Kedua mata mereka saling bertemu, melirik malu-malu, lalu dengan suara yang tenang, Enid mencoba meredakan ketegangan yang melingkupi mereka. "Ada perlu apa anda menemui saya, My Queen?"
Caseyana meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Enid. Matanya dipenuhi keinginan untuk memperbaiki hubungan yang terputus begitu lama. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali mereka berkomunikasi dengan baik, dan setiap detik terasa seperti waktu yang hilang dalam kesunyian istana yang besar ini. Hatinya penuh harap dan kegelisahan saat melihat Enid, anak sulungnya, yang seolah menjauh dan terasa begitu jauh meskipun mereka berada dalam istana yang sama.
Hari ini, Caseyana menyadari, ia tak bisa lagi mengabaikan panggilan hatinya untuk menyembuhkan luka di antara mereka. Meskipun canggung dan penuh rasa malu, ia telah memutuskan bahwa sudah tiba saatnya untuk membuka hati dan mengungkapkan perasaan ganjilnya itu. Sementara itu, Enid masih mencoba memahami maksud sebenarnya dari kedatangan ibunya.
Enid mencoba untuk tetap tenang meskipun perasaannya bergejolak. Kehadiran Caseyana, sang ratu, membuatnya merasa campur aduk antara kerinduan akan hubungan yang baik dan rasa sakit hatinya. Namun, dia memberikan ruang bagi ibunya untuk berbicara, menunggu penjelasan yang lama ditunggu.
Saat ini, suasana di antara mereka seperti tertutup oleh ketegangan yang begitu kental, hening berdenging di dalam ruangan itu.
"Enid ... Ibu ingin meminta maaf," gumam Caseyana, suaranya gemetar seiring dengan ketidakpastian yang membayangi hatinya. "Aku merasa sangat bersalah atas tindakanku saat itu."
Enid masih tetap diam, tatapannya kosong dan beku, seakan membatu dalam waktu. Ekspresinya yang tak berubah membuat Caseyana semakin gugup, seperti mencoba membuka pintu hati yang terkunci rapat.
"Tolong ... bicara padaku, Enid," lanjut Caseyana dengan suara lembut, berusaha menembus tembok dingin yang terbentang di antara mereka. "Aku tahu aku membuat kesalahan yang mengakibatkanmu menjauh dariku selama ini."
Namun, Enid masih tetap diam, mengunci dirinya dalam keheningan. Setiap kata yang diucapkan oleh Caseyana terasa seperti beban yang semakin bertambah, dan suasana semakin terasa canggung.
"Dari hari ke hari, aku merasa sangat tak tenang. Aku takut kau akan semakin menjauh," lanjut Caseyana dengan hati-hati, mencoba membuka hati Enid dengan kata-kata yang dipilih dengan teliti. "Aku ingin hubungan kita bisa kembali seperti dulu, sebagaimana layaknya hubungan ibu dan anaknya."
Enid akhirnya mengangkat matanya dan menatap ibunya dengan tatapan datar. Tanpa sepatah kata pun, keheningan di antara mereka semakin terasa seperti beban yang berat. Caseyana merasakan betapa jauh jaraknya di antara mereka sekarang, seperti sebuah jurang yang tak terlampaui.
"Aku ... aku tidak tahu apa yang harus kukatakan," kata Caseyana, suaranya serak karena tercekik oleh tangisnya yang tertahan. "Tapi aku ingin memperbaiki hubungan kita. Aku ingin kau tahu betapa aku menyayangi dan menghormatimu. Kau dan adik-adikmu adalah anugerah terbesar dalam hidupku, dan aku tidak ingin kehilangan kalian lagi."
Enid masih terdiam, tetapi dalam tatapannya terdapat sedikit kelembutan yang terlihat. Caseyana bertekad untuk tidak menyerah. "Kau tahu, Enid, aku selalu mengikuti setiap langkahmu dari kejauhan. Melihatmu tumbuh menjadi pangeran yang hebat membuatku bangga, tapi juga membuatku merasa bersalah karena aku tidak ada di sana untukmu."
"Aku tahu aku telah melukaimu dengan tindakan saat itu," lanjut Caseyana dengan suara penuh penyesalan, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan penyesalannya. "Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku berjanji, aku akan berusaha lebih baik. Aku ingin memperbaiki hubungan kita, dan aku berharap kau memberiku kesempatan itu, Enid."