Langit di atas perbatasan Ordelia tampak kelabu pucat. Kabut tipis menggantung rendah, menyelimuti bekas-bekas luka perang yang belum sepenuhnya kering. Tanah masih berbau mesiu dan darah, sementara pagar kawat berduri berdiri tegak seperti garis batas yang memisahkan dua dunia yang saling membenci.
Di tengah wilayah netral yang baru saja dibersihkan, berdiri sebuah bangunan sementara sederhana. Hanya cukup untuk satu meja panjang, beberapa kursi dan pengawal bersenjata di setiap sudut. Bendera putih berkibar pelan di atas atapnya, seolah berusaha menenangkan sesuatu yang tak pernah benar-benar tenang.
Pagi itu, dua konvoi tiba dari arah berlawanan.
Dari barat, kendaraan hitam milik Sundara berhenti lebih dulu. Pintu terbuka dan seorang pria turun dengan langkah mantap. Jasnya rapi, wajahnya tenang, tapi matanya dingin dan penuh perhitungan.
Zulham. Utusan khusus Presiden Sundara, diplomat tingkat tinggi yang diberi wewenang penuh untuk negosiasi strategis.
Beberapa detik kemudian, konvoi Varendra tiba dari timur. Pintu terbuka dengan keras. Seorang pria bertubuh tegap turun, mantel militernya berkibar ditiup angin dingin.
Tibo Neta. Perwakilan Dewan Keamanan Varendra, bukan diplomat murni, melainkan seorang yang terbiasa berbicara setelah melihat kematian dari jarak dekat.
Keduanya berjalan menuju bangunan yang sama. Langkah mereka mantap, tapi di antara mereka terbentang jurang yang terlalu dalam untuk sekadar dijembatani kata-kata.
Di dalam ruangan, suasana langsung mengeras. Meja panjang memisahkan dua kursi utama. Tidak ada senyum, tidak ada salam. Hanya suara kursi yang ditarik dan napas yang tertahan.
Zulham duduk lebih dulu. Tangan kirinya bertumpu santai di meja, sementara tangan kanannya membuka map tipis berisi dokumen. Matanya tidak langsung menatap lawannya.
Tibo berdiri beberapa saat lebih lama, menatap utusan Sundara dengan sorot tajam, sebelum akhirnya duduk perlahan.
Sunyi. Hanya angin yang sesekali menyusup dari celah pintu.
“Aku kira kalian akan mengirim jenderal,” kata Tibo akhirnya, suaranya berat dan datar. “Atau setidaknya seseorang yang benar-benar mengerti arti perang.”
Zulham tersenyum tipis tanpa mengangkat kepala. “Sundara mengirim orang yang mengerti cara mengakhiri perang.”
Kalimat itu menggantung di udara. Tibo menyandarkan tubuhnya ke kursi, matanya menyipit.
“Menarik,” balasnya pelan. “Karena di Bastiron, kalian sepertinya cukup menikmati memulainya.”
Zulham menutup mapnya perlahan. Kali ini dia mengangkat pandangan. Tatapannya tenang, tapi tajam.
“Perang selalu dimulai oleh mereka yang merasa cukup kuat untuk menantang dan diakhiri oleh mereka yang cukup cerdas untuk berhenti.”