Perang Dunia. N.Y.A.T.A - Need Your Action: The Ark

Aboe Redblack
Chapter #3

BAB 3 - GAME CENTER

Sore hari. Langit mulai berubah warna, dari terang yang tegas menjadi lembut dan memanjang. Cahaya matahari tidak lagi menyilaukan, tapi cukup untuk menarik bayangan panjang di sepanjang jalan. Orang-orang masih beraktivitas seperti biasa, kendaraan lewat dengan ritme stabil, dan dunia terasa… normal. Terlalu normal, jika dibandingkan dengan percakapan yang belum selesai di antara mereka.

Evander dan Zeth berjalan berdampingan tanpa banyak bicara. Bukan karena tidak ada yang ingin dibahas, tapi karena terlalu banyak hal yang masih menggantung. Percakapan mereka sejak keluar kelas tidak pernah benar-benar selesai. Hanya tertunda… menunggu momen yang tepat untuk dilanjutkan.

Di depan mereka, sebuah bangunan mulai terlihat berbeda dari yang lain. Tidak terlalu besar, tidak juga mencolok secara berlebihan, tapi cukup untuk menarik perhatian. Dindingnya didominasi kaca gelap yang memantulkan cahaya sore dengan cara yang dingin. Garis-garis LED tipis membentang horizontal, menyala stabil tanpa berkedip. Dan di bagian atas… sebuah tulisan menyala pelan, seperti tidak berusaha menarik perhatian, tapi tetap berhasil.

NEURAL GAMING HUB

Zeth berhenti sebentar. Menatap ke atas.

"...ini tempatnya."

Evander ikut berhenti. Matanya mengamati dengan lebih detail. Tidak ada poster promosi, tidak ada suara ramai seperti game center biasa, tidak ada musik yang sengaja diputar untuk menarik pelanggan. Tempat ini… terlalu tenang. Terlalu bersih. Terlalu… terkontrol.

"Masuk?"

Evander tidak menjawab. Dia langsung melangkah maju.

Pintu terbuka otomatis. Udara dingin menyambut. Dan dalam satu langkah itu saja… ada sesuatu yang berubah. Dunia luar yang tadi terasa nyata… seperti tertinggal di belakang. Suara jalanan meredup. Cahaya berubah. Bahkan langkah kaki mereka terasa lebih berat… atau mungkin lebih jelas.

Di dalam, suasana benar-benar berbeda dari ekspektasi. Tidak ada mesin arcade, tidak ada suara tombol ditekan, tidak ada layar berkedip penuh warna. Yang ada hanyalah barisan kursi. Puluhan. Mungkin ratusan. Tersusun rapi seperti formasi yang sudah diperhitungkan.

Setiap kursi memiliki desain futuristik dengan satu perangkat utama: helm besar yang tergantung di atasnya, seperti sesuatu yang menunggu untuk digunakan. Kabel-kabel tersusun rapi, tidak berantakan, mengalir ke sistem pusat dengan presisi.

Beberapa orang sudah duduk.

Diam.

Tidak bergerak.

Mata mereka tertutup. Tubuh mereka rileks. Nafas mereka stabil. Seolah-olah… mereka sedang tidur. Tapi suasananya tidak terasa seperti ruang istirahat. Lebih seperti… ruang transisi.

Zeth berbisik pelan.

"...ini agak serem sih."

Evander tidak menjawab. Matanya bergerak dari satu kursi ke kursi lain, mengamati detail kecil, lampu indikator yang berkedip pelan, sinkronisasi antar perangkat, dan pola yang tidak terlihat oleh orang biasa.

"Neural Dive..." gumam Zeth.

Evander akhirnya bicara.

"Mereka nggak main."

Zeth menoleh.

"Terus?"

Evander menatap deretan pemain itu lebih lama.

"Mereka… masuk."

Zeth tidak membalas. Karena dia tahu… itu bukan sekadar pilihan kata. Itu penjelasan.

Di sisi ruangan, sebuah layar besar menampilkan status sistem. Tidak berisik, tidak mencolok, tapi jelas bagi siapa pun yang memperhatikan.

ACTIVE USERS: 128

WORLD STATUS: RUNNING

GLOBAL EVENTS: STABLE

Zeth membaca cepat.

"World status… running?"

Evander langsung memahami.

"...berarti dunia itu nggak pernah berhenti."

Zeth tersenyum tipis.

"Welcome to The Ark, ya."

Mereka melangkah lebih dalam. Semakin jauh masuk, suasana semakin terasa aneh. Bukan karena teknologinya, justru karena ketenangannya. Tidak ada interaksi. Tidak ada komunikasi. Semua orang yang ada di ruangan itu… sudah berada di tempat lain.

Langkah mereka melambat. Sampai akhirnya Evander berhenti.

Zeth ikut berhenti.

"...kenapa?"

Evander tidak langsung menjawab. Tatapannya terkunci ke satu titik.

Di dekat pintu masuk… seseorang duduk di kursi tunggu.

Tidak memakai helm.

Tidak masuk ke sistem.

Hanya… duduk.

Seorang anak kecil. Sekitar sepuluh tahun. Kakinya tidak menyentuh lantai dengan sempurna, berayun pelan tanpa ritme jelas. Matanya mengarah ke layar besar. Tidak berkedip. Tidak bergerak.

Zeth mengernyit.

"...dia nggak main?"

Evander tidak menjawab. Tapi ekspresinya berubah. Lebih fokus. Lebih tajam.

Ada sesuatu yang tidak cocok.

Anak itu tidak melakukan apa-apa. Tapi justru itu yang terasa salah. Seolah-olah dia bukan bagian dari tempat ini… tapi juga bukan orang luar.

Lihat selengkapnya