Matahari pagi di lereng bukit perkebunan organik baru saja menampakkan sinarnya, menyembul di balik barisan pohon teh yang menghijau sejauh mata memandang. Udara pagi terasa begitu sejuk, menyusup melalui serat-serat kain jaket tebal yang dikenakan Varisha. Di bawah naungan pohon trembesi yang rindang, sebuah meja kayu panjang dikelilingi beberapa bangku sederhana menjadi tempat berkumpulnya para pekerja kebun lokal. Aroma kopi hitam tubruk bercampur wangi tanah basah sehabis embun pagi menguar di udara, menciptakan suasana pedesaan yang menenangkan dan jauh dari hiruk-pikuk kota metropolitan.
Varisha duduk di salah satu bangku kayu itu, memegang segelas teh hangat dengan kedua belah tangannya untuk mengusir sisa dingin pagi. Di hadapannya, Pak RT setempat sekaligus mandor senior kebun, Pakde Slamet, sedang menuangkan air panas dari termos besar ke dalam gelas-gelas bambu milik para pekerja lainnya.
"Minumlah tehnya, Neng Varisha, biar badannya tidak kedinginan kena angin pagi bukit," ucap Pakde Slamet ramah sambil tersenyum lebar, memperlihatkan kerutan di sudut matanya yang menandakan usia senja namun penuh semangat.
"Iiza, Pakde. Terima kasih banyak ya," balas Varisha tersenyum ramah, menyeruput teh hangat manis itu perlahan-lahan.
Beberapa meter dari tempat mereka duduk, Bara tampak sedang membantu beberapa pekerja muda merapikan kotak-kotak bibit tanaman organik di atas truk pikap kecil. Kemeja flanel lengan panjang yang dikenakannya tampak sedikit basah oleh keringat pagi, namun senyum tulus tidak pernah lepas dari wajahnya saat ia berinteraksi dengan para petani lokal tersebut. Kedatangan Varisha dan Bara ke perkebunan organik binaan yayasan amal itu bukan sekadar untuk urusan pekerjaan, melainkan sebuah kunjungan silaturahmi yang membawa makna mendalam bagi perjalanan hubungan mereka.
❖ ❖ ❖
Varisha mengamati setiap gerak-gerik Bara dari kejauhan. Ada binar kekaguman yang kembali berpijar di dalam matanya. Tujuan utama Varisha datang ke perkebunan ini sebenarnya adalah untuk menenangkan pikiran dari rentetan pesan misterius yang sempat mengganggunya beberapa hari lalu. Namun, melihat bagaimana Bara melebur begitu natural dengan para pekerja kebun—mendengar keluh kesah mereka, membantu mengangkat beban tanpa gengsi, dan berbicara dengan bahasa yang sangat membumi—memberikan tujuan baru bagi Varisha: ia ingin memahami lebih dalam akar ketulusan yang dimiliki pria tersebut.
"Nak Bara itu orangnya sabar banget ya, Neng," suara serak Pakde Slamet memecah lamunan Varisha, membuat perempuan itu sontak menoleh ke arah mandor paruh baya tersebut.
"Iya, Pakde. Aku juga sering kagum sama cara dia menghadapi berbagai masalah tanpa pernah terlihat marah atau mengeluh," aku Varisha jujur, menatap lurus ke arah Bara yang kini sedang tertawa kecil bersama seorang petani tua.
"Dulu, waktu pertama kali yayasan amal mengirim Nak Bara kemari untuk membimbing kelompok tani, banyak warga yang skeptis," cerita Pakde Slamet mengenang masa lalu sambil menyalakan rokok kreteknya pelan. "Mereka kira dia cuma anak kota sok tahu yang mau cari nama. Tapi setelah lihat sendiri bagaimana dia turun langsung ke lumpur, ikut mencangkul, dan tidak pernah membedakan status sosial, semua warga di sini langsung menaruh hormat yang tinggi."
Mendengar cerita itu, tujuan Varisha semakin bulat. Ia ingin memastikan bahwa keteguhan prinsip agama dan akhlak mulia yang ditunjukkan Bara bukanlah sekadar topeng pencitraan di hadapannya atau ayahnya saja, melainkan karakter asli yang terpancar konsisten di mana pun ia berada. Dan obrolan pagi bersama para pekerja kebun ini akan menjadi saksi kejujuran tersebut.
❖ ❖ ❖
Pakde Slamet meletakkan termos airnya di atas meja kayu, lalu menarik bangku mendekat ke arah Varisha. Beberapa pekerja kebun lainnya yang baru selesai merapikan bibit turut bergabung mendekat, duduk melingkar menikmati secangkir kopi panas di pagi yang cerah itu.
"Neng Varisha ini kelihatannya sudah sangat dekat ya dengan Nak Bara?" tanya Mak Jirah, salah satu pekerja perempuan paruh baya yang bertugas memilah daun teh, sambil tersenyum penuh arti.
Varisha merasakan pipinya mendadak hangat merona mendengar pertanyaan langsung yang menyentuh ranah pribadinya tersebut. Ia merapikan ujung jilbabnya sejenak sebelum menjawab dengan senyuman malu-malu.
"Ehm... kami memang sedang dalam proses saling mengenal lebih dekat, Mak," jawab Varisha jujur, suaranya terdengar lembut di antara desau angin pagi pegunungan.
Transisi dari percakapan santai seputar kegiatan perkebunan kini bergeser secara alami menuju obrolan hangat tentang restu sosial dan dukungan moral dari orang-orang sederhana yang tulus menyayangi Bara. Mak Jirah tertawa kecil melihat ekspripsi salah tingkah Varisha, membuat suasana terasa semakin akrab dan kekeluargaan.
"Alhamdulillah kalau begitu, Neng. Laki-laki sebaik Nak Bara itu langka di zaman sekarang. Kalau kalian nanti benar-benar bersatu dalam ikatan suci, kami semua di sini pasti jadi orang pertama yang mendoakan dan merestui," tutur Mak Jirah dengan nada suara yang sangat tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Varisha tertegun mendengar kalimat dukungan tersebut. Tidak ada pretensi duniawi atau kepentingan tersembunyi dari ucapan para petani kebun ini; yang ada hanyalah ketulusan murni dari orang-orang baik yang mengenal Bara apa adanya.
❖ ❖ ❖
Di tengah kehangatan obrolan pagi itu, ketenangan mendadak terusik ketika suara deru mesin mobil sedan mewah terdengar memasuki area jalanan tanah berbatu di tepi perkebunan. Mobil tersebut berhenti tepat di dekat area parkir truk pikap, menimbulkan debu tipis yang beterbangan tertiup angin.
Semua orang di meja kayu mengalihkan pandangan ke arah kendaraan asing tersebut. Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria berjas rapi dengan gaya rambut klimis melangkah keluar. Itu adalah Rian—rekan kerja lama Varisha yang beberapa waktu lalu sempat membuat keributan di rumahnya.