Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #75

Warisan Bisnis Gambir

Pagi hari di awal November 2026 menyelimuti Desa Wanasari dengan kesejukan pegunungan yang sangat menenangkan. Kabut tipis menggantung di antara pucuk-pucuk pohon gambir yang membentang hijau di sepanjang lereng bukit, sementara bias sinar matahari pagi memantul berkilauan di atas atap-atap rumah panggung tradisional. Di beranda luas kantor utama koperasi pengolahan gambir yang baru selesai direnovasi, suasana tampak sibuk namun teratur. Para pekerja dan petani lokal hilir mudik membawa keranjang-keranjang hasil panen segar dengan wajah ceria.

Di sebuah meja kayu jati tua berukuran besar yang berada di tengah ruangan, Bara duduk bersila berdampingan dengan Pak Abidin, calon ayah mertuanya yang juga sesepuh dusun terkemuka. Di hadapan mereka, tersusun rapi beberapa bundel dokumen keuangan digital yang diakses melalui laptop modern, berdampingan dengan catatan pembukuan manual tradisional yang selama puluhan tahun dipegang teguh oleh Pak Abidin. Bara mengenakan kemeja koko putih bersih berlengan digulung rapi hingga siku, memancarkan aura kedewasaan dan ketenangan batin yang luar biasa. Sementara itu, Pak Abidin tampil bersahaja mengenakan baju koko abu-abu muda dan peci hitam beludru klasik.

Hubungan antara Bara dan Pak Abidin kini telah menjelma menjadi sebuah kemitraan strategis yang sangat solid. Mereka tidak lagi sekadar berbagi visi tentang masa depan desa, tetapi bahu-membahu menyatukan warisan kearifan lokal leluhur dengan prinsip-prinsip manajemen modern berlandaskan syariat Islam yang bersih dari unsur riba, kecurangan, dan eksploitasi.

"Pagi ini laporan audit keuangan koperasi syariah kita sudah masuk ke sistem digital, Pak Abidin," ujar Bara ramah sambil memutar layar laptop agar mudah dibaca oleh lelaki paruh baya di sebelah kanannya.

Pak Abidin merapikan kacamata bacanya, mengamati deretan angka transparan dan bersih dari riba yang terpampang di layar. "Alhamdulillah, Nak Bara. Kejujuran dan transparansi adalah nyawa dari setiap usaha yang diridai oleh Allah subhanahu wa ta'ala."

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bara dan Pak Abidin hari ini sangat mulia sekaligus strategis: meresmikan sistem operasional penuh pengelolaan perkebunan dan pabrik pengolahan ekstrak gambir berbasis syariah pertama di wilayah lereng bukit Wanasari. Setelah berhasil mematahkan berbagai ancaman hukum dari korporat ibu kota dan menyatukan kelompok tani melalui konsorsium koperasi, langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa seluruh rantai pasok bisnis—dari proses petik daun, pengolahan ekstrak, hingga distribusi ekspor—berjalan murni sesuai dengan prinsip muamalah Islam.

"Kita harus memastikan bahwa sistem bagi hasil antara pemodal, pengelola, dan buruh tani benar-benar adil tanpa ada pihak yang dirugikan, Pak," jelas Bara mantap, memaparkan poin-poin akad kerja sama di hadapan calon ayah mertuanya.

Pak Abidin mengangguk setuju, tersenyum bangga melihat ketulusan niat pemuda kota tersebut. "Inilah warisan sesungguhnya yang ingin saya jaga sejak dulu, Bara. Bisnis gambir di Wanasari bukan sekadar alat untuk menumpuk kekayaan materi, melainkan ladang amal saleh untuk memakmurkan seluruh warga dusun."

Bara sepenuhnya memahami visi besar tersebut. Dulu, saat ia masih bekerja sebagai eksekutif di korporat besar ibu kota, orientasi hidupnya hanyalah target keuntungan finansial yang sering kali menghalalkan segala cara. Namun, bimbingan Pak Abidin dan tempaan hidup di desa ini telah mengubah orientasinya secara total: bisnis yang berkah adalah bisnis yang membawa maslahat, menenangkan hati, dan mendatangkan rida Sang Pencipta.

"Bagaimana dengan akad mudharabah dan musyarakah yang kita terapkan untuk para petani mitra di sektor utara?" tanya Pak Abidin menguji kesiapan teknis sistem tersebut.

"Semua sudah disetujui oleh para ketua kelompok tani kemarin sore, Pak. Tidak ada lagi sistem pinjaman berbunga tinggi dari tengkulak luar. Semuanya murni berbasis kerja sama bagi hasil yang transparan dan saling menguntungkan," jawab Bara dengan penuh rasa optimis.

❖ ❖ ❖

Di tengah diskusi mendalam mengenai akad muamalah syariah tersebut, pintu kantor koperasi diketuk perlahan dari luar. Mang Oleh melangkah masuk membawa kendi berisi teh poci hangat dan sepiring ubi rebus, lalu meletakkannya dengan hati-hati di sudut meja kerja mereka.

"Wah, pembicaraannya sepertinya sangat serius sekali pagi ini," sapa Mang Oleh ramah sambil tersenyum lebar. "Jangan lupa istirahat sejenak, minum tehnya supaya pikiran tetap jernih."

"Terima kasih banyak, Mang," sambut Bara mempersilakan lelaki paruh baya itu duduk di bangku sebelah. "Kami sedang merapikan draf akad kerja sama syariah untuk seluruh petani mitra musim ini."

Pak Abidin menuangkan teh ke dalam cangkir tanah liat, lalu menyerahkannya kepada Mang Oleh. "Bagaimana persiapan gudang penjemputan daun gambir di sektor timur, Mang? Apakah fasilitas timbangan digital yang baru dipasang berfungsi dengan baik?"

"Alhamdulillah berjalan lancar, Pak Abidin," lapor Mang Oleh mantap. "Para petani sangat senang karena sekarang timbangan digital yang digunakan benar-benar jujur, tidak ada lagi selisih timbangan yang merugikan buruh seperti zaman tengkulak dulu."

Bara mendengarkan laporan tersebut dengan perasaan lega yang teramat sangat. Transisi pengelolaan bisnis keluarga Pak Abidin yang dipadukan dengan sentuhan teknologi modern dan etika bisnis Islam ternyata mampu mengangkat martabat ekonomi seluruh warga dusun secara signifikan. Tidak ada lagi kecurangan, tidak ada lagi penindasan modal, yang ada hanyalah semangat gotong royong dalam koridor ukhuwah islamiyah.

Beberapa saat kemudian, dari arah luar jendela kantor, siluet Varisha tampak melintas membawa berkas laporan arsip dari posko galeri kerajinan. Gadis itu mengenakan gamis rapi berwarna hijau lumut dengan jilbab lebar senada, bergerak anggun namun penuh kehati-hatian.

Bara sempat melirik sekilas ke arah luar, lalu segera menundukkan pandangannya kembali ke lembar dokumen di hadapannya dengan debar hangat di dalam dadanya. Mang Oleh yang melihat hal itu tersenyum kecil menahan tawa.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya