Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #70

Mengelola Perkebunan Gambir

Pagi hari di penghujung Oktober 2026 menyelimuti Desa Wanasari dengan kesejukan pegunungan yang sangat menenangkan. Kabut tipis perlahan-lahan tersibak oleh bias cahaya matahari pagi yang hangat, menyinari hamparan hijau pohon gambir yang membentang luas di lereng bukit. Di beranda kantor administrasi perkebunan yang kini telah direnovasi menjadi lebih rapi, Bara duduk bersila di atas kursi kayu jati bersama Pak Abidin, calon ayah mertuanya yang juga sesepuh dusun yang sangat dihormati.

Suasana pagi itu terasa begitu khidmat dan produktif. Di atas meja kayu besar di hadapan mereka, tersusun rapi beberapa bundel dokumen lama hasil pengelolaan perkebunan tradisional warga, berdampingan dengan laporan finansial modern berstandar korporat yang baru saja dikirimkan oleh staf administrasi kota atas permintaan Pak Hartono. Bara mengenakan kemeja koko putih bersih berpadu rompi lapangan cokelat muda, sementara Pak Abidin tampil bersahaja dengan baju koko krem dan peci hitam klasik.

Hubungan antara Bara dan Pak Abidin kini telah terjalin semakin erat, tidak hanya sebagai calon menantu dan mertua, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam memajukan kesejahteraan seluruh petani gambir di Wanasari. Kehadiran orang tua Bara beberapa waktu lalu yang sempat diwarnai ketegangan kini telah bertransformasi menjadi dukungan penuh yang hangat, bahkan Pak Hartono mulai mengirimkan berbagai literatur bisnis modern untuk dipelajari oleh putranya.

"Pagi ini kita akan memeriksa laporan hasil panen tahap kedua sebelum didistribusikan ke pabrik pengolahan regional," ujar Pak Abidin membuka percakapan dengan nada suara baritonnya yang tenang dan berwibawa.

Bara mengangguk takzim, merapikan letak kacamata bacanya. "Alhamdulillah, Pak Abidin. Berdasarkan catatan data yang saya sinkronkan dengan sistem logistik kemarin, hasil produksi daun gambir kita meningkat sekitar dua puluh persen dibanding musim panen tahun lalu."

"Peningkatan itu adalah buah dari ketekunan warga dan kedisiplinan manajemen baru yang kamu terapkan di sini, Nak," balas Pak Abidin tersenyum bijak, menyerapir secangkir teh poci hangat yang tersaji di meja.

❖ ❖ ❖

Tujuan Bara hari ini sangat jelas dan terarah: ia ingin memadukan kearifan lokal pengelolaan perkebunan tradisional yang diwariskan turun-temurun oleh para sesepuh Wanasari dengan prinsip-prinsip tata kelola bisnis modern yang jujur, transparan, dan berkelanjutan. Setelah menolak tawaran kembali ke korporasi lama di ibu kota, Bara sepenuhnya mendedikasikan hidupnya untuk membangun ekosistem ekonomi kerakyatan di desa ini, tanpa meninggalkan tanggung jawab moralnya sebagai pewaris keluarga pengusaha.

"Saya ingin memastikan bahwa perluasan pasar ekspor ekstrak gambir ini tidak merusak keaslian hutan larangan dan tetap berpihak kepada kesejahteraan para buruh tani lokal, Pak," kata Bara menegaskan tujuannya sambil menunjuk lembar grafik bisnis di atas meja.

Pak Abidin menyimak dengan saksama, mengusap jenggot tipisnya. "Itulah prinsip yang selalu dipegang oleh para leluhur kita, Bara. Bisnis yang berkah adalah bisnis yang memberikan manfaat luas bagi sesama manusia dan menjaga kelestarian alam, bukan sekadar mengejar angka keuntungan semata."

"Ayah saya di kota juga mulai memahami prinsip itu, Pak," tambah Bara sambil tersenyum kecil. "Kemarin beliau mengirim surat berisi analisis pasar global, namun berpesan agar saya tetap memegang kendali penuh secara mandiri di Wanasari."

Bara tidak lagi memandang dunia bisnis sebagai alat penindasan atau target angka yang mengekang seperti di masa lalunya di ibu kota. Sebaliknya, melalui bimbingan Pak Abidin dan pengalaman langsung di lapangan, ia belajar melihat bisnis sebagai sarana ibadah sosial untuk memberdayakan masyarakat desa.

"Lalu, bagaimana rencana kerja sama kita dengan pabrik pengolahan di kabupaten sebelah untuk bulan depan?" tanya Pak Abidin menguji strategi lanjutan sang pemuda.

"Kita akan menggunakan sistem kontrak bagi hasil yang adil, sehingga para petani tidak lagi dirugikan oleh permainan harga tengkulak," jawab Bara mantap.

❖ ❖ ❖

Sembari melanjutkan diskusi serius mengenai strategi distribusi perkebunan, pintu gerbang halaman kantor posko terbuka perlahan. Mang Oleh berjalan mendekat membawa map tebal berisi arsip tambahan dari kelompok tani sektor utara.

"Selamat pagi, Pak Abidin, Nak Bara," sapa Mang Oleh ramah sambil meletakkan map tersebut di atas meja. "Laporan verifikasi lahan dari kelompok tani utara sudah lengkap. Tidak ada masalah berarti di lapangan."

"Terima kasih banyak, Mang," sambut Bara menyilakan lelaki paruh baya itu duduk bersama mereka. "Bagaimana kondisi para pekerja di kebun utara setelah insiden percobaan perusakan pagar beberapa waktu lalu?"

"Aman terkendali, Bar. Semakin hari para pemuda desa semakin sadar pentingnya menjaga keamanan wilayah perkebunan kita bersama," jelas Mang Oleh sambil tersenyum lebar.

Pak Abidin mengangguk puas mendengar laporan tersebut. "Solidaritas warga adalah benteng pertahanan terbaik kita di Wanasari. Tanpa dukungan mereka, sehebat apa pun sistem bisnis yang kamu rancang, tidak akan bertahan lama."

Bara merenungkan kalimat bijak tersebut dalam-dalam. Transisi hidupnya dari seorang eksekutif korporat kota besar menjadi pengelola perkebunan desa mengajarkannya bahwa kepemimpinan yang sejati bersumber dari kedekatan hati dengan masyarakat yang dipimpinnya. Ia tidak lagi memerintah dari balik meja tinggi ber-AC, melainkan berdiri bersama para petani di bawah terik matahari lereng bukit.

"Omong-omong, Varisha tadi menitipkan pesan ke dapur bahwa makan siang untuk kita bertiga sudah hampir siap," celetuk Mang Oleh menggoda sambil melirik sekilas ke arah Bara.

Rona merah tipis seketika merayap di pipi Bara, membuat Pak Abidin tertawa renyah. Hubungan antara Bara dan Varisha kini semakin matang dan siap melangkah ke jenjang pernikahan suci yang direstui oleh kedua belah pihak keluarga.

Lihat selengkapnya