Matahari sore di Lembah Selatan kembali memancarkan bias cahaya keemasan yang hangat, menyapu pucuk-pucuk daun gambir yang tumbuh subur di lereng bukit. Udara pegunungan terasa sejuk, membawa aroma getah khas perkebunan berpadu dengan wangi tanah basah sehabis hujan ringan. Di teras rumah panggung utama, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya ketika badai ancaman hukum dan sengketa lahan nyaris meruntuhkan seluruh kerja keras warga desa.
Pak Abidin duduk bersila di kursi kayu jati tua, mengenakan kemeja koko putih polos dan sarung samarinda yang rapi. Di hadapannya tersaji secangkir kopi hitam pekat yang masih mengepulkan uap tipis. Pria paruh baya itu menatap lurus ke arah halaman depan, tempat Bara berdiri bersama Kinara. Setelah badai korporasi di ibu kota berhasil diredam dan dokumen gugatan sengketa dicabut secara permanen, Bara kembali ke lembah ini bukan lagi sebagai buruh tani pelarian yang menyembunyikan identitas, melainkan sebagai seorang arsitek muda yang membawa kehormatan dan integritas penuh.
Transformasi Bara selama berbulan-bulan di desa ini telah teruji oleh waktu dan cobaan. Meskipun kini ia berhak kembali menikmati status sosialnya sebagai putra pewaris tunggal keluarga konglomerat properti di kota besar, tabiat asli pemuda itu tidak sedikit pun bergeser. Ia tetap mengenakan pakaian sederhana, berbicara dengan santun, dan menunjukkan rasa hormat yang mendalam kepada orang-orang tua yang telah menempanya.
Pak Abidin menghembuskan napas perlahan, menikmati ketenangan sore itu sambil meresapi setiap perubahan besar yang terjadi pada diri Bara. Garis-garis keriput di wajah lelaki tua itu melunak, membentuk sebuah senyuman tulus yang jarang sekali diperlihatkannya kepada orang sembarangan. Bagi Pak Abidin, ujian sesungguhnya dari seorang pria bukan terletak pada seberapa banyak harta yang dimilikinya, melainkan bagaimana sikapnya ketika kekayaan dan kekuasaan kembali berada di dalam genggamannya.
❖ ❖ ❖
Tujuan Pak Abidin sore itu sangat jelas: ia ingin menguji integritas terakhir dari pemuda yang telah lama mencuri hati putrinya. Meskipun Bara telah membuktikan kejujurannya di hadapan hukum dan menyelamatkan lahan perkebunan gambir dari tangan-tangan serakah korporasi, Pak Abidin sebagai seorang ayah tetap ingin melihat apakah kembalinya kekayaan dan fasilitas mewah keluarga Pramudya mengubah tabiat mulia Bara. Apakah kesederhanaan dan ketulusan yang ditunjukkan pemuda itu selama menjadi buruh tani hanyalah topeng sementara, ataukah itu adalah prinsip hidup yang telah mendarah daging?
Di sisi lain, Bara berjalan mendekati teras rumah panggung bersama Kinara dengan langkah yang tegap namun penuh takzim. Tujuan Bara datang menghadap Pak Abidin sore ini bukanlah sekadar melaporkan hasil akhir penyelesaian sirkuit hukum di kota, melainkan menyampaikan niat suci yang telah lama ia simpan di dalam hatinya—meminta restu secara resmi untuk melamar Kinara di bawah naungan ridha Allah dan restu orang tua.
"Sore, Pak Abidin," sapa Bara dengan suara tenang dan penuh hormat, menghentikan langkahnya di hadapan teras rumah panggung.
Kinara berdiri beberapa langkah di belakang Bara, menundukkan pandangannya dengan rona merah tipis yang menghiasi pipinya. Ia tahu persis apa yang sedang diperbincangkan oleh dua pria paling penting dalam hidupnya itu.
Pak Abidin mengangkat cangkir kopinya perlahan, lalu meletakkannya kembali di atas meja kayu dengan bunyi dentingan kecil yang memecah kesunyian sore. "Sore, Bara, Kinara. Silakan naik dan duduklah. Sepertinya ada hal penting yang ingin kalian sampaikan di hadapanku."
Bara mengangguk pelan, lalu naik ke teras dan mendudukkan diri di kursi bambu yang berhadapan langsung dengan pemilik perkebunan tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menata kata-katanya, memastikan setiap kalimat yang keluar dari lisannya mencerminkan kesungguhan hati dan rasa tanggung jawab penuh sebagai seorang hamba Allah dan calon pemimpin keluarga.
❖ ❖ ❖
Suasana di teras rumah panggung mendadak terasa begitu hening. Desir angin lembah yang menerobos celah-celah dinding kayu seolah ikut mendengarkan percakapan yang akan segera dimulai. Pak Abidin menyandarkan punggungnya ke kursi jati, melipat kedua tangannya di atas meja, lalu menatap tajam ke dalam mata Bara dengan sorot penuh pengalaman hidup.
"Aku dengar dari berita media massa beberapa hari lalu, perusahaan ayahmu di kota besar telah mencabut seluruh gugatan dan bahkan mengalihkan sebagian saham proyek pembangunannya untuk mendukung program konservasi lingkungan berbasis masyarakat," buka Pak Abidin memulai percakapan, suaranya terdengar berat namun berwibawa. "Dan posisimu di sana kini telah dikembalikan sebagai direktur utama yang memegang kendali penuh."
Bara mengangguk tenang, tidak ada secercah pun keangkuhan di wajahnya mendengar pujian tidak langsung tersebut. "Benar, Pak Abidin. Ayah saya sudah menyadari kesalahan masa lalunya. Kami sepakat bahwa pembangunan tata ruang tidak boleh lagi mengorbankan keseimbangan alam dan hak-hak masyarakat kecil."
"Bagus," komentar Pak Abidin singkat. Ia memajukan sedikit duduknya, menatap lurus tepat ke arah manik mata Bara. "Tapi ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan di benak orang tua sepertiku, Bara. Kekayaan besar, jabatan tinggi, dan fasilitas mewah di kota besar sangat mudah mengubah tabiat seorang manusia. Apakah kembalinya semua kemewahan itu tidak membuatmu melupakan pelajaran hidup yang kau dapatkan di tanah berlumpur lembah ini?"
Mendengar pertanyaan telak tersebut, Kinara di belakang Bara menahan napasnya sejenak, merasa cemas sekaligus penasaran bagaimana Bara akan menjawab ujian karakter dari ayahnya.
Bara tidak langsung menjawab. Ia merogoh saku kemeja flanelnya, lalu mengeluarkan sehelai pita kain merah usang—pemberian Kinara saat ia nyaris pergi meninggalkan desa beberapa waktu lalu—dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kayu di hadapan Pak Abidin. Pita itu sedikit kusam dan ternoda debu lapangan, namun dijaga dengan sangat bersih.
"Harta dan jabatan di kota itu fana, Pak Abidin," ucap Bara dengan suara parau namun penuh keyakinan mutlak. "Tapi akar kesederhanaan, rasa lapar, dan keringat yang saya curahkan di kebun gambir ini adalah harga diri yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang sebanyak apapun."
❖ ❖ ❖