Matahari pagi di Desa Cibalik merayap naik perlahan, membiaskan cahaya keemasan di antara celah-celah dedaunan mahoni yang basah oleh sisa embun malam. Udara pegunungan masih menyisakan hawa dingin yang menusuk kulit, membuat setiap embusan napas mengepulkan uap tipis di udara. Di serambi depan rumah panggung Pak Abidin, suasana terasa sangat tenang dan khidmat. Bunyi gesekan bilik bambu dan suara kokok ayam jantan di kejauhan berpadu dengan ritme ketukan kayu ringan dari arah dalam surau kecil.
Hari itu, tepat setelah salat subuh berjemaah, Bara memutuskan untuk tidak langsung beranjak pulang ke pondok kayunya. Ia duduk bersila di atas tikar pandan di hadapan Pak Abidin. Secangkir kopi hitam pekat mengepulkan aroma harum biji kopi lokal yang diseduh langsung oleh sang guru ngaji sepuh. Namun, ketimbang menikmati kopi tersebut, perhatian Bara sepenuhnya tertuju pada jemputan takdir yang sudah tidak bisa ditunda lagi. Selama berminggu-minggu ia hidup menyamar di tengah kesederhanaan desa, menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya di balik pakaian koko usang dan peci pinjaman.
Pak Abidin duduk dengan postur tegap namun santai, mengenakan jubah putih tipis dan kopiah haji. Wajah tua itu memancarkan kearifan yang luar biasa, menatap Bara dengan sorot mata teduh seolah telah membaca isi hati pemuda di hadapannya.
"Ada sesuatu yang mengganjal di dadamu, Nak Bara," sapa Pak Abidin ramah sambil menyeruput teh hangatnya. "Sejak semalam, kulihat matamu menyiratkan gelombang pikiran yang berat."
Bara menarik napas dalam-dalam, meredakan debaran di dadanya yang mendadak terasa begitu kencang. "Benar, Pak Abidin. Ada rahasia besar yang selama ini saya simpan rapat-rapat dari warga desa, dan sudah saatnya rahasia itu saya buka di hadapan Bapak."
❖ ❖ ❖
Pengungkapan identitas asli ini bukan sekadar bentuk kejujuran moral, melainkan tujuan utama Bara untuk membersihkan hatinya dari segala kepalsuan sebelum ia melangkah kembali menghadapi badai korporasi di ibu kota. Selama ini, ia dikenal warga desa hanya sebagai pemuda kota biasa yang numpang tinggal di pondok Mang Karta. Namun, di balik penyamaran sederhana itu, tersimpan nama besar keluarga Adhitama—sebuah dinasti bisnis raksasa yang beberapa waktu lalu sempat mengirim utusan untuk menggusur tanah tempat tinggal para warga Cibalik.
Bara ingin memohon maaf secara langsung kepada Pak Abidin atas ancaman yang pernah dibawa oleh keluarganya, sekaligus membuktikan bahwa ketulusan hatinya selama berada di desa ini bukanlah sebuah sandiwara korporat. Ia ingin berdiri di hadapan sang sesepuh desa dengan kepala tegak, tanpa ada lagi rahasia yang disembunyikan.
"Silakan, Nak Bara," ucap Pak Abidin tenang, meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja kayu. "Kejujuran tidak pernah menjadi hal yang salah untuk diucapkan, sekecil atau sebesar apa pun beban rahasia itu."
Bara menunduk sejenak, merapikan lipatan kain sarungnya sebelum mengangkat wajah menatap lurus mata Pak Abidin. "Sebelumnya, saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Pak Abidin dan seluruh warga Cibalik. Selama ini, saya telah membohongi kalian semua tentang siapa diri saya yang sesungguhnya."
Pak Abidin tidak tampak terkejut sedikit pun. Ia hanya tersenyum tipis, seolah telah menduga pengakuan tersebut sejak hari pertama pemuda itu menginjakkan kaki di desanya. "Lanjutkan, Bara. Siapa sebenarnya dirimu di balik pakaian sederhana itu?"
"Nama lengkap saya adalah Bara Adhitama," ucap Bara perlahan namun tegas, menyebutkan nama marga keluarga konglomerat yang sempat menjadi momok menakutkan bagi warga dusun. "Saya adalah putra tunggal dan pewaris tunggal dari Grup Adhitama—perusahaan yang beberapa waktu lalu hampir merampas dan menggusur tanah perkebunan desa ini."
❖ ❖ ❖
Suasana di serambi rumah mendadak hening seketika. Angin pegunungan berembus pelan, menerbangkan ujung kain sarung Bara. Varisha yang kebetulan sedang melangkah membawa nampan berisi piring singkong ke serambi terhenti di ambang pintu. Tangannya bergetar kecil, sementara matanya menatap Bara dengan kilatan keterkejutan yang nyata. Selama ini, ia menduga Bara berasal dari keluarga berada, namun tidak pernah menyangka bahwa pemuda sederhana itu adalah pewaris mahkota korporasi raksasa yang menjadi musuh utama para petani lokal.
Pak Abidin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Wajah tua itu tetap tenang, tidak menunjukkan kemarahan maupun keterkejutan yang berlebihan.
"Jadi... kamu adalah darah daging dari Tuan Besar Tanuwijaya, pemilik modal besar yang hampir meratakan tanah leluhur kami dengan buldoser korporasi?" tanya Pak Abidin dengan suara berat namun tetap terjaga kelembutannya.
Bara menunduk dalam-dalam, rasa bersalah yang luar biasa menghantam rongga dadanya. "Benar, Pak Abidin. Dan saya sangat malu mengakui hal itu. Ayah saya melihat segala sesuatu dari sudut pandang keuntungan materi, tanpa peduli pada nasib rakyat kecil. Itulah sebabnya saya melarikan diri ke desa ini—mencari pelarian, mencari arti hidup, dan akhirnya... menemukan kebenaran yang tidak pernah saya temukan di istana ayah saya."
Varisha melangkah mendekat, meletakkan nampan di atas meja kayu dengan hati-hati. Gadis santri itu duduk di kursi sebelah ayahnya, menatap Bara lekat-lekat dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, Bara?" tanya Varisha lembut, suaranya mengandung nada kekecewaan kecil namun dipenuhi rasa penasaran yang besar. "Apakah selama ini keberadaan kami di sini hanya menjadi bahan pelarian dari masalah keluargamu?"