Penyelamatan Banyuwangi

Yohanes Grady Irawan
Chapter #2

Penumpang yang Mati

Dari kursi kanan, Dalan melihat bus penumpang berhenti tepat di bawah pintu depan pesawat. Lampu depannya menyala, mesinnya masih berdengung, dan kursi pengemudinya kosong.

"Capt, bus itu nggak ada sopirnya."

"Mungkin lagi bantu penumpang turun," jawab Richard. Ia tidak menoleh. Jarinya sudah mengetik sesuatu di FMC sebelum kalimatnya selesai.

Penumpang mulai naik. Dari pintu kokpit yang terbuka, Dalan bisa melihat sebagian lorong, dan yang lewat di sana datang beriringan, rapi, tanpa suara. Tidak ada bunyi roda koper, tidak ada dentuman kabin bagasi yang dibuka dan ditutup, tidak ada ibu yang memanggil anaknya. Hujan baru berhenti, tetapi rambut mereka kering. Tidak seorang pun melihat ke layar handphone. Pria tua dengan kemeja lusuh, wanita muda dengan tas tangan mahal, remaja dengan headphone menggantung di leher, seorang anak kecil yang digandeng ibunya, semua berjalan dengan ritme langkah yang sama.

"Penumpangnya kayak nggak hidup, Capt."

"Maksudnya mereka hantu?" Richard tersenyum tipis, matanya tertuju kepada layar.

"Bukan. Maksud saya, kok diam semua."

"Mungkin capek."

Dalan tidak membalas. Ia mengalihkan perhatiannya ke pekerjaan yang bisa ia pegang. Pesan ACARS masuk: loadsheet. Tamara, purser berseragam biru dengan nametag yang sedikit miring, masuk membawa dokumennya. Senyumnya sopan, tetapi pandangannya lewat menembus bahu Dalan, ke arah dinding di belakangnya.

Kertas loadsheet itu dingin dan sedikit lembap. Dalan memeriksanya lembar demi lembar: ZFW, CG, trim stabilizer, jumlah penumpang. 186. Ia mengalikannya dengan bobot rata-rata di kepalanya dan membandingkannya dengan angka bahan bakar. Semuanya cocok sampai ke desimal. Terlalu cocok. Pesawat sungguhan jarang punya angka serapi itu.

Ia menunggu petugas ramp naik untuk final check, seperti di setiap penerbangan yang pernah ia lakukan. Tidak ada yang naik. Ia memandang pintu kokpit yang terbuka, ke lorong yang kosong, dan Tamara sudah keluar tanpa suara langkah. Satu lagi hal yang tidak cocok, dan tidak ada satu pun orang yang berhenti karenanya.

Dua menit kemudian interphone berbunyi. "Cockpit, ground. Semua pintu tertutup. Clear to push." Suaranya datar, bergema seperti terdengar dari dasar sumur. Dalan menekan tombol bicara. "Ground, siapa ini?" Tidak ada jawaban, hanya desis.

Ia menatap Richard. Richard menatap lurus ke depan.

Ia memeriksa daftarnya sekali lagi: berat, bahan bakar, dokumen. Semuanya sesuai checklist. Tidak ada ground crew yang terlihat sepanjang malam ini, tetapi loadsheet tetap sampai ke kokpit, lengkap dan benar. Tidak ada satu pun prosedur yang terlewat. Slot keberangkatan tinggal sedikit, dan menunda tanpa alasan yang bisa ditulis di log adalah keputusan yang sulit dibela. Selama setiap kotak masih bisa dicentang, pikiran logisnya berkata: terbang.

Ia menandatangani loadsheet. Ia tahu, kalau ada satu hal yang bisa ia kendalikan malam ini, itu adalah setiap angka yang ia sentuh.

Clearance datang lewat radio. Dalan membaca ulang rute, ketinggian, dan kode squawk. Kemudian ia mengulurkan tangan untuk memutar transponder, dan tangannya berhenti.

Squawk-nya sudah terpasang. Angka yang sama persis dengan yang baru saja ia dengar dari ATC. Altitude initial, SID, frekuensi departure, semuanya sudah masuk sebelum clearance diberikan.

"All set ya, Mas," kata Richard.

"Terima kasih, Capt." Dalan menarik tangannya perlahan. "Kapan Kapten set squawk-nya?"

"Tadi."

Hanya satu kata itu. Tidak ada penjelasan lain.

Dalan menggenggam pulpen sampai buku jarinya memutih. Lalu ia meraih ponsel dan mengetik pesan cepat ke Salina, sebelum pushback, selagi pesawat masih diam.

Dalan: Salina, kamu terbang jam berapa?

Lihat selengkapnya