Peperangan dan Ambisi: Buku 3. Angin Yang Ternoda Dari Barat

Sicksix
Chapter #10

72. Persiapan

Enid, yang masih terpaku di tempatnya, merasa keheningan yang semakin mengental, seperti kabut beracun yang menyelimuti hatinya. Ekspresi wajahnya penuh dengan kebingungan. Seakan-akan ia terperangkap dalam labirin perasaan yang sulit diurai.

Sementara itu, Caseyana, yang masih memegang kepingan airmata di pipinya, berusaha mencari disetiap momen yang telah mereka lewati bersama, mencoba menyimpuljan akar permasalahan yang mungkin timbul. Caseyana berbicara didalam hatinya sendiri, "apa yang salah? Apa ada yang mungkin aku lewatkan?"

Airmata Caseyana mengalir, tak hanya karena kekecewaan, tetapi juga karena rasa bingung dan perasaan tidak mengerti. Ia mencoba untuk merangkul kesedihan dan mencari jawaban di dalam dirinya sendiri. "Enid, apa yang terjadi pada kita?" gumamnya sangat lirih sampai tak bisa didengar.

Pikiran Enid menjadi medan pertempuran emosi yang kompleks, dihantui oleh rasa bersalah dan cinta terlarang yang terus berkobar di dalam dirinya. Terlebih lagi, ia merasakan sentuhan pedih dihatinya karena mengetahui bahwa cintanya jelas dimuntahkan mentah-mentah.

Enid menyadari bahwa cintanya dengan Ibunya adalah suatu pelanggaran besar terhadap norma dan keyakinan terhadap para Dewa. Tetapi, bahkan dengan kesadaran ini, ia tak mampu menyingkirkan atau membuang jauh rasa cinta terlarang yang terus membara di dalam dirinya. Semakin Enid mencoba untuk menepisnya, semakin dalam pula luka yang terasa di relung hatinya.

"Aku pergi, Ibu," suaranya terdengar rapuh, dan Caseyana hanya diam tak bersuara, mengabaikan perasaan terpuruk yang melanda anak sulungnya. Caseyana merasa amarah memuncak di dalam dirinya, tetapi dia memilih untuk menjaga kata-katanya. Mulutnya terkatup rapat, meredam gejolak amarahnya, seolah-olah memahami bahwa situasi ini membutuhkan kebijaksanaan yang lebih dari sekadar kata-kata kasar.

Enid melangkah keluar dari kamar Dignus dengan perasaan berat yang membayanginya. Langkahnya seperti mencoba menanggung beban perasaan yang terlalu berat untuk diemban oleh seorang anak. Caseyana, yang duduk di sana, merasakan kehampaan yang tak terlukiskan.

Sesudah pintu tertutup, Caseyana tak mampu menahan air matanya yang tumpah begitu saja. Airmata itu tak hanya mewakili kepedihan, atas apa yang terjadi terhadap Dignus, tetapi juga sebagai respons terhadap perlakuan melenceng Enid, anak yang dikasihinya, terjerumus ke dalam cinta terlarang.

Dalam hening, Caseyana membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Sebuah beban berat telah turun menimpa keluarganya, dan dia merasa terjebak dalam labirin tragedi yang tak kunjung berakhir.

Tetesan air mata yang jatuh ke lantai kayu membuat desisan lembut. Caseyana, yang masih terduduk, mencoba meraih kekuatan. Namun, untuk saat ini, dia enar-benar tenggelam dalam bayang-bayang kegelisahan.

Lihat selengkapnya