Peperangan dan Ambisi: Buku 3. Angin Yang Ternoda Dari Barat

Sicksix
Chapter #47

109. Kehilangan

Setelah Eran dan Enid pergi meninggalkan ruangan tawanan kerajaan, Dignus terlihat belum bergerak dari tempatnya untuk beberapa menit. 

"Sir ..." ujar salah satu prajurit mencoba menyadarkannya. "Pangeran Enid sudah pergi," ujarnya lagi mencoba menenangkan. 

Prajurit itu meminta bantuan temannya, lalu temannya itu menyusulnya.

Seketika Dignus mencoba menenangkan nafasnya. Dibantu dua prajuritnya, Dignus berdiri. Lalu menantap kedua prajuritnya itu dengan tatapan kosong.

Dua prajurit itu menunggu reaksi dari tuannya, dengan pelan Dignus mengambil pedang yang terselip dipinggang salah prajurit.

Dengan dua tebasan cepat, dia berhasil melayangkan dua kepala prajurit itu. Darah mengucur mengenai wajah dan tubuh Dignus sebelum kedua mayat itu tergeletak. Kepala mereka jatuh di lantai dan menggelinding ke arah yang berbeda.

Dignus membuang pedang itu, lalu dengan tatapan kosong dia meninggalkan ruangan itu. Dia mencoba menenangkan pikirannya setelah trauma masa lalu atas siksaan Enid kembali.

Dignus sekarang berjalan di lorong kosong kediamannya, sambil sesekali memukul-mukul kepalanya sebagai upaya membuang jauh traumanya. 

"Taneaya ..." gumamnya lirih. Setelah mengucapkan itu, pikirannya sekarang beralih pada adik perempuannya itu. Dia ingin segera bertemu dengannya dan melampiaskan semuanya pada Taneaya.

Saat melewati tangga menuju lantai dua, Dignus sempat terjatuh, lalu seketika kembali berdiri. Terlihat beberapa prajurit mencoba menolongnya, namun mereka tak berani setelah melihat kondisi yang menakutkan dari pemimpinannya.

"Taneaya ... siksa ..." gumamnya terus-menerus. Sampai tanpa sadar dirinya sudah berada di lantai tiga dan berdiri tepat di depan kamar yang digunakan untuk mengurung Taneaya.

Dengan kasar dia membuka pintu itu. Lalu pandangannya seketika menoleh kearah ranjang, dia mendekat dan tak menemukan keberadaannya. 

"Taneaya!" teriaknya. Lalu dia mencari di segala sudut kamar, namun dia tidak menemukannya juga. "Dimana kau, adikku yang cantik," ujar Dignus dengan nada sedikit ketakutan.

Lalu dia berlari menuju ruangan kecil di kamar itu, dia menyingkap tirai di depannya dengan kasar. Seketika matanya melebar besar hingga mau keluar. 

Dia tidak menemukan keberadaan adik perempuannya itu.

"Taneaya!" teriaknya.

Lalu dengan panik dia berlari keluar kamar menyisiri setiap kamar di lantai itu, dia tidak menemukan sosoknya.

Lalu turun ke lantai dua, Dignus memeriksa setiap kamar, namun nihil. Dia tidak menemukan sosok yang dicarinya. 

Wajahnya sangat panik, dia kembali berlari menyusuri lorong sampai tubuhnya tanpa sadar menabrak beberapa pelayan.

Dengan cepat Dignus menyergap salah satu dari tiga pelayan. "Dimana Taneaya! Cepat katakan!" teriak Dignus, membuat gadis itu ketakutan.

Pelayan lainnya terlihat ketakutan, bahkan ada yang lari histeris karena ketakutan. Tubuh Dignus terlihat seperti habis di siram oleh darah, bau anyir tercium jika berada di dekatnya.

Dignus tetap berteriak, menanyakan keberadaan Taneaya. Mendengar teriakan histeris para pelayan, beberapa prajurit segera menyusul menuju lorong di lantai dua.

Lihat selengkapnya