Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #74

Jejak yang Ditinggalkan

Suara deru mesin mobil sedan mewah berplat nomor ibu kota membelah jalanan aspal yang mulai basah oleh sisa hujan sore di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Di balik jendela kaca anti peluru yang tertutup rapat, pemandangan luar menyajikan lanskap metropolitan yang tidak pernah benar-benar tidur: gedung-gedung pencakar langit berlapis kaca memantulkan lampu-lampu neon warna-warni, papan reklame digital raksasa yang menyilaukan mata, serta kemacetan kendaraan yang mengular panjang di bawah langit senja yang kelabu. Hari ini adalah hari ketiga kunjungan berkala keluarga Bara ke ibu kota—sebuah ritual tahunan yang harus ia jalani untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan keluarga sekaligus menjenguk kerabat yang tersisa.

Di dalam kabin mobil yang ber-AC dingin, Bara duduk bersisian dengan Varisha di atas jok kulit hitam berkualitas tinggi yang terasa begitu asing bagi kulit mereka yang kini telah terbiasa dengan tekstur kayu dan angin laut. Bara mengenakan setelan jas formal berwarna abu-abu gelap dengan kemeja putih bersih tanpa dasi, sementara Varisha tampak anggun mengenakan abaya sederhana berwarna sage green dengan kerudung senada. Meskipun mereka berada di jantung kemewahan ekonomi negeri ini, sorot mata keduanya sama sekali tidak mencerminkan kekaguman atau kerinduan. Sebaliknya, ada keheningan yang nyaman di antara mereka, sebuah jarak batin yang sengaja mereka ciptakan untuk melindungi diri dari riuhnya atmosfer kota besar yang menyesakkan dada.

Bagi Bara, Jakarta bukan lagi rumah, melainkan sebuah museum kenangan tempat ia pernah tersesat dalam ambisi palsu dan tekanan korporasi yang kejam. Setiap sudut jalan di ibu kota ini menyimpan bayang-bayang masa lalu yang melelahkan—mulai dari ruang rapat direksi yang dingin hingga lobi hotel tempat intrik bisnis dipertaruhkan. Namun, ia harus kembali ke sini secara berkala, bukan karena ia merindukannya, melainkan karena tanggung jawab administratif yang menuntutnya menyelesaikan sisa-sisa urusan masa lalunya. Di sisi lain, Varisha menggenggam jemari suaminya erat-erat, menyalurkan dukungan batin yang menegaskan bahwa di mana pun mereka berada di dunia ini, rumah sejati mereka bukanlah bangunan megah di ibu kota, melainkan rumah mungil berlantai papan kayu di pesisir Bandar Lampung.

Tujuan kedatangan Bara ke Jakarta kali ini sangat spesifik dan terbatas: menyelesaikan penandatanganan dokumen restrukturisasi aset terakhir di kantor pusat Adiwangsa Corp, menyerahkan sisa wewenang eksekutif kepada dewan direksi profesional yang baru, dan memastikan bahwa seluruh kewajiban hukum keluarganya telah tuntas tanpa menyisakan celah sengketa. Ia ingin memutus tali pusar finansial yang selama ini mengikatnya pada dunia konglomerat, agar ia bisa sepenuhnya hidup dari hasil keringat tangannya sendiri sebagai pengrajin dan mitra galangan kapal Pak Abidin. Bara tidak ingin lagi memiliki urusan apa pun dengan dunia bisnis hitam yang penuh tipu muslihat.

"Mas, apakah semua dokumen audit keuangan perusahaan sudah selesai diperiksa oleh tim hukum?" tanya Varisha lembut, memecah kesunyian di dalam mobil saat kendaraan mereka memasuki pelataran parkir basement gedung pencakar langit Adiwangsa Corp.

Bara menoleh, memberikan senyuman menenangkan kepada istrinya. "Sudah, Risha. Pertemuan hari ini adalah agenda formal terakhir. Setelah tanda tangan terakhir dibubuhkan di ruang rapat lantai empat puluh, kita resmi merdeka sepenuhnya dari beban korporasi ini. Tidak ada lagi saham, tidak ada lagi rapat pemegang saham, dan tidak ada lagi intrik."

Varisha menghela napas lega, senyuman manis terukir di bibirnya. "Alhamdulillah. Aku tidak sabar ingin segera kembali ke desa, Mas. Udara di sini terasa begitu berat, seolah setiap orang sedang berlomba mengejar sesuatu yang tidak pernah mereka temukan ujungnya."

Itulah tujuan bersama mereka dalam kunjungan singkat ini: bertahan sejenak di tengah badai kemewahan kota besar untuk merapikan masa lalu, lalu segera melarikan diri kembali ke tempat di mana ketenangan batin berada. Mereka sadar bahwa godaan harta dan jabatan di ibu kota ini sangat kuat—keluarga besar sempat menawarkan jabatan komisaris utama dengan fasilitas yang luar biasa mewah agar Bara mau kembali menetap secara permanen. Namun, tujuan mereka sudah bulat: menolak semua tawaran itu dengan cara yang santun namun tegas. Mereka lebih memilih hidup sederhana di pesisir dengan hati yang damai daripada hidup bergelimang harta di dalam sangkar emas penuh kecemasan.

Pintu kaca otomatis ruang rapat utama di lantai empat puluh terbuka lebar, menyambut kedatangan Bara dan Varisha yang melangkah masuk dengan penuh wibawa. Di dalam ruangan mewah ber-pemanas ruangan itu, jajaran direksi baru dan beberapa kerabat senior keluarga besar telah duduk menunggu di sekeliling meja rapat berbentuk tapal kuda yang terbuat dari kayu mahoni impor. Suasana langsung mendadak senyap begitu Bara, dengan setelan jas formalnya yang rapi dan langkah mantap, mengambil tempat duduk di kursi utama yang dulu selalu diduduki oleh mendiang ayahnya.

"Selamat datang kembali, Bara. Kehadiranmu sangat dinantikan untuk mengesahkan lembaran baru perusahaan ini," sambut Pak Hartono, salah satu direktur senior yang kini memimpin operasional harian perusahaan, dengan nada hormat yang tulus.

Bara mengangguk tenang, membuka folder dokumen di depannya tanpa ada rasa gentar atau keraguan di wajahnya. "Terima kasih, Pak Hartono. Mari kita langsung ke pokok agenda agar saya bisa segera menuntaskan tanggung jawab ini hari ini juga."

Transisi suasana dari ruang rapat yang kaku dan penuh tekanan menuju kebebasan personal terasa begitu nyata bagi Bara. Setiap lembar dokumen yang ia tandatangani hari itu adalah simbol dari pelepasan masa lalu. Ia tidak lagi merasakan beban sebagai pewaris takhta bisnis yang harus membuktikan diri kepada dunia. Sebaliknya, ia merasa seperti seorang pria yang sedang melunasi hutang terakhirnya sebelum kembali ke rumah yang sebenarnya. Varisha duduk di sofa sudut ruangan, menemani dengan sabar sambil membaca buku zikir kecil di tangannya, menjadi jangkar ketenangan bagi suaminya di tengah dunia korporasi yang dingin.

"Dengan ditandatanganinya dokumen ini, maka seluruh hak suara mayoritas dan kendali eksekutif resmi saya serahkan kepada dewan direksi profesional. Saya tidak lagi memiliki ikatan manajerial apa pun dengan Adiwangsa Corp," ucap Bara tegas sesaat setelah membubuhkan tanda tangan terakhirnya di atas kertas bermeterai.

Para hadirin di ruang rapat sempat tertegun sejenak mendengarkan keputusan mutlak tersebut, namun mereka tidak berani mendebat. Wibawa Bara yang kini lahir dari kedewasaan spiritual dan kematangan jiwa jauh lebih kuat daripada wibawa seorang direktur yang hanya mengandalkan kekuasaan jabatan. Setelah sesi penutupan yang singkat, Bara dan Varisha segera meninggalkan gedung pencakar langit tersebut, melangkah keluar ke udara sore Jakarta yang panas, menyambut kebebasan sejati yang telah mereka nanti-nantikan.

Namun, rintangan terakhir rupanya telah menunggu di luar gedung sebelum mereka sempat memasuki mobil penjemput. Di trotoar depan lobby utama, seorang wanita paruh baya berbusana sosialita mewah—bibi dari pihak ayah yang dulu paling keras menentang keputusan Bara meninggalkan bisnis keluarga—telah berdiri mencegat jalan mereka, didampingi oleh dua orang pengawal pribadi berjas hitam. Wajah wanita itu tampak memerah menahan amarah yang dipendam rapat-rapat.

"Bara! Tunggu sebentar!" seru wanita itu dengan suara tajam yang langsung menarik perhatian beberapa staf dan pejalan kaki di sekitar area gedung.

Lihat selengkapnya