Langit bergemuruh, memecah keheningan malam. Di kejauhan, di tengah gelapnya langit, tampak titik-titik kecil berwarna oranye kemerahan. Sekilas terlihat seperti bola api yang bergerak cepat, melesat melintasi langit.
Gemuruh itu semakin dekat. Semakin jelas. Itu bukan bola api. Itu rudal-rudal yang diluncurkan oleh Sundara, melesat menuju Kota Bastiron, daerah pinggiran Varendra.
Bastiron berbatasan langsung dengan Fort Suryaksa, salah satu kota benteng strategis milik Sundara. Varendra menyadari betul ancaman dari wilayah itu, sebab itulah mereka menempatkan kekuatan militernya di Bastiron.
Malam itu, Sundara meluncurkan serangan pembuka. Tak ada peringatan, tak ada sirine perang, rudal-rudal diarahkan untuk membombardir pusat strategis militer di kota tersebut. Upaya untuk melemahkan pertahanan di perbatasan.
Rudal itu semakin dekat. Gemuruh berubah menjadi desing tajam yang memekakkan telinga. Garis-garis asap putih tertinggal di langit malam, memanjang seperti ekor bintang yang tak wajar.
Warga keluar dari rumah. Banyak yang menengadah, menatap langit dengan wajah pucat. Sebagian mengangkat ponsel, merekam pemandangan aneh yang melintas di atas kepala mereka. Sebagian lagi hanya terpaku, menatap dengan campuran bingung dan putus asa.
SSSIIIUUUTTT! DUUAAARRR!!!
Ledakan pertama memecah malam. Sebuah rudal menghantam gedung markas militer Varendra yang berdiri di tengah kawasan permukiman.
Bola api raksasa meledak ke udara, membentuk awan yang mengembang seperti jamur. Asap hitam pekat membumbung puluhan meter ke langit.
Gelombang kejut menyapu jalanan. Kaca-kaca rumah pecah berderak. Dinding retak. Atap beterbangan. Beberapa bangunan runtuh seketika. Namun serangan itu belum selesai. Rudal lain datang menyusul, menghujani jantung Kota Bastiron tanpa ampun. Ledakan demi ledakan menyala di berbagai sudut kota.
Malam yang sebelumnya hitam kini berubah menjadi lautan cahaya oranye. Api menjilat bangunan. Gedung-gedung runtuh satu demi satu. Kebakaran menyebar di mana-mana.
Hening sekejap. Setelah itu, suara manusia mulai terdengar. Tangis. Jeritan. Panggilan nama yang terputus di udara. Sirine ambulans dan mobil pemadam kebakaran mulai bersahutan, meraung menembus asap dan debu yang masih menggantung di udara.
Di antara puing-puing yang masih mengepulkan asap dan bara, di bawah langit yang kini berwarna kelabu kotor bercampur jingga redup, seorang anak kecil berdiri sendirian di tengah jalan yang retak.