Malam setelah Potemkin Villages dihancurkan, suasana di kedua ibu kota terasa seperti menjelang badai. Di Varentis, lampu-lampu istana menyala terang hingga larut. Di Neurovia, ruang kendali tim Prakarsa juga tidak pernah gelap.
Ini bukan lagi pertempuran narasi biasa. Ini adalah Pertempuran Buzzer. Perang skala besar di medan digital.
Di Neurovia. Layar-layar monitor memenuhi dinding seperti jendela ke medan perang yang tak kasat mata. Ribuan titik merah dan biru berkedip menandakan pergerakan akun.
Prakarsa berdiri di tengah ruangan, lengan bajunya digulung, mata tak lepas dari dashboard utama. Di sampingnya, Raven bergerak cepat seperti konduktor orkestra.
“Gelombang pertama, deploy!” perintah Raven.
Kael menekan tombol. Ratusan ribu akun buzzer Sundara yang sudah terlatih bergerak serentak. Mereka menyerbu komentar di bawah video Potemkin Villages resmi pemerintah Varendra.
“Rekonstruksi palsu! Di belakang kamera cuma puing-puing!”
“Anak kecil di kamp pengungsi itu dipaksa tersenyum. Ini sandiwara!”
Akun-akun palsu (Prof. Arjuna Vespian dkk.) turun dengan analisis panjang yang terdengar ilmiah, membongkar angle kamera, waktu syuting dan perbedaan cuaca di video resmi versus rekaman drone.
Lyra menambahkan visual side-by-side comparison yang tajam dan mudah dipahami.
Di Varentis. Suasana di ruang bawah tanah istana tak kalah tegang. Viktor Ravendra duduk di kursi utama, wajahnya keras. Di depannya, puluhan staf media dan buzzer pemerintah bekerja di meja-meja panjang.
“Balas!” perintah Viktor dengan suara tegas. “Jangan biarkan mereka menguasai narasi.”
Menteri Informasi mengkoordinasikan serangan balik. Buzzer Varendra yang baru direkrut dan dilatih secara darurat mulai bergerak. Mereka membanjiri tagar #KitaBersatu dan #JanganPercayaSundara.
“Semua rekaman drone itu hasil editan Sundara!”