Peperangan dan Ambisi: Buku 3. Angin Yang Ternoda Dari Barat

Sicksix
Chapter #40

102. Di Bawah Pohon

Eran terbaring di samping pohon besar, tegak menjulang diantara padang rumput yang terhamapr luas di lereng bukit itu. Di atasnya bayangan dedaunan seperti berkilau.

Angin berdesir perlahan-lahan, dahannya berayun seirama dengan alunan angin, merangsang indranya yang tak bisa lepas dari pikiran kelam yang merasuki dirinya selama ini. Seolah, sesaat penat menguap pergi. Matanya terfokus pada pemandangan yang memanjakan mata, di hadapannya terhampar lembah yang hijau subur. Dari jauh jajaran pepohonan seperti berbaris tertib, bahkan aliran Sungai Tossing Rill yang memanjang tampak seperti benang kecil.

Matanya benar-benar dipaksa menyelam oleh keindahan yang tampak dimatanya. Untuk saat ini, Tidak ada yang bisa menandingi ketenangan yang disuguhkan bukit ini.

Eran menikmati setiap detik, ia merasakan kedamaian dalam dirinya, di tengah pelik kehidupan yang sering membuatnya bergumul dengan kecemasan dan tekanan, bahkan ambamg kematian. Saat ini, ia merasa seakan-akan menjadi bagian dari alam ini, bebas.

Namun, kesenyapan itu tidak bertahan lama. Tak lama setelah Eran memejamkan matanya untuk sebentar, suara langkah kaki pelan memecah keheningan. Ia membuka matanya dan melihat Kain mendekatinya dengan senyum khas-nya.

"Tebakanku benar, kau ada di sini," sapa Kain.

Eran sempat terkejut mengetahui kedatangan Kain yang tiba-tiba. Ia tidak sempat melihat kedatangan Kain, tetapi ia merasa senang mendapati teman sekaligus anggota kelompoknya itu. "Kau tak terdeteksi, Kain," ucapnya terkesan.

"Karena aku Pathfinder," jawab Kain dengan bangga.

"Kau membuatku mengantuk, Kain."

"Sial, aku hanya bercanda."

Mereka pun tertawa, lalu Kain pun merebahkan badannya di samping Eran ikut menikmati pemandangan di depan matanya.

"Eran, aku penasaran dengan satu hal," ujar Kain.

"Apa itu?" tanya Eran sambil menolehkan kepalanya sedikit.

"Kenapa kau selalu memilih untuk menyendiri? Aku tau ini mungkin sedikit sensitif, namun banyak dari anggota Band yang menanyakan hal yang sama."

Eran melirik kearah Kain sejenak lalu kembali memandang kearah langit sambil mengangkat satu tangannya, memain-mainkan telapaknya.

"Aku juga tak tau, aku bingung untuk menjawab pertanyaanmu itu," jawab Eran.

"Apa kau tak senang jika berkumpul dengan anggota Band lainnya? Apakah ada yang menganggumu?" tanya Kain lagi.

"Tidak. Aku sangat senang dengan kehadiran mereka. Namun ...." Eran menggantung kata-katanya sesaat, lalu melanjutkan, "aku hanya seolah-olah merasa sepi saat berada dikeramaian. Jika kau menanyakanku kenapa, aku tak bisa menjawabnya," tutup Eran.

"Hmm," Kain hanya bergumam dan memandang langit-langit biru diatasnya, yang seolah-olah mengejeknya dengan kedikdayaannya.

Kain benar-benar merasa kasihan, sebenarnya Kain bisa menyimpulkan apa yang sedang Eran derita, namun ia memilih untuk diam. "Lalu, bagaimana pendapatmu saat bergabung dengan kelompok Band of de Sun? Aku pernah menanyakan ini saat kita di tepi Sungai Tossing Rill, tapi aku juga tau kau tak mau menjawabnya karena saat itu kita bersama Tane."

"Aku merasa sangat senang, Kain. Dan aku merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Yaitu, kasih sayang orang lain. Aku merasa seperti memiliki keluarga sekarang." Jawab Eran dengan senyum lebar di bibirnya.

Kain mengangkat satu alisnya, terlihat mengerti suara hati yang sedang disampaikan oleh Eran. Dan terdengar di hati Eran, ia merasa seperti mengalami perubahan dalam hidupnya, setelah bergabung dengan kelompok Band of de Sun. Namun bukan itu yang ingin Kain dengar.

"Apa pun yang pernah terjadi pada masa lalumu, untuk saat ini, masuk di kelompok ini adalah sebuat keputusan yang tepat. Aku senang mengetahui kenyataan jika Band of de Sun adalah tempatmu merasakan kebahagiaan. Kami akan menjagamu, Eran, seperti keluarga," kata Kain dengan nada lembut.

Eran tersenyum lalu menghela nafas.

"Aku ..." ujar Eran dengan suara serak.

Kain mengangguk dan duduk di samping Eran, melihat wajahnya penuh perhatian. Eran membuka mulutnya tiba-tiba, seolah-olah ingin melepaskan sedikit beban dari pikirannya.

"Dulu, masa laluku kulalui dengan kesepian, sangat sepi. Aku tumbuh tanpa keluarga, dan tidak ada siapa pun yang peduli dengan keberadaanku. Tak ada yang menyadari bahwa aku merasa sangat kesepian. Aku belajar sendiri, menjalani hidup sendiri, bertahan hidup sendiri, hingga kepribadianku yang rapuh terbentuk dengan kokoh."

Kain menyimak dengan seksama, melihat saat-saat di mana Eran merasakan begitu dalam betapa terasingnya ia dalam menghadapi hidup tanpa cinta dan kasih sayang. Ia mengangguk, mengerti bagaimana perasaannya.

Lihat selengkapnya