Matahari sore di Desa Cibalik merayap turun perlahan, membiaskan cahaya jingga kemerahan yang hangat di balik punggung bukit yang diselimuti kabut tipis. Udara pegunungan yang sejuk berpadu dengan aroma tanah basah seusai hujan sore, menciptakan suasana yang begitu damai dan menenangkan jiwa. Di serambi belakang rumah panggung kayu milik Pak Abidin, Bara duduk bersila di atas tikar pandan sambil menikmati secangkir kopi hitam pekat yang mengepulkan aroma biji kopi lokal hasil panen warga dusun.
Hari itu menandai tepat satu tahun sejak keputusannya meninggalkan kemewahan kota besar dan menginjakkan kaki pertama kali di desa terpencil ini. Tidak ada lagi setelan jas desainer mahal, mobil sport mewah, atau dering ponsel korporat yang tak berkesudahan. Yang melekat di tubuhnya kini hanyalah kemeja koko putih polos berbahan katun lembut dan kain sarung tenun sederhana yang melingkar rapi di pinggangnya. Di sampingnya, Varisha duduk dengan tenang, merajut selembar selendang wol sambil sesekali tersenyum menatap suaminya.
Bara menarik napas dalam-dalam, meresapi setiap embusan angin pegunungan yang menyentuh kulitnya. Perjalanan panjang dari seorang pewaris korporasi yang angkuh dan bosan terhadap harta melimpah hingga menjadi seorang suami dan pemimpin yang tawadu telah membawanya pada sebuah titik perenungan yang sangat mendalam.
"Sudah setahun ya, Mas," ucap Varisha lembut, memecah keheningan sore sambil melirik suaminya penuh kasih. "Rasanya baru kemarin kamu datang ke surau dengan pakaian compang-camping dan hati yang penuh beban."
Bara tersenyum tipis, menatap cangkir kopi di tangannya sebelum beralih menatap wajah istri tercintanya. "Rasanya seperti hidup di dua dunia yang berbeda, Varisha. Dan jujur, aku tidak pernah menyesali satu detik pun keputusan yang kubuat untuk tinggal di sini."
❖ ❖ ❖
Duduk merenung di serambi sore itu bukan sekadar menikmati waktu luang, melainkan sebuah tujuan refleksi diri yang sengaja diambil Bara untuk menakar perjalanan spiritual dan batinnya selama setahun terakhir. Sebagai seorang pria yang dulunya mengukur keberhasilan hidup dari angka-angka di rekening bank dan kekuasaan mutlak atas perusahaan multinasional, Bara kini ingin meluruskan niatnya kembali. Ia ingin merefleksikan bagaimana transformasi luar biasa terjadi pada dirinya—dari seorang pemuda manja yang bosan dengan harta duniawi menjadi seorang hamba Allah yang benar-benar bersyukur atas nikmat kesederhanaan.
Tujuan Bara malam itu adalah menuliskan lembaran baru dalam buku harian pribadinya, sebuah catatan kecil tentang makna hidup yang sesungguhnya yang ia temukan di Desa Cibalik. Ia ingin memastikan bahwa hatinya tidak tergiur kembali oleh bayang-bayang kemewahan semu di ibu kota, meskipun kini ia tetap memegang kendali atas perusahaan keluarganya dengan sistem manajemen yang baru dan beretika.
"Apa yang sedang kamu renungkan sedalam itu, Mas?" tanya Varisha penasaran, melihat suaminya terdiam cukup lama menatap hamparan sawah di kejauhan.
"Aku sedang mengingat kembali diriku yang dulu, Varisha," jawab Bara jujur, suaranya terdengar tenang namun penuh makna. "Dulu, aku punya segalanya secara materi, tapi aku merasa menjadi orang paling miskin di muka bumi karena jiwaku hampa. Sekarang, dengan pakaian sederhana dan secangkir kopi pahit ini, aku merasa menjadi manusia paling kaya."
Varisha meletakkan rajutannya sejenak, meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat. "Harta yang sesungguhnya bukanlah apa yang ada di dalam brankas bank, Mas, tapi apa yang tertanam dengan ikhlas di dalam dada kita."
Bara mengangguk menyetujui perkataan istrinya. Tujuan hidupnya kini telah sepenuhnya bergeser dari orientasi duniawi semata menuju pencarian keridaan Sang Pencipta melalui ladang amal dan cinta kasih kepada sesama.
❖ ❖ ❖
Suasana di serambi belakang semakin hanyut dalam ketenangan ketika azan magrib mulai berkumandang dari surau kecil di ujung dusun. Suara panggilan salat yang merdu itu berbalas-balasan dari surau satu ke surau lainnya, memecah keheningan senja dengan gelombang spiritual yang menyejukkan.
Bara meletakkan cangkir kopinya di atas meja kayu, lalu berdiri merapikan sarungnya. "Waktunya ke surau, Varisha. Ayah pasti sudah menunggu di depan pintu imam."
"Iya, Mas. Biar kusiapkan peci dan sajadahmu," balas Varisha sigap, beranjak masuk ke dalam rumah.
Transisi dari perenungan filosofis menuju kewajiban ibadah harian ini selalu menjadi ritme hidup yang dinikmati Bara setiap hari. Tidak ada lagi ketergesaan mengejar deadline rapat direksi atau stres memikirkan fluktuasi saham global. Yang ada hanyalah kedisiplinan waktu yang diatur oleh panggilan-panggilan suci Tuhan.
Beberapa saat kemudian, Bara berjalan berdampingan dengan sang istri menapaki jalan setapak menuju surau kecil. Di sepanjang jalan, beberapa warga desa menyapa mereka dengan senyuman ramah dan salam takzim. Bara membalas setiap sapaan tersebut dengan kerendahan hati yang tulus—pemandangan yang sangat kontras jika dibandingkan dengan sikap angkuhnya di masa lalu saat ia masih menjadi Tuan Muda Adhitama.
Pak Abidin yang sudah menunggu di teras surau menyambut kedatangan Bara dengan senyuman hangat. "Alhamdulillah, tepat waktu seperti biasa, Nak Bara."