Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #52

Pembersihan niat: Bara dan Varisha sepakat

Dusun Gambir pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tebal menyelimuti lereng Bukit Barisan, membatasi pandangan hingga hanya beberapa meter di depan mata. Di pelataran masjid desa yang masih basah oleh embun, Varisha berdiri terpaku, menatap gumpalan awan rendah yang perlahan tersingkap oleh cahaya matahari yang mulai menyeruak. Ia mengenakan gamis berwarna sage dengan khimar senada, penampilannya yang sederhana kini tampak menyatu sempurna dengan ketenangan desa yang telah menjadi rumah keduanya selama setahun terakhir.

Di sudut lain pelataran, Bara baru saja keluar dari masjid. Ia tampak sedang melipat sarungnya dengan teliti sebelum menaruhnya di dalam tas kain. Pemuda itu mengenakan kemeja koko putih yang bagian lengannya sudah sedikit kusam karena sering dicuci, namun tetap tampak bersih dan rapi. Seperti biasa, Bara berjalan dengan langkah yang pasti namun tenang, matanya selalu terjaga menatap arah jalan di depannya. Ia adalah representasi dari kedamaian yang selama ini dicari oleh Varisha.

"Subuh yang luar biasa tenang, bukan?" sapa Varisha saat Bara melintas cukup dekat dengannya, namun tetap menjaga jarak sekitar satu meter.

Bara berhenti, lalu mengangguk singkat. "Iya, Varisha. Seolah alam pun ikut bersujud setelah semalam diguyur hujan."

Varisha mengamati guratan kelelahan di sudut mata Bara, namun ia juga melihat binar kejujuran yang tidak pernah meredup. "Kau terlihat kurang tidur, Bara. Apa koperasi masih menyita banyak pikiranmu?"

Bara menunduk, menatap ujung sandal jepitnya. "Bukan sekadar koperasi. Ada banyak hal yang sedang kupikirkan akhir-akhir ini. Tentang arah hidup, tentang keputusan-keputusan besar yang harus segera kuambil."

Varisha terdiam. Ia tahu betul apa yang dimaksud Bara. Setelah drama perjodohan yang batal dan pengusiran dari rumah orang tuanya, Bara kini berdiri di titik nol. Namun, ia tidak pernah terlihat putus asa. Ia justru tampak lebih kuat, lebih berhati-hati dalam setiap langkah yang diambilnya.

"Aku mengerti," sahut Varisha dengan nada lembut. "Terkadang, saat dunia terasa terlalu bising, kita memang perlu berhenti sejenak untuk mendengarkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh hati kita."

"Bagaimana denganmu?" Bara akhirnya memberanikan diri menatap sekilas ke arah Varisha sebelum kembali menunduk. "Apakah kau masih betah di tempat yang penuh dengan masalah ini?"

"Tempat ini bukan lagi soal masalah bagi saya," jawab Varisha tegas. "Ini tentang di mana kita merasa bisa menjadi diri sendiri di hadapan Tuhan."

❖ ❖ ❖

Tujuan hidup Bara dan Varisha kini telah berpindah dari sekadar pemberdayaan ekonomi desa menjadi pencarian arah yang lebih sakral. Mereka tidak ingin lagi terjebak dalam arus emosi atau tuntutan pihak luar. Keinginan terbesar mereka saat ini adalah menyelaraskan kehendak hati dengan kehendak Tuhan. Mereka sadar bahwa hubungan yang mereka jalani bukanlah sekadar ketertarikan fisik, melainkan sebuah ikatan yang seharusnya membawa mereka lebih dekat kepada Sang Pencipta.

"Bara," panggil Varisha saat mereka berjalan beriringan menuju arah balai desa. "Kita tidak bisa terus begini. Menjalani hari demi hari dengan pertanyaan besar tentang masa depan tanpa tahu apakah langkah kita sudah benar."

Bara mengangguk perlahan. "Aku merasakan hal yang sama. Kita terlalu banyak mendengar suara duniawi—tentang apa kata orang, tentang perjodohan itu, tentang masalah keluargaku. Aku ingin suara itu diam. Aku ingin mendengar apa yang benar-benar diinginkan Tuhan untuk kita."

"Apa rencanamu?" tanya Varisha.

"Aku ingin kita melakukan sesuatu yang selama ini mungkin kita abaikan karena ego kita sendiri," ucap Bara dengan nada rendah dan penuh keteguhan. "Aku ingin kita memohon petunjuk. Bukan petunjuk dari tetua, bukan dari orang tua, tapi petunjuk langsung dari Allah."

Varisha menatap Bara dengan tatapan penuh kekaguman. Itulah alasan mengapa ia begitu yakin dengan pria ini. Bara tidak pernah mengambil jalan pintas. Ia selalu berusaha kembali kepada Tuhan sebagai muara terakhir.

"Kau bicara tentang shalat istikharah?" tanya Varisha.

"Ya," jawab Bara. "Kita berdua akan melaksanakannya. Secara terpisah, dalam kerahasiaan yang paling dalam. Agar jika hasilnya memang jalan yang harus kita tempuh, maka itu adalah ketetapan-Nya, bukan paksaan dari keadaan."

Tujuan mereka kini bukan lagi tentang bagaimana meyakinkan warga atau orang tua, melainkan bagaimana membersihkan niat. Mereka ingin memastikan bahwa jika mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, maka penyatuan itu terjadi karena niat yang murni dan bersih dari segala kepentingan duniawi.

"Aku setuju," ujar Varisha dengan mata berkaca-kaca. "Jika itu memang jalannya, aku akan menjalaninya dengan segenap hatiku. Jika tidak, aku pun akan ikhlas melepasnya."

"Itu tujuanku," tambah Bara. "Memastikan bahwa apa pun yang terjadi, hati kita tidak lagi terikat pada makhluk, melainkan pada Sang Pencipta. Hanya setelah itu kita bisa bicara tentang masa depan."

Mereka berdua sadar bahwa ini adalah langkah yang sangat berani. Karena setelah shalat istikharah, mereka harus siap dengan jawaban apa pun yang muncul dalam hati mereka, bahkan jika jawaban itu adalah perpisahan. Itu adalah puncak dari kedewasaan spiritual yang selama ini mereka perjuangkan.

❖ ❖ ❖

Hari-hari setelah kesepakatan itu terasa lebih lambat namun sarat akan kontemplasi. Varisha dan Bara mulai membatasi interaksi mereka ke tingkat yang paling minimal. Mereka hanya berkomunikasi seperlunya terkait pekerjaan di koperasi, selebihnya mereka menyibukkan diri dengan ibadah dan introspeksi.

"Ada yang berbeda dengan kalian belakangan ini," komentar Pak Kades suatu sore. "Kalian terlihat lebih tenang, tapi juga terlihat lebih... berjarak."

Varisha tersenyum tipis. "Kami sedang mencoba untuk lebih fokus pada diri sendiri, Pak. Belajar untuk tidak terlalu bergantung pada pendapat orang lain."

"Baguslah," jawab Pak Kades. "Dunia ini terkadang memang terlalu banyak bicara, sampai-sampai kita lupa cara mendengar suara hati kita sendiri."

Transisi ini membawa dampak besar bagi mental keduanya. Varisha mulai menghabiskan malam-malamnya di rumah singgah dengan membaca tafsir Al-Qur'an dan memperpanjang durasi sujudnya. Ia tidak lagi gelisah memikirkan masa depan. Ia merasa ada kedamaian yang perlahan mengisi rongga hatinya yang dulu penuh dengan ketakutan.

Bara sendiri melakukan hal yang sama di gubuknya yang sederhana. Ia sering mendaki bukit kecil di belakang rumahnya saat tengah malam, mencari keheningan yang absolut untuk menundukkan egonya. Ia melepas bayang-bayang masa lalu tentang perjodohan, tentang kekecewaan orang tuanya, dan tentang harga dirinya yang sempat terlukai.

"Aku harus bersih," bisik Bara dalam doanya. "Aku tidak ingin menikahi Varisha hanya karena aku merasa bertanggung jawab atau karena aku merasa kehilangan. Aku ingin menikahi wanita ini karena aku memang memintanya untuk menjadi pendampingku dalam ibadah."

Di saat yang sama, Varisha juga melakukan pembersihan niat. Ia menyadari bahwa dulu, ia sempat memiliki sedikit ego dalam perjuangannya di dusun ini—keinginan untuk membuktikan diri bahwa ia mampu. Namun sekarang, ego itu mulai luruh. Ia ingin melayani desa karena itu adalah tugas yang diberikan Tuhan, dan ia ingin mencintai Bara karena itu adalah bagian dari fitrah yang suci.

Interaksi mereka di balai desa kini berubah total. Tidak ada lagi percakapan tentang impian masa depan yang muluk-muluk. Yang ada hanyalah diskusi teknis yang singkat, padat, dan sangat sopan. Mereka seolah sedang menjaga agar api istikharah mereka tidak padam oleh percakapan yang sia-sia.

Warga desa mulai menyadari perubahan ini. Mereka tidak lagi digosipkan, melainkan justru mulai disegani. Kehadiran mereka berdua kini terasa lebih berwibawa, lebih tenang, dan lebih fokus. Masa transisi ini bukan tentang menjauh, tapi tentang mendekatkan diri pada Tuhan agar mereka bisa sampai pada kesimpulan yang paling hakiki mengenai hubungan mereka.

❖ ❖ ❖

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Rintangan datang dalam bentuk ujian iman yang sesungguhnya. Seorang utusan dari orang tua Bara datang ke Dusun Gambir, membawa sebuah surat pernyataan yang berisi ancaman jika Bara tidak segera kembali ke desa asalnya untuk memenuhi janji pernikahan yang lama.

"Bara, ini bukan main-main," kata utusan tersebut di hadapan Bara dan Pak Kades. "Jika kau tidak pulang, ayahmu bersumpah akan mencabut hak waris dan memutus tali kekeluargaan selamanya. Dan gadis itu... dia sedang sakit parah karena memikirkanmu. Apa kau tega?"

Hati Bara bergetar hebat. Itu bukan ancaman biasa. Itu adalah ancaman yang menyentuh sisi kemanusiaan dan baktinya kepada orang tua. Di sisi lain, Varisha pun menerima tekanan dari Jakarta. Keluarganya memberikan ultimatum bahwa jika ia tetap bertahan di Dusun Gambir dengan pria yang dianggap "tidak punya masa depan", maka seluruh akses pendanaan untuk yayasan miliknya akan dihentikan.

"Varisha, ini kesempatan terakhirmu," kata suara dari seberang telepon yang tak lain adalah adiknya. "Pulanglah, ambil alih perusahaan, atau tinggalkan semuanya dan hidup miskin bersama pria desa itu. Jangan membuat Ayah semakin menderita dengan keputusan egoismu."

Rintangan ini terasa seperti tembok besar yang menutupi cahaya istikharah mereka. Bara merasa terpojok. Apakah ia harus mengorbankan bakti kepada orang tuanya demi cintanya pada Varisha? Apakah ia harus mengorbankan masa depan pribadinya yang sempat ia bangun dengan susah payah?

Varisha juga merasa terpojok. Ia melihat bagaimana koperasi desa sangat membutuhkan dana tersebut. Jika ia pergi, koperasi bisa kolaps. Jika ia bertahan, ia akan kehilangan segalanya, termasuk restu keluarganya.

Lihat selengkapnya