Seminggu yang lalu, hatinya hancur berkeping-keping saat melihat kedatangan Dignus yang digotong oleh Jendral Saul dan Sandise bersama dua prajurit lainnya. Caseyana, terpaku melihat kondisi anak keduanya yang dipenuhi perban, darah merembes dari luka-lukanya.
Tanpa dapat berkata-kata, hanya air mata yang mampu meluncur dari matanya, memenuhi ruangan dengan suara isakan yang histeris menyayat hati. Jendral Saul dengan tegas memerintahkan seorang pelayan untuk segera memanggil tabib kerajaan, mendesak waktu untuk menyelamatkan nyawa Dignus.
Mereka tak memiliki kesempatan untuk merayakan hasil perjuangan mereka. Kemenangan yang telah dicapai terasa hampa, terkubur oleh keadaan kritis Dignus. Kedatangan yang seharusnya dipenuhi sorak-sorai kebahagiaan malah digantikan oleh atmosfer kelam dan perasaan kekhawatiran.
Saat Dignus tergeletak karena serangan yang mengenainya, Sandise, yang sadar akan kejadian itu, langsung mengamuk. Rasa marah dan keputusasaan terpancar dari setiap gerakan Sandise yang tanpa belas kasihan melawan musuh-musuh mereka. Kehadiran dan tindakan Sandise menjadi pendorong keberanian bagi pasukan mereka, mendorong mereka untuk terus maju, rasa takut mereka menghilang.
Akhirnya, dengan keberanian Jendral Saul, mereka berhasil menduduki Kota Starastok di bawah kepemimpinan yang tangguh. Para prajurit kerajaan, dengan gagah berani, mengatasnamakan kemenangan mereka sebagai penghargaan terhadap Dignus dalam pertempuran itu.
***
Caseyana memandang makanan yang tersaji dengan penuh kekhawatiran, tampak tidak tersentuh di atas meja, langkahnya melaju mendekati Taneaya yang duduk di sisi ranjang.
"Taneaya," sapa Caseyana dengan lembut, sambil mengelus pundak anaknya itu. Taneaya menoleh dengan mata lelah pada ibunya. "Makanlah, kau belum makan sejak kemarin," lanjut Caseyana, berusaha memberikan kehangatan.
"Aku tidak lapar, Ibu," jawab Taneaya dengan suara pelan, namun terdengar jelas kelelahan dan kesedihan dalam jawabannya.
"Makanlah, biar ibu yang menjaga Dignus," pinta Caseyana dengan penuh kelembutan, mencoba membujuk Taneaya tak menyerah.
Namun, Taneaya hanya menggeleng dengan lembut. "Tidak, Ibu. Aku tidak ingin makan," jawabnya sambil memegang erat jemari Dignus yang terbaring lemah di kasur. Lalu, tak lama kemudian, tubuh Taneaya mulai bergetar, dan airmata mulai mengalir tanpa bisa ditahan, sedih menyelimuti hatinya.
"Kau juga harus memikirkan kesehatanmu, Taneaya. Lihatlah wajahmu, kau butuh istirahat, sayang," bujuk Caseyana sambil memeluk erat Taneaya dari belakang, mencoba memberikan kehangatan pada anaknya yang terasa rapuh. "Biarkan Ibu yang menjaga kakakmu," lanjutnya, berharap Taneaya dapat memberikan ruang pada dirinya sendiri untuk sedikit mengistirahatkan diri.
Taneaya terisak, isakannya memenuhi disetiap sudut kamar Dignus dengan penuh kekhawatiran. Namun, tak lama setelah itu, ia berhenti menangis, dan mulai merasakan pelukan hangat Caseyana. "Ibu, aku takut kehilangan Dignus. Aku takut kehilangannya," bisik Taneaya dengan suara serak.
Caseyana mengusap lembut punggung Taneaya. "Ssshh ... tenanglah, sayang. Dignus itu kuat, dan kita akan selalu berdoa untuk kesembuhannya. Kau perlu menjaga kesehatanmu juga. Jadi, makanlah sedikit. Itu akan membantumu."
Taneaya masih ragu, namun akhirnya ia mengangguk pelan. Caseyana memberikan senyuman lembut sambil menghapus air mata di pipi Taneaya. "Itu baru anakku, sekarang makanlah. Biarkan ibu yang mengurus Dignus."
Taneaya mengambil sejumput roti dan mengunyahnya pelan, mencoba menguatkan diri meskipun hatinya masih dipenuhi kecemasan. "Ibu, apa yang sebenarnya terjadi pada Dignus?" tanya Taneaya, mencoba mencari jawaban dari ibunya.
Caseyana merasa berat hati. "Dignus terluka, sayang, tak usah kau pikirkan sebabnya. Perang akan selalu berakhir seperti seperti ini dikedua belah pihak. Namun, kita harus tetap yakin. Para tabib kerajaan sudah merawatnya dengan sebaik mungkin. Kita harus percaya pada anugerah dari para Dewa. Semua akan baik-baik saja," ujar Caseyana penuh keyakinan, mencoba memberikan harapan pada anaknya.
Taneaya menatap ibunya dengan mata penuh ketidakpastian, namun melihat keyakinan dalam mata Caseyana, ia mencoba meresapi kata-kata itu. "Aku hanya ingin Dignus kembali, Ibu. Sehat seperti biasa," bisik Taneaya, matanya masih penuh cemas.