Perang Informasi

Rian Nugraha
Chapter #8

BAB 7 - Buzzer

Pagi menyapa Kota Varentis dengan kelembutan yang jarang terjadi di tengah perang. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan di taman istana, sementara sinar matahari pagi menyusup pelan melalui jendela-jendela tinggi Istana Kepresidenan. Burung-burung berkicau pelan, seolah enggan mengganggu ketenangan sesaat yang tersisa.

Viktor Ravendra berdiri di balkon pribadinya, secangkir kopi hitam hangat di tangan. Angin pagi membawa aroma tanah basah dan daun segar. Dia merasakan ketenangan setelah genjatan senjata disetujui. Seolah perang benar-benar berakhir.

Beberapa menit kemudian, dia membiarkan pikirannya melayang, bukan ke rudal atau tank, melainkan kenangan masa kecil di pinggiran Varentis, ketika perang hanyalah cerita orang tua. Pundaknya yang biasanya tegang sedikit merileks. Di meja kerja di belakangnya, laporan intelijen masih tertumpuk rapi, tapi pagi ini dia memilih menunda semuanya.

Di jalan-jalan ibu kota, pedagang mulai membuka kios mereka. Anak-anak bersepeda sambil tertawa. Seorang ibu menyanyi pelan sambil menyapu teras rumah. Radio-radio rumah tangga menyiarkan lagu-lagu lama yang menenangkan. Semua terasa biasa. Hampir normal. Seolah Bastiron dan Hutan Ordelia hanyalah mimpi buruk yang jauh.

Namun ketenangan itu rapuh.

Di sebuah ruangan gelap di Kota Neurovia, ratusan monitor menyala biru dingin. Prakarsa duduk di kursi utama, jari-jarinya menari di atas keyboard. Di sampingnya, Raven tersenyum tipis sambil memantau dashboard. Kael sudah menekan tombol deploy sejak satu jam lalu. Lyra memeriksa visual-visual deepfake yang sudah siap.

“Gelombang pertama. Mulai,” kata Prakarsa pelan.

***

Pukul tujuh pagi operasi perang informasi dimulai.

Di platform VaraNet dan EchoSphere, media sosial terbesar Varendra, ribuan akun tiba-tiba aktif. Nama-nama generik seperti warga_bastiron87, truthseeker_vrn92, ibu_bastiron dan ratusan variasi lainnya. Beberapa akun baru dibuat dalam 24 jam terakhir. Tidak ada foto profil pribadi, hanya gambar bendera Varendra yang terkoyak atau puing-puing.

Komentar dan postingan menyebar seperti virus.

“Bastiron ditinggalkan begitu saja. Pemerintah tahu serangan akan datang tapi memilih mundur ke Ordelia. Warga kami ditumbalkan demi perang!”

“Anak kecil di Bastiron mati sia-sia. Presiden Viktor Ravendra lebih peduli istana daripada rakyat pinggiran!”

Lihat selengkapnya