Matahari sore di Lembah Selatan menggantung rendah, memancarkan cahaya kekuningan yang menembus celah-celah rimbun perkebunan gambir. Udara terasa hangat dan lembap, membawa aroma getah daun yang direbus berpadu dengan debu jalan setapak. Di dekat pos pemilahan hasil panen, para buruh tani mulai mengemas peralatan kerja mereka seiring jam sore yang hampir usai. Namun, suasana di sudut dekat gudang pengolahan tidak setenang biasanya; sekelompok buruh tampak berkerumun di bawah pohon asam, berbicara dengan nada berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah paviliun tempat Bara biasa beristirahat.
Bisik-bisik itu telah berhembus sejak beberapa hari terakhir, menyebar dari mulut ke mulut di antara para pekerja kebun. Topik pembicaraan mereka tidak lain adalah kedekatan yang kian terlihat antara Bara—buruh tani pendatang yang baru beberapa bulan menginjakkan kaki di lembah—dan Kinara, putri kesayangan Pak Abidin, sang pemilik perkebunan. Bagi masyarakat desa yang menjunjung tinggi tradisi dan batasan sosial, hubungan antara seorang buruh harian dan anak pemilik lahan seluas ratusan hektare tentu menjadi bahan perbincangan yang empuk.
"Kau lihat sendiri kemarin sore?" bisik Mak Siti kepada rekan sesama pemilah daun, Siti, sambil menyeka keringat di keningnya dengan ujung kain selendang. "Mereka berdiri berdua di dekat saluran irigasi utara, asyik sekali melihat sketsa rancangan bangunan. Mana ada buruh tani biasa berani berdiri sedekat itu dengan Neng Kinara kalau tidak ada hubungan khusus."
"Iya, betul," sahut Siti menimpali dengan nada penasaran bercampur curiga. "Padahal Pak Abidin terkenal sangat melindungi anak gadisnya dari para pemuda pendatang. Aneh rasanya kalau beliau diam saja melihat si Bara itu terus-menerus mendampingi Kinara ke mana pun."
Di tengah desas-desus yang kian santer tersebut, Bara berjalan mendekati area gudang dengan membawa seikat dokumen tata ruang dan beberapa sampel daun. Langkah kakinya mendadak melambat ketika ia menangkap sorot mata penuh selidik dari para buruh yang langsung terdiam begitu ia melintas. Bara tahu persis apa yang sedang mereka bicarakan, namun ia memilih mengunci rapat mulutnya demi menjaga ketenangan di perkebunan itu.
❖ ❖ ❖
Tujuan Bara sore itu sangat sederhana: ia ingin menyelesaikan laporan evaluasi harian mengenai sistem terasering lereng utara dan menyerahkannya kepada Pak Abidin sebelum malam tiba. Namun, di balik urusan pekerjaan tersebut, Bara juga memiliki beban batin yang tidak ringan. Ia ingin membuktikan bahwa kedekatannya dengan Kinara bukanlah bentuk kelancangan atau ambisi terselubung untuk mendompleng status sosial keluarga pemilik perkebunan, melainkan murni ikatan profesional dan rasa hormat yang dilandasi nilai-nilai keimanan.
Di sudut lain perkebunan, Kinara pun merasakan dampak dari gosip yang beredar di kalangan warga desa. Beberapa perempuan paruh baya sempat menegurnya secara halus saat ia melintas di dekat sumur desa siang tadi, mempertanyakan sejauh mana kedekatannya dengan si pemuda pendatang. Tujuan Kinara hari ini adalah menemui ayahnya secara langsung untuk meluruskan segala kesalahpahaman sebelum gosip murahan itu mencoreng nama baik keluarganya maupun integritas Bara.
"Pa, aku dengar orang-orang di perkebunan mulai membicarakan kedekatanku dengan Bara," kata Kinara terus terang saat ia mendapati Pak Abidin sedang duduk di teras rumah panggung, menikmati secangkir kopi hitam hangat.
Pak Abidin tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopinya perlahan, lalu menatap putrinya dengan sorot mata tenang yang menyimpan segudang pengalaman hidup. "Desa ini kecil, Kinara. Daun yang jatuh saja bisa menjadi bahan perbincangan, apalagi kedekatan anak gadis pemilik kebun dengan seorang buruh tani pendatang yang punya masa lalu rumit."
"Tapi gosip mereka sudah mulai berlebihan, Pa," bela Kinara dengan nada sedikit geram. "Mereka menganggap Bara seolah-olah memanfaatkan posisiku. Padahal, semua yang kami kerjakan murni untuk kemajuan proyek revitalisasi perkebunan ini."
"Lalu, apa yang membuatmu begitu terganggu dengan ucapan mereka?" tanya Pak Abidin balik, menatap lurus ke dalam mata putrinya. "Apakah gosip itu tidak benar, atau justru ada perasaan di hatimu yang membenarkan kedekatan itu?"
Kinara terdiam seketika. Pertanyaan telak dari ayahnya itu membuat lidahnya kelu. Ia menyadari bahwa di balik alasan profesional pekerjaan, ada getaran rasa yang tulus tumbuh di hatinya untuk Bara—sebuah rasa yang selama ini mereka jaga dalam koridor kesucian dan nilai agama, namun tetap saja rentan di mata manusia yang suka menilai dari kulit luar.
❖ ❖ ❖
Bara, yang tidak tahu menahu percakapan antara ayah dan anak itu, terus melangkah menuju teras rumah panggung dengan membawa map dokumen di tangannya. Saat ia menaiki anak tangga kayu, ia langsung merasakan atmosfer ketegangan yang tidak biasa di udara. Pak Abidin menatapnya tajam, sementara Kinara berdiri di dekat jendela dengan wajah sedikit merona merah.
"Selamat sore, Pak Abidin, Kinara," sapa Bara dengan sopan, mencoba bersikap senormal mungkin meski ia bisa merasakan sorot mata tajam dari sang pemilik kebun.
"Sore, Bara," jawab Pak Abidin dengan suara berat yang khas. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja bambu. "Duduklah dulu. Kebetulan kita bertiga sedang membicarakan hal yang penting."
Bara menarik kursi bambu di hadapan mereka, lalu meletakkan map dokumennya secara rapi di atas meja. "Ada hal penting apa, Pak? Apakah ada masalah dengan hasil evaluasi terasering di blok utara?"
"Bukan soal saluran air atau tanaman gambir," sahut Pak Abidin to the point, menatap lurus ke arah mata Bara tanpa keraguan sedikit pun. "Hari ini telingaku panas mendengar laporan dari para buruh senior di gudang. Mereka mulai bergosip tentang kamu dan Kinara. Mereka bilang buruh tani baru bertingkah terlalu berani mendekati anak pemilik perkebunan."
Bara tertegun sejenak. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, namun ia tidak menunjukkan kepanikan. Sebagai mantan eksekutif muda di kota besar yang terbiasa menghadapi tekanan psikologis berat, gosip murahan di tingkat desa tentu bukan hal baru baginya, meski dampaknya kali ini menyangkut kehormatan wanita yang ia hormati.
"Saya minta maaf kalau kedekatan kami menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan pekerja, Pak," jawab Bara tenang, menjaga intonasi suaranya tetap rendah dan penuh rasa hormat. "Tapi saya pastikan, tidak ada satu pun tindakan saya atau Kinara yang melanggar batas etika maupun norma agama selama kami bekerja sama."
Kinara menoleh menatap Bara, merasa lega mendengar ketegasan dan kejujuran pemuda itu di hadapan ayahnya.
"Aku percaya pada kejujuranmu, Bara," ucap Pak Abidin perlahan, mengendurkan ketegangan di wajahnya. "Tapi di desa ini, persepsi masyarakat sama pentingnya dengan kenyataan itu sendiri. Kalau kamu ingin terus bertahan di sini dan membuktikan kesungguhanmu, kamu harus siap menghadapi mulut-mulut tajam yang meragukan integritasmu."
❖ ❖ ❖
Keesokan paginya, tensi di lingkungan perkebunan gambir terasa semakin nyata. Saat Bara berjalan menuju area pemilahan daun untuk memulai pekerjaannya, beberapa buruh senior yang biasanya menyapanya dengan ramah kini memilih membuang muka atau berbisik-bisik di belakang punggungnya. Bahkan Mbah Marto, buruh tua yang selama ini menjadi mentornya, tampak menggelengkan kepala pelan saat melihat Bara melintas.