Malam turun di Kota Neurovia dengan sunyi yang terasa berat. Lampu-lampu kota menyala dingin, memantul di permukaan jalan yang basah oleh sisa hujan.
Di tengah kota itu, berdiri megah gedung Badan Pusat Riset Penelitian Informasi. Bangunan tinggi dengan dinding kaca gelap yang menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang terlihat.
Raven Karyastra berjalan paling depan setelah dirinya. Wajahnya gelisah. Matanya hidup. Di balik itu, ia memegang kendali atas jaringan buzzer, dari manusia hingga mesin yang tak pernah lelah.
Di sampingnya, Kael melangkah tenang. Ekspresinya datar, hampir tanpa emosi. Dunia digital adalah wilayahnya. Peretasan, manipulasi sistem, hingga rekayasa berbasis AI¾Artificial Intelligence¾berada dalam genggamannya.
Sementara itu, Lyra Veskara berjalan sedikit di belakang. Penampilannya rapi. Di tangannya, realitas bisa diubah menjadi apa pun. Gambar, video, bahkan kebenaran yang tak pernah ada.
Mereka berhenti di depan pintu besar. Tanpa suara, pintu itu terbuka. Di dalamnya, ruangan luas terbentang dalam cahaya temaram. Hanya satu sosok berdiri di sana. Kaelen Viresta, membelakangi mereka. Diam. Menghadap ke sudut gelap ruangan seolah sedang berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat.
“Akhirnya kalian datang,” ucapnya datar, tanpa menoleh. “Aku tidak suka basa-basi. Katakan... apa yang bisa kalian lakukan?”
Hening sesaat. Prakarsa melangkah maju. Suaranya tenang. Penuh kendali.
“Aku membentuk narasi. Mengarahkan cara orang berpikir. Apa pun bisa di-framing sesuai kebutuhan.” ia berhenti sejenak. “Aku memimpin mereka. Semua bergerak di bawah kendaliku.”
Viresta mengangguk kecil. Raven segera menyusul, sedikit gugup. “Aku punya jaringan buzzer... luas. Aktif…”