Perang Informasi

Rian Nugraha
Chapter #20

BAB 19 - Gejolak Varendra

Malam di Varentis terasa berat dan pengap, meski angin dingin dari pegunungan terus bertiup. Lampu-lampu ibu kota masih menyala, tapi cahayanya seolah redup oleh kabut ketegangan yang menyelimuti setiap sudut kota.

Sudah hampir enam minggu sejak operasi sabotase Sundara dimulai dan retakan yang semula kecil kini telah menjadi jurang yang menganga lebar.

Di dalam Istana Kepresidenan, Viktor Ravendra berdiri di balkon lantai dua, tangannya mencengkeram pagar besi dingin. Di bawah sana, lampu jalanan berkelap-kelip, tapi suara kerumunan demonstran di kejauhan semakin jelas terdengar.

Dia merasa ada yang salah. Bukan hanya demonstrasi atau berita korupsi yang terus menerus muncul. Ada pola yang aneh. Keputusan yang seharusnya sederhana menjadi terhambat tanpa alasan jelas.

Pasokan ke garis depan tertunda tanpa penjelasan memuaskan. Data internal yang tiba-tiba tidak sinkron. Pejabat yang dulu setia kini mulai menjaga jarak. Semuanya terasa seperti sebuah orkestra yang sedang dimainkan oleh tangan tak terlihat.

“Tapi siapa?” gumam Viktor sendirian. Angin malam menerbangkan rambutnya yang sudah mulai beruban.

Dia tidak tahu bahwa negara dan pemerintahannya sedang disabotase secara sistematis. Baginya, ini semua terasa seperti konsekuensi dari kesalahan sendiri. Keputusan meninggalkan Bastiron, lambatnya respons terhadap perang informasi dan korupsi yang memang sudah lama menggerogoti birokrasi.

Dampak sabotase mulai terlihat di segala lini.

Di ranah politik, legitimasi Viktor runtuh dengan cepat. Polarisasi yang dipicu framing dan bocoran rekaman membuat elite politik terpecah. Dua menteri senior sudah mengundurkan diri secara terbuka.

Parlemen terbelah menjadi tiga kubu, pendukung Viktor yang semakin menyusut, kelompok netral yang menuntut reformasi dan oposisi radikal yang menyerukan pengunduran diri presiden.

Rapat kabinet yang dulu berlangsung empat jam kini bisa molor hingga dua belas jam hanya karena perdebatan saling tuduh. Keputusan penting tentang anggaran perang tertunda berulang kali. Negara semakin sulit bergerak sebagai satu kesatuan.

Lihat selengkapnya