"Kain!" pekik Taneaya, tubuhnya bergetar seiring dengan teriakan tersebut, seakan tersadar Taneaya segera menutupi tubuhnya yang telanjang dengan selimut.
Kain membuang wajahnya menjauh, setelah sadar dengan kondisi Taneaya saat ini. "Cepat, pakai bajumu. Waktu kita tak banyak," ujarnya dengan terburu-buru.
Taneaya, meski masih merasakan rasa perih di beberapa bagian tubuhnya, berusaha dengan cepat untuk mengenakan pakaian yang tersedia di lemari. Langkah-langkahnya tertatih, kegugupan dan kekhawatirannya menumpuk di dalam kepalanya.
Sementara Kain menunggu di depan pintu, ekspresinya menunjukkan kewaspadaan dan ketegangan. "Ayo, cepat, Taneaya," pintanya dengan suara tegang, yang ada di dalam pikirannya sekarang hanyalah bisa segera keluar dari situasi yang semakin menegangkan ini.
"Bagaimana dengan Eran?" Taneaya bertanya dengan penuh harap, matanya mencari jawaban di ekspresi wajah Kain yang tiba-tiba menjadi serius.
Kain, tanpa berkata-kata, memasang wajah kecut dan membuang mukanya, memberi petunjuk jelas akan kabar yang tak menggembirakan. Taneaya, yang menangkap maksud dari ekspresi Kain, hanya bisa tertunduk, menggigit bibirnya dengan kuat, berusaha menahan airmata yang terancam keluar dari mata matanya yang lelah dan cemas.
"Pendek, ayo cepat!" pekik Sandise di balik pintu, memberikan seruan keras untuk mengingatkan situasi yang terus bergerak cepat.
"Ayo, Tane," ujar Kain sambil mejulurkan tangannya.
Taneaya dengan langkah lemas menghampiri Kain.
Setelah keluar dari kamar Taneaya terkejut dengan keberadaan Sandise. "Kau ...."
"Sudah kubilang, seorang Wind pasti menepati perkataannya. Ayo, kita harus bergerak cepat," ujar Sandise lalu memimpin jalan.
Irlof memberikan jubah merah pada Taneaya. "Kapten, kenakan ini," pintanya.
Taneaya tersenyum melihat Irlof dan kawan-kawan nya. "Terima kasih," ujar Taneaya sambil menerima jubah itu dan mengenakannya. Lalu ia menyelipkan rambutnya dibelakang dan menutupi kepalanya dengan tudung jubah itu.
"Ayo," seru Kain.
Mereka pun segera melangkah pergi mengikuti Sandise yang berada paling depan.
Tanpa rintangan mereka berhasil turun dari lantai tiga, mereka sesekali berpas-pasan dengan pelayan yang lalu lalang, dan beberapa prajurit yang terlihat berpatroli di kediaman itu.
Saat di tangga, hendak turun ke lantai satu, Sandise menganggkat satu tangannya, meminta mereka untuk berhenti sejenak.
Lalu ia menoleh pada Kain yang berdiri tepat dibelakangnya. "Aku akan memeriksa kondisi di bawah dulu," ujarnya, lalu seketika bergerak menuruni tangga.
Sandise memeriksa lobby, terlihat dua penjaga menjaga pintu masuk, lalu dia menoleh ke sebelah kiri, lorong panjang yang diujungnya persis terlihat dua prajurit berdiri didepan pintu, dimana di dalamnya berada Eran, Dignus dan Enid.
Rombongan itu harus melewati itu dan berbelok ke kanan lalu menuju satu lorong kecil lagi.
Sandise menoleh memberi isyarat pada Kain dengan dua jarinya, Kain beserta rombongan segera bergerak menghampiri Sandise.
"Ayo kita lewat lorong itu," ujar Sandise.
Kain mengernyit curiga. "Kenapa kita tidak lewati pintu utama seperti kita masuk tadi?" tanya Kain penasaran.
"Apa kau tak lihat banyak prajurit diluar sana berkumpul!" jawab Sandise dengan berbisik.
"Ah, baiklah," ujar Kain.
Taneaya berdiri Tegang di belakang Kain, memilih untuk tidak berbicara. Dalam keheningan, mata mereka bertemu, menegaskan keyakinan satu sama lain. Sandise, mencoba mengingatkan, ia menoleh pada Kain dan kelompoknya, berbicara dengan suara berbisik.
"Ingatlah, jangan pernah melakukan gerakan mencurigakan. Ada ruangan kerja Dignus di sepanjang lorong itu. Dan, ruangan yang berada di ujung lorong itu, kalian melihatnya bukan? Kalian dapat melihat dua prajurit sedang berjaga di depannya. Ruangan itu merupakan ruang tahanan Kota, di mana Eran, Dignus, dan Enid berada di dalamnya. Aku harap kalian memahami situasi ini," jelasnya.