Satu minggu sebelum penyerangan ke Sundara.
Hujan deras tak henti-hentinya mengguyur wilayah perbatasan sejak sore. Air mengalir deras di lereng-lereng bukit yang curam, membentuk sungai kecil yang berlumpur dan mengancam longsor.
Kabut tebal menyelimuti hutan lebat di zona netral, menyembunyikan segala sesuatu yang tak ingin dilihat dunia. Angin malam membawa bau tanah basah, daun busuk dan sesuatu yang lebih berat. Aroma pengkhianatan.
Di tengah lereng yang tersembunyi, berdiri sebuah vila tua dari era sebelum perpisahan kedua negara. Bangunannya sudah reyot, dinding kayunya lapuk dimakan waktu dan cuaca, atap gentengnya banyak yang hilang.
Dulu tempat ini mungkin milik seorang tuan tanah kaya yang melarikan diri saat Varendra memisahkan diri. Kini, hanya reruntuhan yang tersisa, sempurna untuk pertemuan yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sebuah mobil hitam tanpa plat nomor mendekat pelan melalui jalan tanah yang becek. Lampu depannya dimatikan. Dari dalam mobil keluar Kaelen Viresta, jas hitamnya basah kuyup, tapi langkahnya tetap mantap dan tenang. Dia membawa tas kecil di tangan kanan. Tak ada pengawal. Ini pertemuan yang terlalu sensitif.
Di dalam vila, lentera minyak menyala redup di tengah ruangan utama. Cahayanya bergoyang-goyang ditiup angin yang menyusup lewat celah-celah dinding. Bau kayu lembab dan debu lama memenuhi udara.
Di salah satu kursi reyot, Menteri Keamanan Negara Varendra, Karvadan sudah duduk menunggu. Wajahnya setengah tersembunyi dalam bayangan, tapi garis rahangnya yang tegang terlihat jelas setiap kali kilat menyambar.
Viresta masuk tanpa suara. Dia meletakkan tas di meja, lalu duduk di hadapan Karvadan. Hanya suara hujan deras dan petir sesekali yang menemani mereka.
“Kau terlihat lebih tua dari terakhir kita bertemu, Karvadan,” kata Viresta pelan, suaranya hampir menyatu dengan gemuruh hujan.
Karvadan tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak mencapai matanya. “Enam tahun bermain di dua sisi membuat orang cepat tua, Viresta.”
Viresta mengeluarkan botol kecil kopi khas Sundara dan dua gelas. Dia menuang untuk keduanya. “Minumlah. Malam ini kita bicara panjang.”
Mereka menyesap minuman itu dalam diam beberapa saat. Cahaya lentera memantul di permukaan gelas, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding yang retak.
“Ceritakan dari awal,” pinta Viresta. “Aku ingin mendengarnya lagi. Bagaimana seorang Menteri Keamanan Varendra memutuskan untuk mengkhianati negaranya sendiri.”
Karvadan menatap gelas di tangannya lama. Kilat menyambar di luar, menerangi wajahnya sesaat. Ada keriput baru di sudut matanya, garis-garis yang muncul karena terlalu banyak malam tanpa tidur.
“Semuanya dimulai lima setengah tahun lalu,” katanya pelan. Suaranya rendah, hampir seperti sedang mengaku dosa di ruang pengakuan.
“Saat perjanjian perdagangan energi dengan Sundara. Viktor terlalu keras kepala. Dia ingin Varendra mandiri sepenuhnya, padahal kita tahu ekonomi kita tidak cukup kuat. Aku melihat masa depan yang gelap. Isolasi, kemiskinan dan akhirnya kehancuran. Saat itulah aku menghubungimu.”
Karvadan mengingat malam itu dengan jelas. Dia bertemu dengan perwakilan Viresta di sebuah kapal kargo di perairan netral. Laut malam gelap, hanya diterangi lampu kapal yang redup.