mengenakan kemeja koko putih polos dan peci hitam sederhana. Di hadapannya, Pak Abidin duduk dengan postur tegap namun santai, mengenakan jubah putih tipis dan kopiah haji yang menunjukkan kearifan seorang ulama sepuh desa. Secangkir teh pahit hangat mengepulkan aroma melati di antara mereka, menciptakan atmosfer yang khidmat sekaligus mendebarkan bagi Bara.

"Sudah beberapa minggu kamu hidup membaur dengan warga dusun ini, Nak Bara," sapa Pak Abidin dengan suara berat namun menenangkan, memecah keheningan pagi. "Kamu sudah melihat bagaimana kerasnya kerja di ladang, bagaimana tulusnya senyum anak-anak madrasah, dan bagaimana teguhnya prinsip hidup yang dipegang Varisha."

Bara mengangguk khidmat, menunduk sedikit menghormati orang tua di hadapannya. "Benar, Pak Abidin. Desa ini telah mengubah cara pandang saya tentang dunia. Tapi saya tahu, perjalanan saya masih sangat panjang."

"Bagaimana kamu memaknai perjalanan itu dari sudut pandang agama?" tanya Pak Abidin tiba-tiba, menatap tajam mata Bara dengan sorot penuh selidik.

❖ ❖ ❖

Pertanyaan dari Pak Abidin itu bukan sekadar basa-basi pagi hari. Itu adalah sebuah gerbang ujian spiritual yang sesungguhnya. Tujuan Pak Abidin mengajak Bara berdiskusi mendalam adalah untuk menguji seberapa jauh keseriusan pemuda kota tersebut dalam mendalami nilai-nilai keagamaan, bukan hanya sekadar ikut-ikutan atau mencari pelarian sementara dari masalah keluarganya. Pak Abidin ingin memastikan bahwa hati Bara benar-benar tersentuh oleh hidayah, dan bahwa niat pemuda itu mendekati putrinya didasari oleh fondasi iman yang kokoh, bukan sekadar kekaguman sesaat.

Bara menarik napas dalam-dalam, meredakan debaran di dadanya. Tujuan Bara saat ini adalah menjawab setiap pertanyaan dengan jujur, mencerminkan kejernihan akal dan kerendahan hati seorang pencari kebenaran yang haus akan ilmu agama.

"Saya memahami, Pak Abidin," jawab Bara pelan namun tegas. "Selama hidup di kota besar, saya mengukur segala sesuatu dengan logika materi, untung dan rugi korporasi. Tapi setelah belajar di sini, saya menyadari bahwa hidup ini memiliki neraca yang jauh lebih abadi—neraca amal dan keridaan Sang Pencipta."

Pak Abidin mengangguk pelan, jemarinya memegang ujung tasbih kayu di tangannya. "Bagus kalau kamu sudah menyadari itu. Tapi pemahaman di kepala saja tidak cukup, Nak Bara. Agama Islam bukan sekadar teori di atas kertas atau hafalan dalil. Agama adalah amal perbuatan yang nyata dalam keseharian, terutama ketika seseorang diuji dengan kekuasaan dan harta."

"Bagaimana cara kita menjaga keimanan itu agar tidak goyah ketika kembali dihadapkan pada gemerlap dunia luar, Pak Abidin?" tanya Bara balik, menunjukkan keseriusannya untuk menimba ilmu.

"Dengan memahami konsep amanah dan ikhlas secara utuh," jawab Pak Abidin sambil membuka halaman salah satu kitab kuning di hadapannya. "Mari kita uji pemahamanmu tentang bagaimana seorang mukmin menyikapi ujian hidup dan kekuasaan."

❖ ❖ ❖

Pak Abidin menggeser kitab kuning tersebut mendekat ke arah Bara, menunjuk sebuah paragraf berbahasa Arab berharakat rapi. Varisha yang sejak tadi menyiapkan sarapan di dapur tampak mengintip dari balik tirai pintu bambu, memerhatikan jalannya diskusi penting antara sang ayah dan pemuda kota tersebut dengan sorot mata penuh doa.

"Bacalah penggalan bab tentang sabar dan syukur ini, Bara, lalu jelaskan bagaimana kamu menerapkannya dalam posisimu sebagai calon pemimpin perusahaan besar nanti," pinta Pak Abidin tenang.

Bara merapikan duduknya, merenungkan sejenak makna teks yang ditunjuk. Di bawah temaram cahaya matahari pagi yang menembus sela-sela atap serambi, Bara mulai menguraikan pemahamannya dengan suara yang jernih.

"Sabar bukanlah sikap pasrah tanpa usaha, Pak Abidin," ucap Bara memulai argumennya. "Dalam pandangan yang saya pelajari dari kitab-kitab dan pengamatan saya di desa ini, sabar adalah keteguhan hati dalam memegang prinsip kebenaran di tengah badai cobaan. Sedangkan syukur adalah menggunakan setiap nikmat kekuasaan dan harta yang dititipkan Allah untuk menegakkan keadilan bagi orang banyak, bukan untuk menindas yang lemah."

Pak Abidin tersenyum lebar, senyuman langka yang memancarkan rasa bangga yang tulus. "Jawaban yang sangat mendalam. Kamu tidak hanya membaca teksnya, Nak, tapi kamu meresapi esensinya dengan jiwa yang bersih."

Lihat selengkapnya