Perang Informasi

Rian Nugraha
Chapter #15

BAB 14 - Potemkin Villages

Hari kesepuluh sejak deepfake Viktor pertama beredar, Varentis masih diliputi ketegangan yang pekat. Demonstrasi terus berlanjut, meski aparat keamanan berusaha membatasi. Di Istana Kepresidenan, Viktor duduk di ujung meja dengan mata yang sudah tak lagi menunjukkan amarah semata, melainkan tekad putus asa untuk bertahan.

“Kita tidak boleh hanya membantah,” katanya dengan suara serak. “Kita harus menunjukkan kepada rakyat bahwa negara ini masih berdiri. Bahwa Bastiron bukan kuburan, Ordelia bukan kekalahan dan pemerintahan ini masih peduli.”

Karvadan mengangguk. “Kita akan buat narasi visual yang kuat. Potemkin Villages modern.”

***

Dua hari kemudian, serangan balik visual Varendra diluncurkan.

Tim komunikasi pemerintah bekerja tanpa henti. Mereka mengirim tim kamera ke lokasi-lokasi strategis. Hasilnya disebar luas melalui VaraNet, EchoSphere dan siaran televisi nasional.

Video pertama menampilkan Rekonstruksi Bastiron. Kamera menyapu jalanan yang sudah dibersihkan, rumah-rumah sementara yang dicat baru, anak-anak tersenyum bermain di taman kecil dan warga yang melambai ke kamera sambil mengatakan, “Kami baik-baik saja. Pemerintah tidak pergi.”

Video kedua menyoroti kamp pengungsi Ordelia. Tenda-tenda rapi berderet, dapur umum yang ramai, dokter yang memeriksa pasien dengan senyum dan truk-truk bantuan yang berdatangan. Seorang ibu pengungsi berkata di depan kamera dengan air mata haru,

“Terima kasih Presiden Viktor. Kami merasa dilindungi.”

Video ketiga bahkan lebih sinematik. Viktor Ravendra sendiri mengunjungi garis depan Ordelia. Dia berjalan di antara prajurit yang tegap, memeriksa peralatan militer yang terlihat modern dan berpidato di depan bendera Varendra yang berkibar.

“Kita tidak terpecah. Kita semakin kuat. Sundara boleh menyerang dengan kebohongan, tapi kita jawab dengan fakta dan ketangguhan.”

Semua video diedit dengan apik. Warna cerah, musik latar yang menggugah dan narasi yang optimis. Media pemerintah menyebutnya sebagai bukti nyata ketahanan Varendra.

Untuk sesaat, strategi itu berhasil.

Di beberapa kota, demonstrasi mereda. Banyak warga yang lelah dengan kekacauan mulai merasa ada harapan. Seorang pedagang di pasar Varentis berkata kepada tetangganya, “Mungkin tidak separah yang dibilang orang. Lihat, ada bantuan yang datang.”

Beberapa ibu di kamp pengungsi yang benar-benar mendapat perhatian ekstra merasa tersentuh.

Lihat selengkapnya