"Bagaimana keadaannya hari ini?" Tanya Dignus pada Somi disela-sela makannya.
"Sama seperti kemarin, lady Taneaya hanya berdiam diri di atas tempat tidurnya, sir, menolak untuk makan," Jawab pelayan itu.
Terhitung sudah tiga hari setelah kesadarannya, dengan penuh kesabaran untuk meredam kecemburuan dan nafsunya, Dignus melakukan pengobatan. Di tiga hari itu ia selalu berdebat dengan Sandise dan tabibnya. Namun kondisinya semakin membaik, luka tusuknya sudah terlihat mengering dengan cepat.
"Hemmm ... begitu ya." Dignus bergumam sambil menganggukan kepalanya.
Somi, yang masih setia berdiri di samping Dignus, mengangkat pandangannya dengan sopan.
"Maaf sir, apakah ada lagi yang ingin ditanyakan?" tanya Somi.
Dignus tersenyum, mata merahnya berkilau. "Cukup, Somi. Terima kasih," jawabnya penuh apresiasi. Dignus kembali membenamkan dirinya dalam kenikmatan makan paginya, sementara cahaya matahari menyapu ruangan makan itu.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, sir. Saya akan mengantarkan makanan untuk lady Taneaya," ucap Somi, menunduk hormat. Di ujung jari-jari halusnya, ia meraih nampan yang sudah dipenuhi oleh makanan .
Namun, sebelum ia melangkah jauh, Dignus memanggilnya kembali. "Tunggu, Somi," serunya dengan suara tegas. Mendengar panggilan itu, Somi berhenti dalam langkahnya dan menoleh, matanya yang teduh penuh pertanyaan.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, sir?" tanya Somi, kembali memberikan senyuman ramahnya.
"Biar aku saja yang mengantarkan itu," ujar Dignus sambil bangkit dari kursinya dengan anggun.
Somi, dengan sopan meletakan nampan penuh makanan itu diatas meja. "Baik, sir. Saya permisi dulu." Senyumnya melayang ke wajah Dignus. Lalu, pelayan muda itu meninggalkan ruangan menuju dapur.
Entah mengapa, hari ini Dignus merasa dorongan yang kuat untuk segera membebaskan dirinya dari belenggu nafsunya yang telah lama terpendam. Saat tiba di depan pintu kamar Taneaya, tampaklah empat prajurit penjaga berdiri dengan penuh kewaspadaan, seolah sedang menyimak setiap gerak langkah yang mungkin dapat membayangi keamanan Taneaya.
"Duke," sapa salah satu prajurit dengan penuh hormat, diikuti dengan ketiga rekannya yang segera membungkuk rendah sebagai bentuk penghargaan kepada tuan mereka.
Dengan penuh kebijaksanaan, Dignus memberikan instruksi tegas. "Istirahatlah. Biar aku yang akan menjaga Taneaya hari ini." Kata-katanya seolah meruntun keheningan, dan dengan patuh, prajurit-prajurit itu menundukkan kepala sebagai bentuk ketaatan yang tidak terbantahkan.
Ketika langkah mereka menjauh, Dignus merapatkan tubuhnya ke pintu kayu yang ada di depannya. Tatapan tajamnya melayang pada setiap serat kayu yang membentuk permukaan pintu.
Setelah yakin bahwa prajurit-prajurit telah menjauh, Dignus mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, terdengar dentingan ringan. Walaupun pintu itu mungkin terkunci rapat, Dignus yakin bahwa ia memiliki cara khusus untuk membukanya, dia memiliki kunci tersendiri yang bisa membuka setiap ruangan yang ada di tempat ini.
"Taneaya," bisiknya dengan nada lembut. Tatapannya tertuju pada pintu, menunggu jawaban dari balik kayu pintu.
Namun, tanpa suara jawaban dari dalam kamar, Dignus tak kehilangan kesabaran. Ia kembali mengetuk pintu dengan lembut, "Taneaya?" panggilnya lagi, mencoba menembus keheningan yang semakin terasa dalam.
Namun, hening tetap menyambutnya. Tidak ada jawaban, tidak ada isyarat bahwa Taneaya mendengar seruan kakak laki-lakinya itu. Dengan keraguan yang semakin terasa, Dignus memutuskan untuk memberikan tawaran lebih jauh. "Bolehkah aku membuka pintunya?" ujarnya, tetapi tak satupun jawaban yang melintas dari penghuni kamar.
"Begitu ya, baiklah, akan kubuka pintunya," ucap Dignus dengan suara pelan, seolah memberi pengumuman pada si pemilik kamar.
Setelah pintu itu terbuka, Dignus terkejut saat ia menatap ke sekeliling kamar yang diselimuti kegelapan dan bau yang tak sedap.