Perang Informasi

Rian Nugraha
Chapter #23

BAB 22 - Serangan Varendra

Malam itu, Istana Kepresidenan di Varentis terasa sangat tegang dan mencekam. Lampu-lampu koridor menyala terang, tapi cahayanya seolah tidak mampu menembus kegelapan yang menyelimuti hati setiap orang yang berada di dalamnya.

Di ruang rapat darurat bawah tanah, udara terasa pengap. Bau kopi pahit, keringat dan ketakutan bercampur menjadi satu.

Viktor Ravendra duduk di ujung meja panjang, wajahnya pucat, mata merah karena kurang tidur. Di depannya terbentang peta digital besar yang menampilkan garis perbatasan, posisi pasukan dan Fort Suryaksa, benteng strategis Sundara yang berbatasan langsung dengan Bastiron. Cahaya biru peta memantul di wajah-wajah tegang para jenderal dan menteri yang hadir.

“Sudah cukup,” kata Viktor dengan suara serak, hampir bergetar karena amarah yang sudah lama terpendam. “Kita sudah terlalu lama bertahan. Mereka meracuni rakyat kita, menyabotase negara kita dari dalam, menghancurkan kepercayaan dan sekarang mereka menertawakan kita. Malam ini, kita akhiri semuanya.”

Dia berdiri tiba-tiba, kedua tangannya bertumpu keras di meja hingga sendi-sendinya memutih.

“Target utama, Fort Suryaksa. Bumi hanguskan semuanya. Rudal hipersonik, rudal jelajah bom konvensional. Semuanya. Jangan pedulikan warga sipil. Negara adidaya itu sudah menginjak-injak kedaulatan kita. Bunuh semuanya. Habisi mereka hingga tak bersisa.”

Ruangan hening sejenak. Beberapa jenderal saling pandang gelisah. Karvadan, yang duduk di sisi kanan Viktor, hanya mengangguk pelan dengan ekspresi serius. Tidak ada yang berani membantah. Amarah Viktor sudah terlalu membara.

“Ratusan rudal,” lanjut Viktor, suaranya semakin rendah dan dingin. “Luncurkan malam ini juga. Aku ingin Fort Suryaksa menjadi lautan api sebelum fajar menyingsing.”

Perintah itu langsung diteruskan. Di ruang komando bawah tanah, jari-jari operator rudal bergetar saat menekan tombol konfirmasi. Alarm sirine peringatan perang berkumandang pelan di seluruh pangkalan peluncuran Varendra.

***

Malam itu, langit Varendra menjadi saksi. Ratusan rudal melesat dari silo-silo tersembunyi. Cahaya ekornya menerangi langit malam seperti ribuan bintang jatuh.

Rudal jelajah meluncur rendah mengikuti kontur tanah, sementara rudal hipersonik melesat dengan kecepatan luar biasa, hampir tak terdeteksi radar hingga detik-detik terakhir.

Di Fort Suryaksa, sirine peringatan meraung keras. Penduduk yang sudah dievakuasi sejak beberapa hari lalu meninggalkan kota dalam keadaan kosong. Hanya pasukan pertahanan kecil yang sengaja ditinggalkan.

Rudal pertama menghantam pusat kota. Ledakan dahsyat mengguncang tanah. Bola api raksasa membumbung tinggi, menerangi malam seperti matahari kedua. Bangunan-bangunan runtuh seperti rumah kartu. Gelombang kejut menyapu jalanan, memecahkan kaca yang tersisa dan meratakan tembok-tembok.

Rudal hipersonik menyusul. Kecepatannya begitu tinggi sehingga suaranya baru terdengar setelah ledakan terjadi. Ketika satu rudal hipersonik menghantam markas komando utama, ledakannya jauh lebih dahsyat. Tanah berguncang hebat hingga puluhan kilometer jauhnya. Awan jamur api dan debu menjulang ke langit. Suhu di pusat ledakan mencapai ribuan derajat, melelehkan baja dan mengubah aspal menjadi lava.

Sepanjang malam, hujan rudal tak kunjung berhenti. Fort Suryaksa berubah menjadi neraka. Asap hitam pekat menutupi langit. Api menjilat bangunan yang tersisa. Ledakan demi ledakan menggema seperti genderang kematian.

Lihat selengkapnya