Senja itu langit kelabu menekan atap-atap kota, dan hujan turun tanpa niat berhenti. Dalan setengah rebah di sofa usang ruang keluarga rumah orangtuanya, iPad bersandar pada tumpukan bantal, drama Korea berjalan dengan volume rendah. Dialognya lirih, nyaris tenggelam oleh rintik di genteng. Akhir pekan seperti ini adalah satu-satunya hal yang ia jaga mati-matian: dua hari tanpa seragam, tanpa checklist, tanpa suara orang yang membacakan angka ketinggian.
Umurnya dua puluh empat. Ini tahun keduanya di Aero Air. Ia lulusan angkatan 14 Sky Flight Academy, dan dari kelasnya yang dulu penuh, separuh sudah pindah maskapai atau keluar sama sekali dari dunia penerbangan. Ia bertahan. Kadang, di penerbangan malam ketiga berturut-turut, ia bertanya kepada kaca kokpit yang gelap: apakah ia mencintai pekerjaan ini, atau hanya belum menemukan pintu keluar? Pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Biasanya ATC keburu memanggil.
Ponsel di samping bantal bergetar, lalu meraung. Layarnya menyala: Crew Scheduling.
Dalan menatap nama itu sebentar. Scheduling tidak menelepon sore hari kecuali ada jadwal yang bolong. Ia menggeser layar dan menyalakan pengeras suara.
"Halo, selamat sore."
"Sore, Mas Dalan. Dari Crew Scheduling. Mas, boleh tolong terbang malam ini ke Banyuwangi, pulang-pergi?"
Banyuwangi. Dalan menegakkan punggung. Ia hafal jadwal Aero Air seperti ia hafal urutan checklist, dan di dalam hafalan itu tidak ada satu pun penerbangan malam ke BWX. Bandara kecil itu hanya dilayani siang.
"Dengan kapten siapa?"
"Kapten Richard Gustanto."
Ia mengais-ngais daftar kapten yang pernah duduk di sebelah kirinya: yang pendiam, yang cerewet, yang hobi menceramahi soal gaji. Tidak ada Richard Gustanto. Tidak di daftar kru, tidak di grup WhatsApp, tidak di cerita ruang istirahat.
"Nomor penerbangannya?"
"AE 338, Mas. ETD pukul 23.00."
"Sudah muncul di aplikasi roster?"
"Belum, Mas. Nanti diperbarui."
"Oke. Tolong kirim juga flight plan-nya ke email saya."
"Itu dibawa Kapten langsung, Mas."
Dalan terdiam setengah detik. Ia menyetujui, mengucapkan terima kasih, lalu menutup telepon. Hujan di genteng terdengar lebih keras setelah suara itu hilang.
Pukul 18.30 ponselnya bergetar lagi. Pesan dari nomor yang tidak tersimpan.
Kapten Richard: Sore, Mas Dalan. Revise ya terbang BWX vv?
Dalan: Sore, Capt. Iya, ikut ya Capt. Boleh dikirim flight plan dan weather-nya lebih dulu? Biar saya cek dari rumah.
Kapten Richard: Nanti saya langsung ke pesawat ya, ada acara keluarga. Flight plan saya bawa. Sinyal saya jelek, Mas.
Dalan membaca balasan itu dua kali. Kapten yang tidak menemui FO-nya sebelum terbang. Flight plan yang hanya ada di tangan satu orang. Setiap bagian dari tawaran itu melenceng dari prosedur. Tetapi ia bukan kapten, dan menolak penugasan dari scheduling dengan alasan "firasat" akan masuk laporan sebagai hal lain. Satu aturan bisa ia pegang: di kokpit, keselamatan tidak ditentukan oleh pangkat. Kalau satu angka saja tidak cocok, pesawat itu tidak akan ia bawa bergerak, siapa pun yang duduk di kursi kiri.
Dalan: Baik, Capt. Sampai nanti.
Ia mematikan drama di tengah adegan. Seragam digantung di lemari: pin wings, pin nama, pin maskapai, ia sematkan satu per satu, lurus sejajar kancing. Mandi. Dokumen diperiksa lembar demi lembar: lisensi, medical, ID bandara. iPad masuk ke navbag. Ia menunggu jemputan di ruang tamu, dan hujan di jendela terdengar seperti jari-jari yang mengetuk kaca bergantian.
Pukul 20.15 jemputan belum datang. Notifikasi masuk sebelum ia sempat menelepon.