Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #73

Antara Sujud dan Lembar Kontrak

Pagi hari di Lembah Selatan kembali menyapa dengan keindahan yang menenangkan jiwa. Sinar matahari keemasan menerobos celah-celah dedaunan rimbun di perkebunan gambir, menyapu halaman rumah panggung kayu tempat Bara dan Kinara membangun mahligai rumah tangga mereka. Udara pegunungan terasa sejuk, membawa aroma basah embun pagi berpadu dengan wangi masakan sederhana dari dapur kayu. Di teras depan, suasana tampak begitu hidup namun damai; seorang bayi laki-laki berusia beberapa bulan bernama Alaric—buah hati pertama mereka—tengah terlelap dalam ayunan kain rotan yang digoyang pelan oleh Kinara.

Bara berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja koko putih bersih berbalut sarung tenun tradisional, baru saja menyelesaikan dzikir ba'da shalat dhuha. Transformasi hidupnya selama bertahun-tahun di lembah ini telah membentuknya menjadi sosok pria yang matang. Di usianya yang kini menginjak kepala tiga, Bara tidak lagi tampak seperti eksekutif muda yang arogan atau buruh pelarian yang penuh amarah. Ia telah menjelma menjadi seorang suami dan ayah teladan yang memadukan ketegasan manajerial bisnis kelas kakap dengan kelembutan spiritual seorang hamba Allah.

Di sudut meja kerja kayu jati yang menghadap langsung ke arah hamparan kebun gambir, sebuah laptop modern berdampingan rapi dengan Al-Qur'an kecil dan tumpukan dokumen audit perusahaan. Pemandangan itu merangkum identitas ganda Bara saat ini: seorang pemimpin korporasi properti nasional yang sukses di ibu kota, sekaligus kepala keluarga yang mencintai kesederhanaan hidup di desa terpencil.

Kinara menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum hangat, merapikan selimut kecil Alaric yang mulai menggeliat dalam tidurnya. "Mas, kopi hitamnya sudah siap di meja teras. Jangan terlalu larut dengan laporan keuangan Jakarta, pagi ini jadwalmu menemani Mbah Marto mengecek pembibitan gambir organik di blok barat."

Bara melangkah mendekati istrinya, mencium puncak kepala Kinara dengan penuh kasih sayang sebelum menatap buah hati mereka yang tertawa kecil dalam tidur. "Iya, sayang. Sebentar lagi aku selesai. Hari ini aku pastikan semua urusan bisnis rampung sebelum dzuhur, supaya sore nanti kita bisa jalan-jalan bertiga ke pinggir saluran irigasi."

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bara hari ini adalah menciptakan keseimbangan yang sempurna antara tanggung jawabnya sebagai direktur utama perusahaan properti di kota besar dan perannya sebagai imam keluarga di rumah panggung sederhana Lembah Selatan. Ia tidak ingin kesuksesan finansial dan ekspansi bisnis yang kini kembali berada di bawah kendalinya merusak ketenangan batin keluarganya atau menjauhkannya dari nilai-nilai ketaatan beragama. Bara ingin membuktikan bahwa seorang pemimpin bisnis modern bisa tetap bersikap tegas menegakkan aturan korporasi tanpa harus kehilangan kelembutan spiritual dan kepedulian sosial terhadap masyarakat desa.

Di sisi lain, Kinara memiliki tujuan untuk memastikan bahwa suaminya tidak kelelahan memikul beban ganda tersebut. Sebagai istri teladan, Kinara selalu siap menjadi pendukung mental nomor satu bagi Bara, mengingatkan suaminya kapan harus bekerja keras dan kapan harus berhenti sejenak untuk bersyukur serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

"Mas, kemarin malam Pak Hendra dari kantor pusat menelepon lagi," kata Kinara saat mereka duduk bersama menikmati kopi pagi di teras. "Katanya ada investor asing besar dari Singapura yang ingin meninjau langsung proyek tata ruang ramah lingkungan di lembah kita. Mereka meminta kamu turun tangan langsung memimpin presentasi."

Bara menyesap kopi hitamnya perlahan, menatap lurus ke arah hamparan kebun gambir di hadapannya. "Aku sudah tahu, Kinara. Proposal itu memang hasil rancangan tim kita beberapa bulan lalu. Tapi aku sudah menegaskan kepada mereka syarat mutlaknya: investasi boleh masuk, asalkan tidak ada satu pun pohon gambir tua yang ditebang dan hak-hak buruh tani lokal harus diprioritaskan."

"Apakah mereka setuju dengan syarat ketat itu?" tanya Kinara penasaran, menyamankan posisi duduknya di kursi bambu.

"Mau tidak mau mereka harus setuju," jawab Bara tegas namun tenang. "Di hadapan investor, aku adalah pengusaha yang memegang prinsip bisnis yang bersih. Tapi di hadapan Allah dan keluargaku, aku hanyalah seorang hamba yang bertanggung jawab menjaga amanah tanah ini."

Tujuan besar Bara hari ini bukan sekadar mengejar profit lembar saham atau pujian dari dewan direksi, melainkan mencari keberkahan dalam setiap keputusan bisnis yang ia ambil agar bermanfaat bagi umat.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan naik sepenggalah, memancarkan kehangatan yang merata ke seluruh sudut perkebunan gambir. Setelah memastikan laporan keuangan perusahaan di laptopnya terkunci rapi dan disetujui, Bara menutup perangkat elektronik tersebut. Ia bangkit dari kursi kerjanya, mengambil topi lapangan dan tongkat kayunya, lalu bersiap turun ke area perkebunan bersama Mbah Marto yang sudah menunggu di halaman bawah rumah panggung.

Sebelum beranjak pergi, Bara mendekati ayunan bayi tempat Alaric terbangun dan mulai mengepakkan tangan kecilnya. Bara membungkuk, mengecup lembut pipi mungil anaknya, lalu melafalkan doa perlindungan pagi hari di dekat telinga sang bayi. Ritual kecil itu selalu ia lakukan setiap kali hendak melangkah keluar rumah—sebuah transisi batin yang memisahkan urusan duniawi luar dengan kedamaian di dalam keluarga.

"Aku berangkat dulu ya, Kinara. Tolong jaga Alaric, nanti dzuhur aku pastikan sudah naik kembali untuk shalat berjamaah di rumah," pamit Bara kepada istrinya.

"Hati-hati di jalan, Mas. Jangan terlalu lelah mencangkul atau mengecek parit, ingat kamu harus mimpin rapat virtual dengan investor sore nanti," pesan Kinara mengingatkan suaminya dengan senyuman manis.

Bara mengangguk, lalu melangkah turun menyusul Mbah Marto yang berdiri di bawah pohon asam rindang. Sepanjang perjalanan menapaki jalan setapak tanah merah menuju blok barat, para buruh tani yang berlalu-lalang menyapa Bara dengan penuh rasa hormat dan keakraban. Tidak ada lagi jarak sosial yang kaku; Bara diperlakukan bukan sekadar sebagai bos atau menantu pemilik kebun, melainkan sebagai saudara tua yang selalu membela kepentingan mereka.

"Wah, Mas Bara pagi-pagi sudah rapi mau ke blok barat. Ada apa, Mbah? Mau pamer bibit gambir baru sama investor kota?" sapa Martono, buruh senior yang dulu sempat menjadi rivalnya, sambil tertawa lebar.

Bara membalas sapaan itu dengan gelak tawa renyah. "Bukan pamer, Pak Martono. Kita mau pastikan sistem drainase organik di blok barat aman dari curah hujan tinggi minggu ini. Kalau paritnya mampet, nanti hasil getah daunnya ikutan rusak."

Lihat selengkapnya