Peperangan dan Ambisi: Buku 3. Angin Yang Ternoda Dari Barat

Sicksix
Chapter #17

79. Pertikaian Kecil

Terlihat tiga orang berkumpul di sekitar api unggun yang menyala terang, cahayanya membelah kegelapan malam di tepi hutan dekat Desa Brinetide. Saat itu malam, dan gelapnya lebih terasa dari biasanya, karena mendung tebal yang menutupi langit.

"Sialan, lama sekali bocah itu," ujar Olic, seorang laki-laki berambut abu-abu yang diikat secara simpul, ekspresinya terlihat gelisah.

Lalu laki-laki lain melirik kearah Olic. "Bersabarlah, dia bilang hanya sebentar. Lagipula Rolio tidak pernah mengingkari ucapannya," jelas laki-laki dengan warna rambut merah tua, paling beda sendiri dari kedua orang disampingnya yang memiliki rambut abu-abu. Dia adalah Kapten Markus.

"Kapten, haruskah kita menyusul," ujar Bergie pada Kapten Markus, menunjukkan keresahannya.

"Lihatlah," jawab Markus sambil mengacungkan jempolnya ke belakang.

Olic dan Bergie, dengan rasa penasaran mengikuti arah yang ditunjuk oleh jari Markus, dan mereka melihat Rolio berjalan mendekat ke arah mereka muncul dari kegelapan hutan.

"Maaf, aku sedikit terlambat," ujar Rolio, berdiri di dekat api unggun dengan senyum santai.

"Kau hampir membuatku mati kebosanan, bocah!" seru Olic, melampiaskan kekesalannya.

"Maafkan aku, Senior. Aku kelaparan tadi, jadi aku singgah sebentar ke Tavern untuk makan," jelas Rolio sambil mengusap-usap kepalanya, mencoba memberikan alasan.

"Kau—" ujar Olic, namun segera dihentikan oleh Markus dengan mengangkat tangannya memberikan isyarat agar mereka berdua berhenti.

"Sudah, hentikan," pinta Markus, menahan agar situasi tidak memanas lebih lanjut.

Mereka pun menghentikan pertengkaran kecil yang tak penting itu, menyadari bahwa ketidakhadiran sejenak Rolio bukanlah alasan untuk membuat suasana menjadi tegang.

"Bagaimana?" tanya Markus pada Rolio, mengalihkan perhatian ke topik yang lebih penting.

Rolio melaporkan kepada Kapten Markus dengan rinci. "Kondisinya tak ada yang berbahaya, Kapten. Jumlah pasukan mereka sangat sedikit, bahkan terlihat tidak terlatih. Mereka juga tidak menaruh curiga pada orang asing," jelasnya, memberikan gambaran detail mengenai situasi yang ia amati tadi.

"Apa kau sudah memilih rumah yang akan kita tinggali?" tanya Markus lagi, memberikan arahan lebih lanjut kepada Rolio.

"Ya, Kapten," jawab Rolio dengan mantap.

"Bagus. Kau dan Olic akan merampas rumah itu, aku dan Bergie akan mendatangi kepala desa, ada yang ditanyakan?" tanya Markus memastikan.

Mereka semua menggeleng, menandakan bahwa mereka telah memahami peran masing-masing dalam misi tersebut. Markus kemudian menambahkan, "baiklah, kalau begitu ayo kita mulai."

Saat mereka bersiap-siap, Bergie mematikan api unggun, menandakan awal dari aksi yang akan mereka jalankan. Lalu, dengan langkah tak sabar, mereka keluar dari hutan dan melewati jalan menuju desa yang terlihat tak jauh.

"Ingat, kita akan menyelesaikan dengan secepat mungkin malam ini," ujar Markus, lalu melirik ke arah Rolio dan menambahkan, "setelah berhasil mendapatkan rumah, kau langsung melapor pada Pangeran Enid," perintah Markus kepada Rolio.

"Mengerti, Kapten," jawab Rolio dengan sikap patuh.

Lihat selengkapnya