Perang Informasi

Rian Nugraha
Chapter #13

BAB 12 - Deepfake

Ruangan kendali di gedung Badan Pusat Riset Penelitian Informasi, Neurovia, malam itu terasa seperti sarang laba-laba digital. Lampu utama dimatikan, hanya cahaya biru dingin dari puluhan monitor yang menerangi wajah-wajah tim.

Lyra Veskara duduk di kursi tengah, jari-jarinya menari cepat di atas tiga layar sekaligus. Di sampingnya, Kael memantau algoritma rendering secara real-time, sementara Prakarsa dan Raven berdiri di belakang, mengawasi.

“Ini level yang berbeda,” kata Lyra tanpa mengalihkan pandangan. “Bukan lagi kata-kata atau akun palsu. Kali ini kita ubah realitas itu sendiri.”

Prakarsa mengangguk pelan. “Gunakan rekaman Viktor yang asli sebanyak mungkin. Kita butuh kredibilitas maksimal.”

Prosesnya dimulai. Lyra memasukkan ratusan jam rekaman video Presiden Viktor Ravendra. Pidato resmi, wawancara, rapat tertutup yang bocor melalui Operasi Intelijen.

Algoritma AI yang dikembangkan Kael menganalisis setiap gerakan otot wajah, pola bicara, nada suara, bahkan cara Viktor mengedipkan mata dan gerakan tangannya. Suara dipisahkan, dianalisis fonem per fonem, lalu disintesis ulang.

Dalam waktu kurang dari empat jam, mereka memiliki video yang hampir sempurna.

Video pertama dirilis pukul dua dini hari melalui akun-akun sumber anonim yang sudah mapan.

Video menunjukkan Viktor Ravendra di ruang rapat istana yang familiar. Cahaya lampu putih menyinari wajahnya yang tegang. Dia berbicara dengan nada tegas, hampir marah:

“Kita tidak bisa lagi bersikap lemah. Genjatan senjata dengan Sundara hanyalah jebakan. Aku perintahkan seluruh pasukan untuk meningkatkan kesiagaan maksimal. Jika perlu, kita lakukan serangan pendahuluan di sepanjang perbatasan Ordelia. Rakyat harus mengerti, pengorbanan ini demi masa depan Varendra.”

Video itu terlihat sangat nyata. Gerakan bibir sinkron sempurna, pencahayaan konsisten, bahkan detail keringat kecil di dahi Viktor tampak alami. Hanya orang yang sangat teliti yang mungkin melihat sedikit ketidakwajaran di bayangan leher dan jeda mikroskopis dalam intonasi.

Video kedua lebih menghancurkan. Viktor berbicara di depan kamera dalam suasana pribadi, seolah sedang rapat darurat dengan menteri:

“Soal demonstrasi di Varentis... jangan ragu-ragu. Gunakan kekuatan penuh jika mereka terus mendesak. Kita tidak bisa biarkan kekacauan ini menghancurkan negara. Korban jiwa? Itu harga yang harus dibayar untuk stabilitas.”

Video ketiga, yang paling emosional menunjukkan Viktor menerima tas berisi uang dari seorang pengusaha asing di ruangan gelap, sambil membahas pembagian wilayah Bastiron pasca-konflik.

Lihat selengkapnya