Perang Informasi

Rian Nugraha
Chapter #5

BAB 4 - Narasi di Arkasena

Hujan deras mengguyur Arkasena, kota elit yang menjadi jantung militer sekaligus pertahanan negara Sundara. Butiran air menghantam kaca-kaca tinggi markas besar, menciptakan irama dingin yang kontras dengan ketegangan di dalam ruangan.

Di podium utama, Panglima Militer, Niskala Cakra berdiri tegak. Seragamnya rapi, sorot matanya tajam. Dua pengawal berdiri diam di belakangnya, nyaris tak bergerak. Di hadapannya, puluhan kamera mengarah tanpa jeda. Kilatan cahaya memecah ruangan setiap kali membuka suara.

“Hutan Ordelia memang menjadi titik tekanan bagi pasukan kami,” ucapnya tegas. “Kami tidak kalah. Pasukan Sundara masih berdiri kokoh dan mengamankan perbatasan Bastiron.”

Nada bicaranya stabil. Terukur. Seolah tak ada ruang untuk keraguan. “Kami pastikan seluruh pasukan dalam kondisi baik dan tetap berada dalam kendali penuh.”

Belum selesai kalimat itu menggantung, suara wartawan langsung bersahutan.

“Bagaimana kondisi terkini di lapangan?”

“Apakah akan ada serangan balasan?”

“Berapa jumlah korban jiwa sebenarnya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu saling tumpang tindih, membentuk riuh yang nyaris tak terkendali.

Di sudut ruangan, seorang pemuda duduk terpisah di atas lantai. Tidak ikut berebut suara. Tidak mengangkat tangan, hanya menunduk, jari-jarinya bergerak cepat di atas layar ponsel, mencatat setiap kata yang keluar dari podium.

Prakarsa. Tatapannya tenang. Fokusnya tajam. Tak mencari sorotan; ia mengumpulkan informasi, menggali makna.

Dari sisi ruangan, langkah seseorang mendekat. Sepatu kulitnya memantul pelan di lantai marmer. Kaelen Viresta, Menteri Pertahanan Sundara, berhenti tepat di sampingnya.

“Prakarsa,” ujarnya rendah, lalu duduk di sebelahnya, “kenapa kau tidak bergabung dengan yang lain?”

Tanpa menoleh penuh, pemuda itu menjawab santai, “Tidak ada bedanya. Pertanyaan mereka berulang, jawabannya juga sama,” ia berhenti mengetik sejenak. “Aku tidak butuh gambar atau rekaman. Aku hanya butuh kata-kata.”

Viresta tersenyum tipis. Ada sesuatu yang mengamati dalam tatapannya.

Lihat selengkapnya