"Ini, ambil bunga-bunga ini," kata Dignus sambil tersenyum, menyerahkan bunga-bunga yang dipetiknya pada adiknya.
Taneaya menerima bunga-bunga itu dengan senyum lebar, merasa sangat senang dengan kejutan manis dari kakaknya. Matahari masih bersinar cerah di langit, menerangi keindahan taman kerajaan Satascar yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga yang menakjubkan.
Dignus, menikmati saat-saat tenang itu, dia berbaring dengan kepala bersandar di paha Taneaya. Dia menarik napas dalam-dalam, matanya terpejam menghirup aroma bunga-bunga di sekitar mereka, dan menikmati wangi rambut panjang Taneaya yang dibelai-belainya dengan lembut.
Dignus membukanya saat mendengar suara adik perempuannya, yang sedang sibuk menciumi bunga-bunga yang dipetik Dignus tadi.
"Dignus, bunga-bunga ini harum sekali," kata Taneaya dengan antusias, wajah polosnya penuh kekaguman mengundang senyum hangat kakaknya.
"Kau suka, Taneaya?" tanya Dignus sambil tersenyum hangat, menatap adiknya.
"Ya, Dignus, indah sekali," jawab Taneaya sambil memegang bunga itu dengan lembut.
Dignus menatap adiknya, lalu bertanya dengan penuh perhatian. "Bagaimana pelajaranmu hari ini, Taneaya?"
"Ahh ... itu ...," Taneaya berkata sambil mendengus lemah, dan kemudian melanjutkan, "pelajarannya cukup membingungkan. Aku tidak tahu bisa menyelesaikannya dengan baik atau tidak," kata Taneaya dengan wajah sedih dan khawatir.
Dignus memahami perasaannya dan memberinya sedikit dorongan semangat. "Kau pasti bisa. Kau pintar seperti ibu, Tane. Awalnya aku juga seperti itu, tapi seiring berjalannya waktu, aku semakin menikmatinya."
Taneaya mendengus. "Huh ... Aku tidak setekun dirimu. Aku lebih menikmati berlatih pedang daripada berdiam diri membaca tumpukan scroll-scroll tua itu."
"Aku tidak setuju ketika ayah memutuskan anak perempuannya harus belajar ilmu pedang. Itu sangat tidak cocok," protes Dignus sambil tetap memainkan rambut Taneaya dengan lembut.
"Kenapa?" tanya Taneaya, tampak penasaran dengan pendapat kakaknya.
"Aku hanya tidak setuju jika adik perempuanku harus melakukan apa yang dilakukan laki-laki, terutama jika itu adalah pekerjaan berat dan berbahaya," jawab Dignus, mencoba menjelaskan pandangannya.
"Itu adalah tradisi keluarga kita, jadi semua harus mengikutinya. Aku juga tidak keberatan, aku menikmatinya," jawab Taneaya sambil mengelus lembut pipi kakaknya
"Tetap saja, aku tidak setuju," protes Dignus, lalu ia melanjutkan, "kelak jika aku menjadi raja, aku akan menghapuskan tradisi itu. Aku akan memperlakukan wanita sebagaimana mestinya, sesuai dengan kodratnya."
Taneaya tersenyum mendengarnya. "Aku akan mendukungnya," kata Taneaya dengan lembut, menunjukkan dukungan pada kakaknya.
Hubungan antara Dignus dan Taneaya sangat dekat dan akrab. Sejak kecil, mereka selalu bersama, menikmati petualangan dan tumbuh bersama. Ketika mereka masih kecil, mereka sering bermain di taman kerajaan Satascar, menjelajahi setiap sudut kecil istana dan kastil, berlarian di bawah bayang-bayang pepohonan yang tinggi, dan bermain dengan riang di antara bunga-bunga yang bermekaran.