Hari keempat setelah serangan buzzer pertama, hujan deras mengguyur Varentis. Jalan-jalan ibu kota basah mengkilap di bawah lampu-lampu neon yang mulai menyala sejak sore. Di sebuah kafe kecil dekat Universitas Nasional Varendra, beberapa mahasiswa dan dosen duduk mengelilingi meja sambil menatap ponsel mereka dengan wajah tegang. Suasana yang biasanya ramai diskusi kini lebih banyak diam dan gumaman.
Di Neurovia, ruangan kendali tim Prakarsa masih terang benderang. Raven Karyastra kini mengambil alih kursi utama. Berbeda dengan gelombang buzzer yang kasar dan massif, kali ini dia bermain lebih halus.
“Kita sudah punya fondasi dari buzzer,” kata Raven sambil menyesuaikan kacamatanya. “Sekarang saatnya memberikan suara intelektual.”
Prakarsa berdiri di belakangnya, tangan di saku. “Buat mereka terlihat manusiawi. Jangan terlalu sempurna.”
***
Di platform VaraNet dan EchoSphere, muncul akun-akun baru yang dengan cepat menarik perhatian.
Prof. Dr. Arjuna Vespian, seorang akademisi senior bidang ilmu politik dan strategi pertahanan. Foto profilnya menggunakan gambar seorang pria berusia 50-an dengan kacamata, rambut beruban rapi dan latar belakang rak buku tebal. Bio-nya tertulis: Pengajar Senior Universitas Nasional Varendra, Analis Geopolitik.
Dr. Laksmi Saradha, intelektual perempuan yang dikenal vokal soal hak sipil dan kesejahteraan rakyat. Foto profilnya elegan, tersenyum tipis dengan latar ruang kerja yang terlihat intelektual. Bio: Doktor Sosiologi, Aktivis Keadilan Sosial.
Kolonel (Purn.) Mahendra Kaelis, mantan perwira militer yang memilih berbicara jujur. Foto profilnya memakai seragam dinas lama dengan medali. Bio: Patriot Varendra, 28 tahun mengabdi.
Ketiganya bukan bot. Mereka dikelola langsung oleh tim Raven secara bergantian, dengan gaya bahasa, waktu posting dan interaksi yang sangat manusiawi. Mereka saling berinteraksi, membalas komentar warga biasa dengan jawaban panjang dan argumentatif, serta saling dukung di kolom komentar tanpa terlihat dipaksakan.
Malam itu, akun Prof. Arjuna Vespian memposting esai panjang pertama: