Pagi di Neurovia terasa berbeda. Langit biru cerah, tapi di dalam ruang kendali udara tegang. Deretan monitor menyala terang, masing-masing menampilkan dashboard berbeda. Prakarsa berdiri di tengah ruangan, tangannya berada di belakang punggung, memandang monitor yang menampilkan ribuan logo media Varendra.
“Ini Kartu AS kita,” kata Prakarsa pelan. Suaranya tenang, tapi ada bobot yang berat. “Semua akses admin yang Kael bobol kemarin akan kita gunakan sekarang. Framing total.”
Raven mengangguk dari kursinya. “Semua dokumen sudah siap. Korupsi dana perang, skandal pejabat, transfer uang ke luar negeri, kontrak senjata yang digelembungkan. Kita frame sebagai ‘pengkhianatan elit terhadap rakyat’.”
Kael mengetik cepat tanpa mengangkat kepala. “Dua puluh tiga ribu tujuh ratus media. Siap deploy dalam gelombang bertahap. Akan terlihat organik.”
Lyra memeriksa visual terakhir, dokumen scan yang terlihat asli, grafik sederhana dan kutipan sumber internal yang sudah mereka siapkan.
“Framing-nya sudah diatur. Bukan sekadar fakta mentah. Kita tekankan bagaimana uang rakyat digunakan untuk memperkaya segelintir orang sementara Bastiron dan Ordelia dibiarkan menderita.”
Prakarsa menghela napas pelan, lalu mengangguk. “Mulai.”
Kael menekan tombol utama.
Penyebaran dimulai pukul 07.45 pagi.
Secara serentak, di seluruh Varendra, berita mulai muncul di situs media nasional, portal lokal, aplikasi berita, hingga akun resmi media sosial mereka.
Berita itu tidak muncul sebagai headline utama yang mencolok. Mereka diselipkan dengan cerdas di antara berita sehari-hari, di antara laporan cuaca, berita olahraga dan update rekonstruksi Bastiron.
Di Varendra Daily, sebuah artikel berjudul “Alokasi Dana Perang Tahun Ini: Transparansi yang Dipertanyakan” muncul di halaman kedua. Isinya memuat dokumen internal yang menunjukkan puluhan juta Synar dana pertahanan mengalir ke perusahaan milik kerabat Menteri Keuangan. Angka-angka disajikan dingin, tapi framing-nya tajam.
“Sementara prajurit di Ordelia kekurangan suplai medis, segelintir elite menikmati kemewahan.”
Di Ordelia Post, berita tentang “Skandal Pengadaan Senjata” muncul di feed utama. Foto-foto kontrak yang sudah diedit Lyra menunjukkan mark-up harga hingga 300 persen. Artikel itu diakhiri dengan pertanyaan retoris.
“Apakah darah anak bangsa di Hutan Ordelia dibayar dengan harga semahal ini?”
Radio-radio lokal di kota-kota kecil menyiarkan laporan investigasi yang sama, dengan suara narator yang serius dan latar musik dramatis. Televisi nasional menyisipkan segmen singkat di acara pagi.
“Kita harus bertanya-tanya, ke mana sebenarnya dana perang itu pergi?”
Karena masuk melalui akun admin resmi masing-masing media, pemilik dan redaktur utama baru menyadari berita itu sudah tayang setelah puluhan ribu orang membacanya. Kekacauan pun meledak di ruang redaksi di seluruh Varendra.