Perang Informasi

Rian Nugraha
Chapter #4

BAB 3 - Bayangan Sundara

Di dalam istana megah Presiden Sundara di Kota Sundapura, malam itu terasa lebih berat dari biasanya. Suryan Arka duduk diam di kursi kebesarannya yang berlapis kulit hitam mengkilap.

Cahaya lampu kristal di atas kepalanya jatuh redup, menyinari meja kerjanya yang berantakan. Tumpukan dokumen berserakan. Di asbak emas di depannya, sebatang cerutu masih menyala, asapnya menari pelan ke udara.

Tangan kanan Suryan mengelus bulu hitam kucingnya yang meringkuk tenang di pangkuan. Sesekali dia menghela napas panjang dan berat, seolah beban seluruh negeri berada di dadanya.

Di layar televisi besar di depan, siaran berita terus memutar gambar-gambar mengerikan: pasukan Sundara mundur porak-poranda dari Hutan Ordelia. Ledakan cahaya, asap hitam mengepul dan wajah-wajah letih prajurit yang kalah. Setiap kali reporter menyebut kekalahan telak, rahang sang presiden mengeras.

Dia mengambil cerutu, menghisapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap perlahan sambil memejamkan mata. Jari-jarinya menekan pelipis, berusaha meredam gejolak di kepala.

Pintu kayu berat ruangan terbuka pelan. Menteri Pertahanan Kaelen Viresta melangkah masuk dengan langkah tenang namun tegas. Kacamata tipisnya berkilat di bawah cahaya lampu. Di tangan kanannya, membawa map hitam berisi proposal.

Suryan membuka mata, tatapannya tajam menusuk.

“Viresta... aku harap kali ini kau membawa kabar yang tak membuatku semakin pusing,” ucapnya pelan, suaranya lelah tapi penuh wibawa.

Menteri itu membungkuk hormat, lalu mendekat.

Lihat selengkapnya