Peperangan dan Ambisi: Buku 3. Angin Yang Ternoda Dari Barat

Sicksix
Chapter #19

81. Jeritan Taneaya

 Lalu dengan kasar, Dignus mengigit bibir Taneaya hingga menimbulkan luka yang membuat darah segar mengucur. Taneaya tak kuasa menahan rasa sakit, dan teriakan kesakitan keluar dari mulutnya. "Akghh ..."

Setelah puas dengan perlakuannya yang kejam itu, Dignus melepaskan gigitannya dan menatap Taneaya dengan tajam, ekspresinya penuh dengan keangkuhan. "Kau adalah milikku, Taneaya. Hanya milikku!" teriak Dignus dengan nada sombong.

Taneaya, yang tengah merasakan rasa sakit di bibirnya, hanya mampu memalingkan wajahnya. Kehadiran Dignus semakin membuatnya merasa terjebak dalam ketakutan yang tak berkesudahan. Dignus semakin murka, dan dengan cengkraman kuat, ia menahan wajah Taneaya di antara kedua tangannya. "Kau berani mengabaikanku, heh!" desis Dignus dengan penuh amarah.

Taneaya dengan kekuatan terakhir mendorong tubuh Dignus, memberinya peluang untuk melarikan diri. Setelah berhasil menciptakan celah, Taneaya meluncur dengan cepat, menerobos derasnya hujan.

"Taneaya! Berhenti! Aku akan menghukummu!" teriak Dignus dengan suara yang merayap di belakangnya, memecah kesunyian pagi yang masih gelap. Dignus tak tinggal diam, segera mengejar Taneaya yang terlihat berlari menerjang hujan yang terus mengguyur.

Taneaya terus berlari tanpa memandang kebelakang, merangsek melalui rintik hujan yang semakin deras. Baju terusannya terangkat oleh angin, dan air hujan membuatnya basah kuyup. Meskipun teriakan marah Dignus semakin memekakkan telinga, Taneaya tak menghiraukannya, fokus pada tujuan untuk menjauh dari kakak laki-lakinya itu. Saat itu, keadaan masih sepi, tak ada seorang pun yang menyaksikan drama ini, karena kebanyakan orang masih terlelap di pagi buta ini.

Taneaya mengubah arahnya, berbelok tajam ke kanan menuju ujung lorong, dan melanjutkan perjalanannya dengan menaiki tangga menuju lantai atas. Setiap langkahnya terdengar bergema di lorong yang terdengar hampa.

Dignus tak berkeberatan untuk mengejarnya, memacu langkahnya agar tidak kehilangan jejak Taneaya. Kedua saudara itu menjadi pemain utama dalam pertunjukan kejar-kejaran ini.

Sampai akhirnya, ketika Taneaya mencapai lantai tiga, langkah Dignus semakin mendekat.

Taneaya, merasakan ancaman yang semakin mendekat, tiba di sebuah lorong yang tampaknya memiliki beberapa pintu kamar di kedua sisinya. Tanpa ragu, ia mendorong pintu itu dan segera masuk, berharap untuk sementara waktu dapat terhindar dari kejaran kakaknya. Namun, Dignus dengan sigap menahan pintu itu agar tidak tertutup sepenuhnya.

"Taneaya, biarkan aku masuk! Atau aku akan berbuat kasar!" teriak Dignus, penuh kemarahan. Taneaya, di balik pintu yang hanya sebagian tertutup, menggelengkan kepalanya dengan keras. Dengan kekuatan terakhirnya, dia mendorong pintu dengan kuat, berusaha untuk mengunci Dignus di luar.

"Menurutlah!" teriak Dignus, suaranya memecah keheningan di antara tembok kamar. Tinjunya terhuyung-huyung menghantam perut Taneaya dengan telak, mual secara tiba-tiba menyerang Taneaya.

Taneaya tersentak mundur, tubuhnya seperti kehilangan keseimbangan, dan akhirnya ia jatuh terduduk dengan mukanya yang pucat. Serangan tersebut mengakibatkan kepalnya terasa seperti berputar, dan dengan cepat dia menahan diri untuk tidak muntah. "Hoeekkk ..." suara desakan mual keluar dari bibirnya, meskipun usahanya untuk menahannya semakin sulit.

Dignus, dengan penuh emosi membanting pintu kamar Taneaya dengan keras, menghasilkan dentingan yang menggetarkan seluruh ruangan. Pintu itu Dignus kunci dari dalam, mengekang kebebasan Taneaya. Langkah-langkahnya yang berat membawanya mendekati Taneaya yang masih merintih kesakitan.

Setelah berdiri di depan adik perempuannya yang lemah, Dignus tanpa ampun menarik rambut Taneaya, memaksanya berdiri, lalu membanting tubuhnya di atas kasur dengan kasar. Tubuh Taneaya terpental, menabrak kasur dengan keras, menyebabkan ia merintih kesakitan. Dignus, yang tenggelam dalam kegilaannya, terus mendekati Taneaya, memandanginya dengan penuh keangkuhan dan kepuasan atas kekuasaan yang baru saja ia tunjukkan.

"Dengarkan baik-baik, Taneaya," ujar Dignus dengan suara berat, tatapannya penuh kebencian. "Kau tak bisa melarikan diri dari takdirmu. Kau milikku, dan tak ada tempat untukmu selain di bawah kendali kuasaku."

Lalu, Dignus menyusul dan menduduki tubuh Taneaya.

"Dignus, ini sudah keterlaluan!" Taneaya berteriak, suaranya penuh dengan keputusasaan dan rintihan, sementara setiap sentimeter tubuhnya terasa dilanda rasa sakit.

Dignus hanya tersenyum sinis sebagai respons atas teriakan Taneaya, dan dengan dinginnya dia berkata, "kau masih harus banyak belajar, Taneaya. Ini adalah konsekuensi dari tindakanmu."

Taneaya terus melawan dari bawah. "Kenapa kau melakukan ini? Kita adalah keluarga," ujar Taneaya merintih.

Lihat selengkapnya