Dua minggu setelah gelombang Framing besar-besaran mengguncang Varendra, Presiden Suryan Arka memanggil pertemuan tertutup di ruang bawah tanah Istana Sundapura. Hanya tiga orang yang hadir. Suryan sendiri, Menteri Pertahanan Kaelen Viresta dan Panglima Militer Niskala Cakra.
Suryan berdiri di depan meja proyeksi besar, wajahnya diterangi cahaya biru peta strategis.
“Framing sudah cukup melemahkan mereka dari luar. Sekarang kita serang dari dalam. Lakukan sabotase menyeluruh. Politik, militer dan birokrasi. Aku ingin Varendra lumpuh tanpa kita harus mengirim pasukan besar-besaran.”
Viresta dan Cakra saling melirik sekilas. Mereka mengerti. Ini bukan lagi perang bayangan tim Prakarsa. Ini operasi negara sungguhan.
“Operasi ini akan dijalankan sepenuhnya oleh intelijen militer dan aset khusus,” kata Viresta tegas. “Tim informasi Prakarsa tidak perlu tahu.”
Suryan mengangguk. “Bagus. Biarkan mereka fokus pada narasi. Kita yang akan memastikan narasi itu punya efek nyata.”
***
Operasi Sabotase dimulai secara diam-diam dan berlangsung selama hampir lima minggu.
Ini bukan serangan frontal. Ini adalah ribuan luka kecil yang sengaja dibuat agar terlihat seperti masalah internal Varendra sendiri.
Di ranah politik, Sundara ingin melemahkan legitimasi Viktor.
Intelijen Sundara memanfaatkan celah polarisasi yang sudah diciptakan tim Prakarsa.
Mereka menyuntikkan bocoran baru yang lebih tajam melalui jalur rahasia, bukan melalui buzzer, melainkan melalui kontak elite di Varendra yang sudah dibeli dan diancam.